Opini

Beranda Opini
Opini

Massage di Bulan Ramadhan: Menjaga Kebugaran Tubuh di Tengah Ibadah Puasa

0

Foto : Dr. Didi Yudha Pranata, M.Pd. Dosen Pendidikan Jasmani/Wakil Direktur I Pascasarjana Universitas Bina Bangsa Getsempena.

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus latihan pengendalian diri. Namun di balik nilai spiritual yang tinggi tersebut, perubahan pola aktivitas, pola makan, dan pola istirahat selama Ramadhan sering kali memengaruhi kondisi fisik seseorang.

Banyak orang tetap menjalankan aktivitas harian seperti bekerja, belajar, maupun berolahraga ringan selama menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kelelahan tubuh, ketegangan otot, bahkan penurunan energi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pemulihan tubuh yang tepat agar kondisi fisik tetap optimal selama bulan Ramadhan. Salah satu metode yang mulai banyak diperhatikan dalam perspektif kesehatan modern adalah terapi massage atau pijat.

Dalam ilmu kesehatan dan olahraga, massage merupakan teknik manipulasi jaringan lunak tubuh seperti otot, tendon, dan ligamen yang bertujuan meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, serta memberikan efek relaksasi pada tubuh. Terapi ini telah lama digunakan sebagai bagian dari proses pemulihan fisik setelah aktivitas olahraga maupun untuk menjaga kebugaran tubuh secara umum.

Selama bulan Ramadhan, massage dapat memberikan sejumlah manfaat penting bagi tubuh. Salah satunya adalah membantu meningkatkan sirkulasi darah. Ketika seseorang menjalani puasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme karena asupan energi hanya diperoleh pada waktu tertentu, yaitu saat sahur dan berbuka. Melalui teknik pijatan yang tepat, aliran darah dapat menjadi lebih lancar sehingga distribusi oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh dapat berlangsung lebih optimal. Hal ini penting untuk membantu proses regenerasi sel serta menjaga fungsi organ tubuh tetap baik.

Selain itu, massage juga efektif dalam mengurangi ketegangan otot dan kelelahan fisik. Aktivitas harian yang tetap berjalan selama Ramadhan sering membuat otot mengalami kekakuan atau kelelahan. Pijatan yang dilakukan secara benar dapat membantu mengurangi penumpukan asam laktat pada otot serta meningkatkan fleksibilitas tubuh. Dalam dunia olahraga, terapi massage bahkan menjadi bagian penting dari strategi pemulihan otot agar kondisi fisik tetap prima.

Manfaat lainnya yang tidak kalah penting adalah efek relaksasi terhadap sistem saraf dan kondisi psikologis seseorang. Puasa sering kali disertai perubahan pola tidur karena adanya aktivitas sahur dan ibadah malam seperti shalat tarawih. Perubahan ini dapat menimbulkan kelelahan mental maupun stres ringan. Massage mampu merangsang sistem saraf parasimpatik yang berperan dalam menciptakan rasa tenang, nyaman, dan rileks. Dengan kondisi psikologis yang lebih stabil, seseorang dapat menjalankan aktivitas sehari-hari serta ibadah dengan lebih fokus dan khusyuk.

Di samping itu, terapi massage juga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selama Ramadhan, pola tidur yang berubah sering membuat sebagian orang mengalami kurang istirahat. Melalui stimulasi pada sistem saraf, massage dapat membantu tubuh memproduksi hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur, sehingga kualitas istirahat menjadi lebih baik. Tidur yang berkualitas tentu sangat penting untuk proses pemulihan tubuh.

Dalam perspektif kebugaran jasmani, massage juga berperan dalam menjaga fleksibilitas otot dan mobilitas sendi. Selama berpuasa, sebagian orang cenderung mengurangi aktivitas fisik karena khawatir mengalami kelelahan. Akibatnya, tubuh menjadi kurang bergerak dan otot dapat menjadi kaku. Melalui teknik manipulasi jaringan lunak, massage membantu meningkatkan elastisitas otot serta memperbaiki rentang gerak sendi sehingga tubuh tetap terasa ringan dan bugar.

Tidak hanya itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa terapi massage berpotensi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Massage dapat membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol serta meningkatkan aktivitas sel imun dalam tubuh. Dengan sistem imun yang lebih baik, tubuh akan lebih mampu menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.

Melihat berbagai manfaat tersebut, massage dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan tubuh selama bulan Ramadhan. Tentu saja, terapi ini perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan, serta sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat, seperti setelah berbuka puasa atau pada malam hari ketika tubuh sudah mendapatkan asupan energi.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian penting dalam menjalankan ibadah dengan optimal. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik, ketenangan pikiran, dan kedekatan spiritual. Dalam konteks ini, terapi massage dapat menjadi salah satu cara yang membantu tubuh tetap sehat, rileks, dan bugar selama menjalani bulan suci Ramadhan.**

10 Hari Terakhir Ramadhan: Momentum Menyatukan Ibadah dan Kesehatan

0

Foto : Dr. Zikrur Rahmat, M.Pd Dosen Pendidika Jasmani/Wakil Direktur II Pascasarjana Universitas Bina Bangsa Getsempena

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan selalu menjadi periode yang paling dinantikan oleh umat Islam. Pada fase ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui berbagai amalan seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan dzikir, hingga melakukan i’tikaf di masjid. Selain diyakini sebagai waktu turunnya malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga menyimpan hikmah besar bagi kesehatan manusia, baik secara fisik maupun mental.

