Tawakal
MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.
Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.
Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.
Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.
Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.
Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.
Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.
Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.
Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.








