Opini

Beranda Opini
Opini

Dugaan Pemalsuan dokumen Akademik Jokowi Presiden ke-7, Rismon Sianipar siap Berhadapan Dengan Hukum

0

MEDIANAD.COM – Rismon Sianipar, ahli forensik digital, menegaskan kesiapannya berhadapan dengan hukum setelah melaporkan dugaan pemalsuan dokumen akademik Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dalam diskusi di kanal YouTube Marilok, ia menantang Jokowi membuktikan keaslian ijazah secara terbuka dan siap membawa pertarungan ini ke pengadilan.

Rismon menyoroti laporan laboratorium forensik Bareskrim Polri yang menyimpulkan ijazah Jokowi asli sebagai “prematur dan tidak ilmiah”. Menurutnya, metode yang digunakan—seperti mengandalkan “perabaan tekstur kertas”—tidak memenuhi standar keilmiahan.

“Kalau bicara keaslian, harusnya ada uji paper dating, kromatografi tinta, atau analisis mikroskopis. Ini dokumen 40 tahun, tapi kertasnya masih putih bersih seperti baru. Mana logikanya?” tegas Rismon, merujuk pada lembar pengesahan skripsi Jokowi di UGM.

Ia juga membeberkan kecurigaan manipulasi dalam kasus lain, seperti Jessica Wongso dan Vina Cirebon, di mana ia menduga ada rekayasa bukti digital oleh oknum kepolisian.***

Massage di Bulan Ramadhan: Menjaga Kebugaran Tubuh di Tengah Ibadah Puasa

0

Foto : Dr. Didi Yudha Pranata, M.Pd. Dosen Pendidikan Jasmani/Wakil Direktur I Pascasarjana Universitas Bina Bangsa Getsempena.

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus latihan pengendalian diri. Namun di balik nilai spiritual yang tinggi tersebut, perubahan pola aktivitas, pola makan, dan pola istirahat selama Ramadhan sering kali memengaruhi kondisi fisik seseorang.

Banyak orang tetap menjalankan aktivitas harian seperti bekerja, belajar, maupun berolahraga ringan selama menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kelelahan tubuh, ketegangan otot, bahkan penurunan energi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pemulihan tubuh yang tepat agar kondisi fisik tetap optimal selama bulan Ramadhan. Salah satu metode yang mulai banyak diperhatikan dalam perspektif kesehatan modern adalah terapi massage atau pijat.

Dalam ilmu kesehatan dan olahraga, massage merupakan teknik manipulasi jaringan lunak tubuh seperti otot, tendon, dan ligamen yang bertujuan meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, serta memberikan efek relaksasi pada tubuh. Terapi ini telah lama digunakan sebagai bagian dari proses pemulihan fisik setelah aktivitas olahraga maupun untuk menjaga kebugaran tubuh secara umum.

Selama bulan Ramadhan, massage dapat memberikan sejumlah manfaat penting bagi tubuh. Salah satunya adalah membantu meningkatkan sirkulasi darah. Ketika seseorang menjalani puasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme karena asupan energi hanya diperoleh pada waktu tertentu, yaitu saat sahur dan berbuka. Melalui teknik pijatan yang tepat, aliran darah dapat menjadi lebih lancar sehingga distribusi oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh dapat berlangsung lebih optimal. Hal ini penting untuk membantu proses regenerasi sel serta menjaga fungsi organ tubuh tetap baik.

Selain itu, massage juga efektif dalam mengurangi ketegangan otot dan kelelahan fisik. Aktivitas harian yang tetap berjalan selama Ramadhan sering membuat otot mengalami kekakuan atau kelelahan. Pijatan yang dilakukan secara benar dapat membantu mengurangi penumpukan asam laktat pada otot serta meningkatkan fleksibilitas tubuh. Dalam dunia olahraga, terapi massage bahkan menjadi bagian penting dari strategi pemulihan otot agar kondisi fisik tetap prima.

Manfaat lainnya yang tidak kalah penting adalah efek relaksasi terhadap sistem saraf dan kondisi psikologis seseorang. Puasa sering kali disertai perubahan pola tidur karena adanya aktivitas sahur dan ibadah malam seperti shalat tarawih. Perubahan ini dapat menimbulkan kelelahan mental maupun stres ringan. Massage mampu merangsang sistem saraf parasimpatik yang berperan dalam menciptakan rasa tenang, nyaman, dan rileks. Dengan kondisi psikologis yang lebih stabil, seseorang dapat menjalankan aktivitas sehari-hari serta ibadah dengan lebih fokus dan khusyuk.