Dalam perspektif ilmu kesehatan modern, praktik ibadah yang dilakukan secara konsisten tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan hidup seseorang. Aktivitas religius yang dilakukan dengan penuh kesadaran mampu memberikan efek ketenangan psikologis, mengurangi stres, serta meningkatkan kebahagiaan individu.

Puasa Ramadhan sendiri telah menjadi objek penelitian ilmiah di berbagai bidang kesehatan. Selama kurang lebih 12 hingga 14 jam tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman. Kondisi ini mendorong tubuh untuk melakukan penyesuaian metabolisme dengan memanfaatkan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen dan lemak. Proses tersebut membantu tubuh menggunakan energi secara lebih efisien serta berkontribusi pada perbaikan metabolisme.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, seperti membantu menurunkan kadar kolesterol, memperbaiki profil lemak dalam darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan kata lain, puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesehatan tubuh.

Salah satu proses biologis penting yang terjadi selama puasa adalah autophagy, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik. Dalam proses ini, tubuh menghancurkan komponen sel yang sudah tidak optimal dan menggantinya dengan sel yang lebih sehat. Mekanisme tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan sel serta membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker, maupun gangguan saraf.

Selain puasa, aktivitas ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan juga melibatkan berbagai gerakan tubuh yang sebenarnya memiliki manfaat bagi kebugaran fisik. Gerakan dalam shalat seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk melibatkan banyak kelompok otot dan sendi dalam tubuh. Rangkaian gerakan tersebut secara tidak langsung berfungsi sebagai aktivitas fisik ringan yang membantu menjaga fleksibilitas otot dan memperlancar peredaran darah.

Gerakan sujud, misalnya, memungkinkan aliran darah menuju otak meningkat sehingga dapat memberikan efek relaksasi pada sistem saraf. Sementara itu, gerakan rukuk membantu meregangkan otot punggung dan menjaga keseimbangan struktur tulang belakang. Jika dilakukan secara rutin, rangkaian gerakan shalat dapat memberikan manfaat yang hampir serupa dengan latihan peregangan ringan atau stretching.

Di samping aktivitas ibadah, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan olahraga ringan secara terencana. Banyak orang beranggapan bahwa olahraga saat berpuasa dapat menyebabkan tubuh menjadi lemas. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang tetap aman dilakukan selama bulan Ramadhan apabila dilakukan pada waktu yang tepat.

Beberapa jenis olahraga yang dianjurkan antara lain jalan santai, jogging ringan, bersepeda, maupun latihan peregangan. Waktu yang paling ideal untuk berolahraga adalah menjelang waktu berbuka puasa atau setelah melaksanakan shalat tarawih. Pada waktu tersebut tubuh memiliki kesempatan untuk segera menggantikan cairan dan energi yang hilang setelah melakukan aktivitas fisik.

Olahraga ringan selama Ramadhan juga membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mempertahankan massa otot. Dengan demikian, puasa tidak menjadi penghalang untuk tetap menjalankan gaya hidup aktif dan sehat.

Selain itu, Ramadhan juga melatih seseorang untuk menjalani pola hidup yang lebih disiplin. Perubahan pola makan yang hanya dilakukan pada waktu sahur dan berbuka puasa membuat seseorang lebih sadar dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi. Jika diimbangi dengan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang, kondisi ini dapat membantu menjaga berat badan serta meningkatkan kesehatan metabolik.

Kebiasaan bangun pada malam hari untuk melaksanakan ibadah juga dapat membantu tubuh menyesuaikan ritme biologisnya. Dengan pengaturan waktu yang baik antara ibadah, istirahat, dan aktivitas fisik, tubuh dapat beradaptasi secara optimal terhadap perubahan pola aktivitas selama bulan Ramadhan.

Pada akhirnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan hanya momentum untuk meningkatkan kedekatan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki kualitas kesehatan secara menyeluruh. Puasa membantu tubuh melakukan proses regenerasi sel dan penyeimbangan metabolisme, sementara ibadah dan aktivitas fisik ringan membantu menjaga kebugaran tubuh.

Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai periode peningkatan ibadah semata, tetapi juga sebagai momentum membangun gaya hidup sehat yang seimbang antara aspek spiritual, fisik, dan mental. Jika dikelola dengan baik, Ramadhan dapat menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan manusia untuk hidup lebih sehat, disiplin, dan penuh makna.**

Anak Desa, Dunia ditaklukkan. Istana memanggilnya.

0

Dari pelosok Aceh yang sunyi, lahir seorang anak kampung yang menembus jantung perbankan dunia. Namanya Adnan Ganto — bukti hidup bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Lahir 4 Februari 1947 dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang prajurit TKR berpangkat kopral. Untuk sekolah, ia menempuh perjalanan jauh dari Lhokseumawe ke Langsa. Jalan panjang. Hidup keras. Tapi semangatnya lebih keras lagi.

Langkahnya tak terhenti di kampung halaman. Ia melesat, menjadi orang Asia pertama yang menduduki posisi strategis di Morgan Bank Ltd., Inggris. Tiga dekade lebih ia berkiprah di pusat-pusat keuangan dunia — Amsterdam, Hong Kong, Singapura, London, hingga New York. Tahun 1987, ia dipercaya sebagai Director Investment Banking di Singapura, lalu Executive Director di New York. Anak desa itu kini duduk di meja pengambil keputusan global.

Namun dunia tak membuatnya lupa tanah air. Sejak 1991, ia mengabdi sebagai penasihat Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Ia juga berperan dalam konversi Bank Aceh menjadi bank syariah — meninggalkan jejak nyata untuk negerinya.

Pada 23 Maret 2021, ia wafat di Jakarta setelah 37 tahun berkarier di bank asing. Tapi kisahnya tak ikut terkubur.

Warisan terbesarnya bukan jabatan. Bukan kursi empuk di pusat finansial dunia.
Melainkan pesan yang menggema:

Dari desa pun, kau bisa mengguncang dunia.

#anakdesa #ceritasukses #orangsukses #adnanganto #orangaceh

Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, “Indahnya Kampus Tanpa Rokok”

0

Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, menghadirkan wajah Kampus yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga sehat secara moral dan sosial melalui komitmennya sebagai kampus tanpa rokok. (foto/dok UBBG)

KAMPUS bukan sekadar kumpulan gedung dan ruang kelas. Ia adalah ruang pembentukan peradaban, tempat nilai, etika, dan kesadaran intelektual ditanamkan.

Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, ACEH menghadirkan wajah kampus yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga sehat secara moral dan sosial melalui komitmennya sebagai kampus tanpa rokok.

Di tengah budaya merokok yang masih mengakar kuat di ruang publik, kehadiran kampus bebas rokok adalah pernyataan sikap, bahwa pendidikan tinggi berpihak pada kesehatan, akal sehat, dan masa depan generasi muda.
Kampus Sehat, Pikiran Pun Jernih

Lingkungan kampus tanpa asap rokok menciptakan ruang belajar yang bersih, nyaman, dan kondusif. Mahasiswa dapat berdiskusi, membaca, dan beraktivitas akademik tanpa gangguan polusi rokok. Dosen dan tenaga kependidikan pun bekerja dalam suasana yang lebih manusiawi dan sehat.

Kampus yang sehat adalah fondasi bagi lahirnya pikiran yang jernih dan ilmu yang berkualitas. Keindahan kampus UBBG tidak hanya terlihat dari tata ruang dan kebersihannya, tetapi juga terasa dalam atmosfernya.

Tidak ada bau asap rokok di sudut-sudut kampus, tidak ada puntung berserakan, dan tidak ada ruang publik yang dikotori kebiasaan merusak kesehatan. Keindahan semacam ini adalah keindahan yang lahir dari kesadaran kolektif, bukan sekadar aturan tertulis.

Pendidikan Karakter dalam Tindakan Nyata
Kampus tanpa rokok bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi bentuk pendidikan karakter yang nyata. Mahasiswa belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama melalui praktik sehari-hari.

Di UBBG, larangan merokok bagi siapa saja yang beradab dalam ruang lingkup kampus bukan bentuk pembatasan kebebasan, melainkan upaya mendidik mahasiswa agar memahami bahwa kebebasan selalu disertai tanggung jawab sosial.

Sejalan dengan nilai Aceh dan spirit keilmuan
Sebagai kampus yang tumbuh di Aceh, UBBG menunjukkan keselarasan antara nilai akademik, kesehatan, dan nilai keislaman.

Menjaga diri dan lingkungan dari hal yang membahayakan adalah bagian dari prinsip menjaga akal dan jiwa nilai fundamental dalam ajaran Islam. Kampus tanpa rokok adalah wujud konkret bahwa ilmu, iman, dan adab dapat berjalan seiring.

Teladan bagi Kampus Lain

Di saat sebagian kampus masih permisif terhadap rokok, UBBG tampil sebagai teladan keberanian moral. Kebijakan ini menunjukkan bahwa kampus mampu memimpin perubahan sosial, bukan sekadar mengikuti kebiasaan yang sudah mapan. Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga laboratorium peradaban.

Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh membuktikan bahwa kampus tanpa rokok bukanlah utopia. Ia nyata, indah, dan bermakna. Keindahan itu tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menjaga kesehatan, menenangkan pikiran, dan mendidik karakter.

Di kampus seperti inilah ilmu tumbuh dengan adab, dan generasi masa depan disiapkan dengan kesadaran. Karena kampus yang bebas asap rokok adalah kampus yang berpihak pada kehidupan.

Kampus Tanpa Rokok, Fondasi Olahraga dan Kesehatan Civitas Akademika

Kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga lingkungan pembentukan gaya hidup sehat. Di kampus, mahasiswa tidak hanya diasah kemampuan berpikirnya, tetapi juga dibentuk kesadarannya tentang pentingnya menjaga kesehatan jasmani sebagai penopang kesehatan mental dan prestasi akademik.

Olahraga dan kesehatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Lingkungan yang bersih dari asap rokok menjadi prasyarat dasar bagi aktivitas fisik yang aman dan nyaman. Kampus tanpa rokok menyediakan ruang yang layak bagi mahasiswa untuk berjalan kaki, berolahraga ringan, maupun mengikuti kegiatan olahraga kampus tanpa harus terpapar polusi udara.