Di samping itu, terapi massage juga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selama Ramadhan, pola tidur yang berubah sering membuat sebagian orang mengalami kurang istirahat. Melalui stimulasi pada sistem saraf, massage dapat membantu tubuh memproduksi hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur, sehingga kualitas istirahat menjadi lebih baik. Tidur yang berkualitas tentu sangat penting untuk proses pemulihan tubuh.

Dalam perspektif kebugaran jasmani, massage juga berperan dalam menjaga fleksibilitas otot dan mobilitas sendi. Selama berpuasa, sebagian orang cenderung mengurangi aktivitas fisik karena khawatir mengalami kelelahan. Akibatnya, tubuh menjadi kurang bergerak dan otot dapat menjadi kaku. Melalui teknik manipulasi jaringan lunak, massage membantu meningkatkan elastisitas otot serta memperbaiki rentang gerak sendi sehingga tubuh tetap terasa ringan dan bugar.

Tidak hanya itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa terapi massage berpotensi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Massage dapat membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol serta meningkatkan aktivitas sel imun dalam tubuh. Dengan sistem imun yang lebih baik, tubuh akan lebih mampu menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.

Melihat berbagai manfaat tersebut, massage dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan tubuh selama bulan Ramadhan. Tentu saja, terapi ini perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan, serta sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat, seperti setelah berbuka puasa atau pada malam hari ketika tubuh sudah mendapatkan asupan energi.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian penting dalam menjalankan ibadah dengan optimal. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik, ketenangan pikiran, dan kedekatan spiritual. Dalam konteks ini, terapi massage dapat menjadi salah satu cara yang membantu tubuh tetap sehat, rileks, dan bugar selama menjalani bulan suci Ramadhan.**

Fenomena Peredaran Tramadol dan Stigma Perantau Aceh di Pulau Jawa

0

Ilustrasi

Isu peredaran obat keras jenis tramadol di sejumlah kota di Pulau Jawa kembali mencuat di media sosial baik itu instagram, tiktok, facebook maupun whatsapp. Dalam berbagai pemberitaan, tak jarang muncul narasi yang mengaitkan pelaku dengan identitas tertentu, termasuk perantau asal Aceh. Narasi ini kemudian berkembang liar, membentuk stigma yang berbahaya: seolah-olah ada hubungan langsung antara asal daerah dan praktik ilegal.

Di sinilah masalahnya. Ketika publik terlalu cepat menarik kesimpulan, fakta menjadi kabur, dan keadilan sosial terancam.

Penting untuk ditegaskan sejak awal: kejahatan adalah tindakan individu, bukan identitas kolektif. Menggeneralisasi satu kelompok masyarakat berdasarkan ulah segelintir orang bukan hanya keliru, tetapi juga memperbesar potensi diskriminasi. Dalam konteks negara yang majemuk seperti Indonesia, cara pandang semacam ini adalah kemunduran.

Namun, menolak stigma bukan berarti menutup mata terhadap realitas. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peredaran tramadol ilegal memang terjadi dan melibatkan berbagai pihak. Pertanyaannya bukan “siapa asalnya?”, melainkan “mengapa ini bisa terjadi?”

Jawabannya tidak tunggal.

Pertama, tekanan ekonomi masih menjadi akar klasik. Perantauan ke pulau Jawa sering dilihat sebagai jalan keluar dari keterbatasan ekonomi di daerah. Namun, realitas di kota besar tidak selalu ramah. Minimnya keterampilan, terbatasnya akses pekerjaan formal, dan tingginya biaya hidup menciptakan situasi rentan. Dalam kondisi terdesak, sebagian orang tergoda mengambil jalan pintas, termasuk terlibat dalam perdagangan obat ilegal yang menjanjikan keuntungan cepat.

Kedua, celah pengawasan distribusi obat keras masih terbuka lebar. Tramadol sejatinya merupakan obat medis yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Namun dalam praktiknya, obat ini kerap beredar bebas di pasar gelap. Lemahnya kontrol distribusi, ditambah pengawasan yang tidak konsisten, menjadikan tramadol komoditas yang relatif mudah diakses dan diperjualbelikan dengan bebas seperti tanpa pengawasan dari pihak penegak hukum.

Ketiga, faktor jaringan sosial turut memperkuat fenomena ini. Perantau baru sering kali bergantung pada jaringan yang sudah ada. Ketika jaringan tersebut berada dalam lingkaran aktivitas ilegal, maka risiko untuk ikut terlibat menjadi lebih besar. Ini bukan soal etnis, melainkan soal ekosistem sosial yang terbentuk tanpa pengawasan.