Lingkungan kampus yang bebas asap rokok menciptakan kualitas udara yang lebih baik. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan pernapasan, daya tahan tubuh, serta kebugaran mahasiswa dan dosen. Dalam jangka panjang, kawasan kampus tanpa rokok mendukung terbentuknya budaya hidup aktif dan sehat, sejalan dengan semangat olahraga kesehatan.

Keindahan kampus UBBG tidak hanya terlihat dari tata ruang dan kebersihannya, tetapi juga dari suasana yang mendukung aktivitas fisik.

Tidak adanya asap rokok di area kampus membuat ruang terbuka dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai tempat interaksi sosial dan kegiatan olahraga sederhana yang menyehatkan seperti senam kebugaran jasmani salah satu contohnya.

Apa yang diterapkan Universitas Bina Bangsa Getsempena layak menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain dan ruang publik di Aceh. Kampus seharusnya menjadi pelopor perubahan, termasuk dalam membangun budaya hidup sehat.

Pada akhirnya, kampus yang indah bukan hanya soal bangunan dan fasilitas, tetapi juga tentang udara yang bersih, lingkungan yang nyaman, serta mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kebugaran jasmani. Kampus tanpa rokok adalah bagian dari upaya kecil namun bermakna menuju masa depan yang lebih sehat dan beradab. (tawakal)

Kedamaian Aceh, Hentikan Hasrat Mengulang Konflik!

0

Oleh: Drs. M Isa Alima*

Aceh tidak asing dengan luka. Negeri di ujung barat Indonesia ini pernah berdarah karena kehormatan, berjuang karena harga diri, dan bertahan karena keyakinan.

Tapi yang harus kita pahami bersama: perjuangan yang paling suci adalah ketika kita memilih damai, meski memiliki semua alasan untuk terus marah.

Aceh bukan nama biasa. Ia adalah simbol ketangguhan. Sejak Islam pertama kali berlabuh di Peureulak dan Samudra Pasai, hingga masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, negeri ini telah menorehkan babak penting dalam sejarah Nusantara.

Aceh menjadi tempat ulama dimuliakan, perempuan diberdayakan, dan kemerdekaan diperjuangkan—baik secara spiritual maupun fisik.

Namun sejarah juga mencatat sisi kelam. Penjajahan membawa perlawanan. Perlawanan membawa korban. Dan ketika kemerdekaan tiba, luka baru justru muncul: ketidakadilan, ketimpangan, dan pengabaian. Rakyat Aceh kembali bangkit menuntut hak-haknya. Tapi tuntutan berubah jadi konflik, dan konflik berubah menjadi trauma.

Konflik Bersenjata dan Generasi yang Retak

Selama bertahun-tahun, Aceh menjadi ladang konflik bersenjata. Nyawa hilang, rumah hancur, keluarga terpisah. Anak-anak tumbuh dalam ketakutan.

Malam-malam sunyi dipenuhi suara tembakan, dan pagi hari disambut kabar kematian.

Apa yang tersisa dari masa itu? Luka, trauma, dan generasi yang bertanya: apakah tanah ini milik kami?

Konflik bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga harapan. Dan yang lebih menyedihkan, ada pihak-pihak yang hari ini mencoba menggali kembali lubang lama. Mereka meniupkan api pada bara yang mulai padam. Mereka bicara soal keadilan, tapi sembunyi di balik kepentingan pribadi. Mereka memutar narasi lama, seakan damai adalah kelemahan.

Tsunami: Bencana yang Membawa Kesadaran

Semua berubah pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami datang dan meluluhlantakkan Aceh, bukan hanya rumah yang rata dengan tanah—tapi juga ego, kemarahan, dan dendam. Dalam duka itu, kesadaran bersama lahir: bahwa tidak ada masa depan dalam konflik.

Dan dari puing-puing itulah lahir MoU Helsinki 2005. Sebuah perjanjian damai yang bukan sekadar hitam di atas putih, tapi simbol kesediaan untuk menyudahi pertikaian. Damai itu diperjuangkan. Ia bukan hadiah dari luar, tapi keputusan bersama yang dibangun dari rasa kehilangan, kepedihan, dan harapan.

Damai Bukan Akhir, Tapi Titik Awal

Kini Aceh sudah berdamai. Tapi apakah semua selesai?

Belum. Damai adalah titik awal perjuangan baru: membangun, mendidik, memperkuat ekonomi, merawat budaya, dan membentuk generasi baru yang tidak mewarisi dendam.

Namun di tengah jalan ini, godaan muncul. Ada segelintir pihak yang ingin memanfaatkan ruang kosong. Mereka ingin mengulang cerita lama. Mereka ingin membawa Aceh kembali ke masa konflik, hanya karena kekuasaan, kepentingan, atau nostalgia kelam.

Kepada mereka kami ingin berkata tegas:

Aceh sudah berdamai. Hentikan hasrat mengulang konflik.
Jangan ajari anak-anak kami cara membenci.
Jangan wariskan dendam kepada generasi baru.

Generasi Baru Tidak Perlu Senjata

Anak-anak Aceh hari ini tidak lagi bertanya siapa lawan mereka. Mereka bertanya bagaimana caranya menjadi cerdas.

Mereka ingin belajar, kuliah, menciptakan teknologi, menulis buku, dan membangun negeri. Mereka ingin bangga sebagai orang Aceh yang berkontribusi, bukan sebagai korban masa lalu.

Jangan rusak pikiran mereka dengan cerita heroik yang berlumur darah. Jangan giring mereka masuk ke dalam lubang sejarah yang telah kita tutup dengan susah payah. Generasi baru Aceh tidak butuh senjata. Mereka butuh pengetahuan, lapangan kerja, literasi, internet cepat, dan ruang berekspresi.

Damai Adalah Warisan Paling Bernilai

Aceh hari ini masih jauh dari sempurna. Tapi setidaknya, kami telah mengambil langkah penting: memilih damai.

Ini bukan proses yang mudah. Banyak yang dikorbankan. Tapi damai adalah warisan terbaik yang bisa kami serahkan kepada anak cucu kami.

Kelak ketika mereka membaca sejarah dan bertanya,
“Mengapa dulu kalian bertikai?”
Kami ingin menjawab,
“Agar kalian tidak perlu mengalaminya lagi.”

Dan ketika mereka bertanya,
“Apa yang kalian wariskan pada kami?”
Kami ingin menjawab,
“Kami mewariskan damai. Damai yang tidak mudah. Damai yang diperjuangkan. Tapi damai yang indah.”

Pilihan Kita Hari Ini Menentukan Masa Depan

Aceh tidak boleh kembali mundur. Jangan biarkan narasi dendam mengaburkan cita-cita. Jangan biarkan nostalgia kelam merusak masa depan yang sedang kami bangun dengan susah payah.

Kita sudah terlalu lama menangis. Kini saatnya kita tersenyum.

Aceh sudah berdamai.

Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun mengulang luka itu lagi.

*Penulis adalah Ketua DPD Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh

Definisi Sukses Versi Purbaya : Mati Masuk Surga !

0

Spiritual Motivations MUN-Solutions

Dalam dunia yang dikuasai angka, grafik, dan laporan keuangan, definisi sukses sering kali diukur dengan seberapa tinggi seseorang mampu menaikkan kurva kekayaannya. Banyak yang menganggap sukses berarti memiliki rumah megah, jabatan prestisius, rekening gemuk, atau bahkan pengaruh besar di ruang publik. Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh kompetisi ini, pernyataan dari Menteri Purbaya Yudhi Sadewa mengguncang paradigma banyak orang: “Definisi sukses adalah mati masuk surga.”

Pernyataan ini sederhana, namun sangat dalam secara spiritual dan ilmiah. Ia menembus batas antara ekonomi dan eskatologi, antara dunia yang sementara dan kehidupan yang abadi. Kalimat itu mengandung pesan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang apa yang dicapai di dunia, melainkan tentang apa yang dibawa ke akhirat.

1. Perspektif Spiritual: Sukses yang Melampaui Dunia

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung (sukses).”
(QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menegakan bahwa keberhasilan duniawi hanyalah sementara, sedangkan keberhasilan sejati adalah keselamatan di akhirat. Dalam pandangan Islam, sukses bukan sekadar having more, tetapi being more, menjadi pribadi yang lebih berarti, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian, sukses bukanlah tentang seberapa banyak kita mengambil dari dunia, tetapi seberapa banyak kita memberi kepada dunia dengan niat karena Allah.

2. Perspektif Ilmiah dan Psikologis: Transendensi sebagai Puncak Aktualisasi

Dalam teori psikologi modern, khususnya piramida kebutuhan Abraham Maslow, puncak kebutuhan manusia bukan lagi aktualisasi diri, melainkan transendensi, kebutuhan untuk melampaui diri sendiri dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan atau makna hidup yang luhur.

Maslow pada masa akhir hidupnya menyadari bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar bahagia hanya dengan pencapaian material. Kebutuhan spiritual, rasa makna, dan kontribusi sosial merupakan unsur utama kebahagiaan yang otentik.

Oleh karena itu, ketika Purbaya menyebut “mati masuk surga” sebagai definisi sukses, ia sesungguhnya sedang menegaskan puncak kesadaran transendental, titik tertinggi di mana seseorang menilai hidupnya bukan dari pencapaian finansial, tetapi dari nilai moral, kebermanfaatan, dan keikhlasan amal.

3. Sukses Dunia: Jalan Menuju Akhirat

Islam tidak menolak sukses dunia. Justru, dunia adalah ladang amal. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dunia adalah ladang bagi akhirat.” Artinya, setiap kesuksesan duniawi, kekayaan, ilmu, jabatan, kekuasaan, menjadi bermakna hanya bila digunakan untuk menebar manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang kaya yang dermawan, pejabat yang adil, pengusaha yang amanah, guru yang ikhlas, mereka semua sedang menanam benih sukses akhirat melalui peran duniawi mereka.

Sebagaimana firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan keseimbangan: dunia bukan tujuan, tetapi kendaraan menuju surga.

4. Transformasi Konsep Sukses: Dari Ego ke Makna

Banyak orang sukses secara duniawi, namun hampa secara spiritual. Mereka memiliki segalanya, tapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, banyak orang sederhana yang hidupnya penuh kedamaian karena mereka menemukan makna hidup di jalan kebaikan.

Keberhasilan spiritual menuntut perubahan orientasi dari egoistik menjadi altruistik, dari memiliki menjadi memberi, dan dari menonjolkan diri menjadi menundukkan hati. Di sinilah letak kebijaksanaan sejati seorang pemimpin, seperti pesan Purbaya: “Berbuat baik ke sesama adalah bagian dari sukses itu sendiri.”

5. Kesimpulan: Sukses Sejati Adalah Keselamatan

Definisi sukses versi Purbaya, “mati masuk surga”, seolah mengembalikan kesadaran manusia kepada fitrah penciptaannya: “hidup bukan sekadar untuk berkompetisi, tetapi untuk berkontribusi; bukan sekadar untuk berkuasa, tetapi untuk berbakti.”

Sukses dunia memang sangat penting, tapi ia hanya akan sangat berarti bila menjadi jembatan menuju sukses akhirat. Karena pada akhirnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Maka, definisi sukses sejati bukan sekadar meninggalkan jejak di bumi, tetapi meninggalkan cahaya di langit. Pesan MUN-Solutions:

“Sukses sejati bukan diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari berapa banyak hati yang kita sentuh dan amal yang kita bawa pulang menuju keabadian.”

Fungsi Wartawan Secara Umum Mengumpulkan Data dan Menginformasikan Melalui Media

0

MEDIANAD.COM, SABANG – Fungsi wartawan secara umum adalah untuk mengumpulkan, menulis, dan menyampaikan informasi kepada publik melalui berbagai media seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, dan platform digital. Beberapa fungsi penting wartawan antara lain:

1. Menyampaikan Informasi: Wartawan bertugas untuk menginformasikan peristiwa, kejadian, dan isu yang terjadi di masyarakat kepada publik. Informasi yang disampaikan bisa berupa berita lokal, nasional, maupun internasional.

2. Penyiaran Fakta dan Kebenaran: Wartawan harus memastikan bahwa informasi yang disampaikan akurat dan berdasarkan fakta. Mereka harus memverifikasi sumber informasi dan melakukan riset untuk menghindari penyebaran hoaks atau informasi yang salah.

3. Kontrol Sosial: Wartawan berfungsi sebagai pengawas terhadap berbagai lembaga, termasuk pemerintah, korporasi, dan organisasi lain. Mereka berperan dalam menyoroti ketidakadilan, menyelidiki kasus-kasus korupsi, serta mendesak perubahan melalui pemberitaan.

4. Edukasi Masyarakat: Selain menyampaikan berita, wartawan juga mengedukasi masyarakat dengan memberikan informasi yang bermanfaat, yang dapat membantu pembaca atau pendengar untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

5. Meningkatkan Kesadaran Publik: Wartawan membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu penting, baik itu di bidang politik, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain. Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat lebih paham dan peduli terhadap kondisi di sekitar mereka.

6. Membangun Opini Publik: Melalui analisis, opini, dan artikel mendalam, wartawan juga berperan dalam membentuk dan memengaruhi opini publik tentang suatu isu. Mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda agar masyarakat bisa berpikir kritis.

7. Menjaga Demokrasi: Dalam konteks negara demokratis, wartawan memainkan peran penting dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pemerintah. Mereka bertugas memastikan bahwa masyarakat mendapat akses informasi yang cukup untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan politik.(man).

Dosen Ibarat Lari Maraton

0

Tawakal

MEDIANAD.COM : Dalam dunia akademik, karir seorang dosen adalah perjalanan panjang hingga usia 70 tahun atau lebih, ibarat lari maraton.

Sepanjang perjalanan dalam dunia dosen ini, tantangan tidak hanya datang dari tugas-tugas akademik, tri dharma, tetapi juga dari lingkungan kerja yang bisa dipenuhi dinamika sosial, politik, dan birokrasi yang kadang sangat toksik.

Salah satu ancaman terbesar terhadap produktivitas dan integritas akademik adalah kehadiran dosen dengan sifat Dark Triad (machiavellianism, narsisme, dan psikopatik).

Sifat super toksik ini dapat muncul baik pada dosen baru yang sedang beradaptasi maupun dosen senior, terutama mereka yang menduduki jabatan struktural dan mengalami power syndrome (kondisi ketika seseorang masih membayangkan pencapaiannya pada masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini).

Bila itu dibiarkan, perilaku semacam ini dapat menciptakan lingkungan akademik yang suram, menghambat inovasi, dan merusak nilai-nilai keilmuan.

Machiavellianism
Niccolo Machiavelli dalam bukunya The Prince menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa dipertahankan dengan manipulasi dan penuh intrik. Namun, dalam dunia akademik, sikap ini bisa menghancurkan kolaborasi dan kepercayaan antar-rekan sejawat.

Dosen dengan sifat machiavellianism cenderung memanipulasi keadaan demi kepentingannya sendiri. Mereka mungkin menggunakan cara-cara licik untuk mendapatkan proyek penelitian, hibah, atau pun jabatan akademik.

Narsisme
Narsisme membuat seseorang merasa lebih superior dari orang lain, menganggap dirinya berhak atas perlakuan istimewa, dan sulit menerima kritik. Seorang dosen yang narsistik mungkin enggan berbagi ilmu, merasa paling tahu dalam diskusi akademik dan kebijakan kampus, atau menolak menerima masukan meskipun keliru.

Dalam sejarah, banyak pemimpin besar dengan sifat narsistik seperti Napoleon Bonaparte yang akhirnya gagal karena keangkuhannya. Dalam akademik, narsisme bisa menciptakan lingkungan kerja yang hierarkis dan tidak kondusif bagi inovasi akademik.

Dosen dengan kecenderungan psikopatik tidak peduli pada aturan atau dampak dari tindakan mereka terhadap orang lain. Mereka bisa mengambil keputusan yang merugikan kolega atau mahasiswa tanpa rasa bersalah, bahkan mungkin melakukan tindakan koruptif tanpa takut ketahuan.

Dalam sejarah, beberapa pemimpin tirani seperti Stalin dikenal memiliki karakteristik psikopatik yang membuat mereka kejam dan tidak berperasaan. Dalam dunia akademik, sikap ini bisa menghancurkan solidaritas dan etika keilmuan.

Lalu bagaimana seorang dosen dapat bertahan dalam dunia akademik yang penuh tantangan tanpa harus memiliki sifat Dark Triad?
Seorang dosen harus menjunjung tinggi kejujuran dalam penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Integritas adalah modal utama dalam membangun reputasi akademik yang baik. Jangan tergoda melakukan manipulasi data atau plagiarisme hanya demi produktivitas instan.

Selain itu, dunia akademik bukan kompetisi individu, melainkan perjalanan kolektif. Berkolaborasilah dengan rekan sejawat dan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan kerja yang penuh suportifitas tanpa menyikut teman sejawat demi isi dapur sendiri. Hindari sikap eksklusif dan elitis yang bisa merugikan hubungan profesional.

Jabatan struktural sering kali menjadi medan pertempuran bagi mereka yang memiliki ambisi besar. Sebaiknya, fokuslah pada kontribusi nyata bagi institusi daripada sekadar mengejar kekuasaan atau jabatan. Jika diberikan amanah sebagai pejabat akademik, jalankan dengan tanggung jawab dan harus penuh transparansi.

Di sisi lain, dunia akademik selalu berkembang sesuai era, dan seorang dosen harus terbuka terhadap perubahan serta kritik yang membangun. Jangan merasa diri paling benar atau paling berpengaruh besar.

Sejarah membuktikan bahwa ilmuwan besar seperti Galileo Galilei justru menemukan kebenaran dengan berani mengakui kesalahan dan belajar dari kritik.

Karir akademik adalah maraton, bukan sprint. Keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai jabatan tertentu, melainkan dari dampak jangka panjang yang diberikan kepada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Seorang dosen yang bijak akan lebih fokus pada membangun generasi penerus yang lebih baik daripada sekadar mengejar pengakuan pribadi.

Karena dosen bukan nabi, ia juga bisa punya sifat super toksik. Sifat Dark Triad adalah ancaman nyata dalam dunia akademik, baik bagi individu maupun institusi. Dosen, baik yang baru maupun senior, harus waspada agar tidak terjerumus dalam pola pikir manipulatif, narsistik, atau psikopatik.

Dengan menjaga integritas, membangun hubungan yang sehat, dan fokus pada keberlanjutan, seorang dosen bisa menjalani karir akademik yang panjang, bermakna, dan penuh kontribusi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai moral.

Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value (Janganlah berusaha menjadi orang yang sukses, tetapi berusahalah menjadi orang yang bernilai bagi khalayak ramai)”.

GERHANA BULAN 7–8 SEPTEMBER 2025, “ANTARA FISIKA dan PESAN ILAAHI”

0

Oleh: Khawaled, S.Pd.I

(Pendidik dan pemerhati integrasi sains dan agama)

RAKYAT Indonesia akan disuguhkan fenomena langit yang menakjubkan pada malam Sabtu hingga dini hari Minggu, 7–8 September 2025: Gerhana Bulan Total, atau yang sering disebut Blood Moon. Fenomena ini tidak hanya menggugah dari sisi ilmiah, tetapi juga sarat dengan makna spiritual yang mendalam dalam ajaran Islam.

🌌 Pengantar Fenomena Gerhana
Menurut informasi dari para astronom, gerhana ini akan terlihat jelas dari sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Fase awal penumbra akan dimulai pada pukul 22.26 WIB, dan puncak gerhana total terjadi sekitar pukul 01.11 WIB. Pada puncaknya, Bulan akan tampak berwarna merah gelap akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi.

⚙️ Gerhana Bulan dalam Perspektif Fisika
🔭 Bagaimana Gerhana Terjadi?

Gerhana bulan terjadi saat posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya matahari yang seharusnya menyinari Bulan terhalang oleh Bumi. Ketika Bulan sepenuhnya memasuki bayangan inti (umbra) Bumi, terjadilah gerhana total.

📘 Hukum Fisika yang Relevan:

1. Hukum Gerak Newton (Hukum I, II, III)
Gerhana bulan hanya mungkin terjadi karena posisi Bumi dan Bulan bergerak dalam orbit tertentu secara periodik dan stabil. Hukum Newton menjelaskan bagaimana gravitasi menjaga Bulan tetap mengorbit Bumi dan Bumi mengorbit Matahari.

2. Hukum Gravitasi Universal (Newton)
Gaya tarik-menarik antara Bumi, Bulan, dan Matahari menciptakan sistem keseimbangan yang memungkinkan fenomena seperti gerhana bisa terjadi secara teratur.

3. Hukum Pembiasan dan Hamburan Cahaya (Optika)
Warna merah pada Bulan saat gerhana terjadi karena hamburan Rayleigh: cahaya biru tersebar oleh atmosfer Bumi, sementara cahaya merah diteruskan dan membelok menuju Bulan.

Ini mirip dengan mengapa langit tampak biru di siang hari dan merah saat matahari terbenam.

4. Hukum Kepler tentang Gerak Planet

Gerhana hanya terjadi saat Bulan berada di simpul orbit (node)—titik di mana orbit Bulan memotong ekliptika Bumi. Kepler menjelaskan mengapa hanya pada titik tertentu gerhana bisa terjadi.

Dengan demikian, gerhana adalah bukti nyata bahwa alam semesta tunduk pada hukum fisika yang sangat teratur dan presisi, jauh dari kebetulan.

📖 Makna Gerhana dalam Perspektif Islam

Islam memandang gerhana bukan sebagai pertanda bencana, melainkan sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan.”
(QS. Al-Qiyamah: 8–9)

Ayat ini mengisyaratkan kekuasaan Allah atas peredaran benda langit, dan mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta. Gerhana adalah saat yang tepat untuk memperbanyak zikir, doa, dan muhasabah.

🕌 Shalat Gerhana: Tanda Ketaatan Umat
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa saat terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan). Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah.”

(HR. Bukhari dan Muslim) Shalat gerhana bukan sekadar ibadah sunnah, tapi juga bentuk refleksi ketaatan, menyadari bahwa di balik segala keteraturan alam, ada kehendak Tuhan yang mengatur segalanya.

🧠 Integrasi Sains dan Iman

Gerhana bulan 7–8 September 2025 adalah momentum berharga untuk merefleksikan hubungan antara ilmu pengetahuan dan keimanan. Fisika menjelaskan bagaimana gerhana terjadi—dengan angka, hukum, dan teori. Sementara Al-Qur’an dan hadits mengajarkan mengapa manusia harus merenungi dan mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya.

Di sinilah letak keindahan integrasi antara sains dan agama: keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi dalam memandang semesta.

🎓 Pesan untuk Dunia Pendidikan

Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pada generasi muda bahwa belajar sains bukanlah menjauh dari agama, melainkan bentuk rasa syukur atas kebesaran ciptaan Allah. Pembelajaran tentang gerhana bisa menjadi sarana mengenalkan tata surya, hukum fisika, serta nilai spiritual sekaligus.

🌠 Penutup: Gerhana sebagai Cermin Kehidupan
Gerhana adalah saat di mana terang tertutup sementara, namun bukan hilang. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kegelapan memiliki ujung, dan setiap keteraturan alam adalah tanda cinta Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya.

Mari kita manfaatkan gerhana bulan ini bukan hanya sebagai tontonan langit, tetapi juga sebagai ladang tadabbur, ilmu, dan amal. Karena di balik gelapnya langit malam, tersimpan cahaya ilmu dan hidayah bagi yang mau merenung.

Gerhana Bulan Total – 7–8 September 2025 (malam hari yaitu malam minggu menuju malam senin)

Tanggal: Malam 7 September 2025, berlanjut ke dini hari 8 September 2025 .

Waktu pengamatan di Indonesia (WIB)
Mulai penumbra: sekitar pukul 22.28 WIB .
Mulai sebagian: sekitar 23.27 WIB
Mulai totalitas (gerhana penuh): sekitar 01.11–01.12 WIB
Puncak gerhana: sekitar 01.53 WIB
Akhir totalitas: sekitar 02.33 WIB
Akhir penumbra: sekitar 03.55 WIB .
Durasi totalitas: Sekitar 82 menit (1 jam 22 menit) .
Lokasi pengamatan: Seluruh Indonesia (termasuk Aceh), juga Asia, Australia, Afrika, dan Eropa .
Fenomena terlihat: Di tengah malam, Bulan akan tampak berwarna merah darah (Blood Moon) selama fase totalitas.

Ringkasan Waktu Gerhana Bulan Total 2025 (untuk Indonesia)

Peristiwa Tanggal & Waktu (WIB)
Gerhana Bulan Total Malam 7 September → dini hari 8 September 2025
Mulai penumbra Sekitar 22.28 WIB
Mulai sebagian Sekitar 23.27 WIB
Mulai totalitas Sekitar 01.11 WIB
Puncak gerhana Sekitar 01.53 WIB
Akhir totalitas Sekitar 02.33 WIB
Akhir penumbra Sekitar 03.55 WIB.
(Khawaled, S.Pd.I Pendidik dan pemerhati integrasi sains dan agama)

Gelisah Hati Guru

0

Tawakal

MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.

Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.

Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.

Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.

Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.

Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.

Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.

Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.

Popular Posts

My Favorites

Babinsa Koramil 01/Sukajaya Pantau Harga Ikan di Cot Abeuk, Ajak Pedagang...

0
MEDIANAD.COM, SABANG – Suasana pagi di Gampong Cot Abeuk, Kecamatan Sukajaya, tampak lebih hidup saat para pedagang ikan keliling mulai menawarkan dagangannya kepada warga,...