Sayangnya, alih-alih membedah akar persoalan, sebagian publik justru terjebak pada penyederhanaan: mencari “kambing hitam” berbasis identitas. Cara ini mungkin memuaskan emosi sesaat, tetapi sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Pendekatan yang dibutuhkan jauh lebih komprehensif.
Penegakan hukum tetap penting, tetapi tidak cukup. Negara harus memperkuat pengawasan distribusi obat keras dari hulu ke hilir. Di saat yang sama, kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan perlu hadir sebagai solusi nyata bagi kelompok rentan, termasuk para perantau. Edukasi tentang bahaya penyalahgunaan obat juga harus diperluas, terutama di kalangan generasi muda.

Lebih dari itu, masyarakat perlu membangun literasi sosial yang sehat: kemampuan untuk memilah informasi, menolak stigma, dan berpikir kritis terhadap narasi yang berkembang.

Karena pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang Aceh, Jawa, atau daerah mana pun. Ini adalah tentang bagaimana kita sebagai bangsa menghadapi masalah kompleks tanpa kehilangan akal sehat dan rasa keadilan.

Jika kita terus memelihara stigma, maka yang kita bangun bukan solusi—melainkan jurang pemisah yang semakin dalam.**

Gelisah Hati Guru

0

Tawakal

MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.

Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.

Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.

Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.

Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.

Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.

Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.

Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.

Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, ini Jawabnya

0

Femi Otedola

“Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?”

Femi berkata:

“Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati”.

Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana.  Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.

Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.

Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.

Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak. Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.

Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya.

Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang. “Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot”, ujarnya.

“Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya.  Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.

“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: “Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?”

“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya.  Anak ini berkata: “Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’

Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta.***

Kematian Paling Romantis Dalam Perang Aceh

0

Dari sekian banyak pasangan suami istri pemimpin pejuang Aceh, syahidnya Teungku Di Barat dan istrinya merupakan kematian paling romantis, melebihi cerita roman manapun.

Seperti halnya kisah Teungku Di Barat, ia dan istrinya sama-sama menghadapi gempuran dan desingan peluru marsose Belanda. Keduanya bahu membahu dan sama-sama tewas dalam pertempuran, tidak sendiri-sendiri.

Dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh diceritakan, Teungku Di Barat bersama mertuanya Teungku Di Mata le alias Teungku Di Paya Bakong, merupakan ulama pemimpin pejuang Aceh di wilayah Keureuto (Aceh Utara) dan sekitarnya. Keduanya sangat disegani, sering memimpin serangkaian serangan ke bivak dan patroli Belanda.

Untuk menghadapi pasukan teungku di Barat ini, Pemerintah Kolonial Belanda mengerahkan 12 brigade pasukan marsose dari “kolone macan” yang terkenal beringas bin sadis yang dipimpin Kapten W.B.J.A Scheepens dan Kapten H. Christoffel. Teungku Di Barat dan istrinya tewas dalam pertempuran setelah terkena peluru pasukan Letnan Behrens pada tahun 1912.

Tentang bagaimana romantisnya kematian Teungku Di Barat dan istrinya itu, itu juga ditulis HC Zentgraaff dalam buku Atjeh seperti kutipan di bawah ini.

Pantas bagi kalian pujangga agung, salah seorang ulama paling terkenal di daerah Aceh bagian timur laut. Dia dan suaminya, bersama beberapa orang pengikutnya, telah diburu dengan ketat oleh pasukan kita, dalam rangka pengejaran yang tak kenal ampun, di mana para marsose dalam zaman itu mengerti akan rahasianya. Kemudian tibalah adegan terakhir dalam rangkaian tragedi itu. Teungku dan istrinya beserta beberapa orang pengikutnya, terkepung di antara tebing-tebing batu cadas.

Dalam detik saat di mana semua mereka memiliki semangat juang, berdirilah sang istri di samping suaminya. Sebuah peluru mengenai tangan kanan Teungku, ia mencabut rencong di pinggang dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya yang tertembak mengoper senapan yang dipegangnya itu kepada istrinya, yang kini merupakan pelindung, sekaligus berikan pengorbanan terhadap sang suami, berdiri tepat di depan suaminya; suatu ungkapan tauladan nan agung serta cinta bakti yang tinggi.

Demikianlah, wanita itu tegak berdiri di depan suaminya, dan sebuah peluru bersuratan nasib kini meluncur, menembus tubuh wanita itu, kemudian menembus pula tubuh suaminya. Kedua mereka rebahlah dengan seketika, dan tidak lama setelah suaminya tewas, gugur pulalah wanita itu. Akhir hayat yang bagi kedua mereka berarti “syahid”, kiranya telah memberikan rasa kebahagiaan yang tak dapat diduga oleh siapa pun betapa besar artinya.

HC Zentrgraaff seorang wartawan perang Belanda yang pernah terlibat dalam perang Aceh itu, sangat mengagumi kiprah perempuan Aceh dalam peperangan. Orang-orang Aceh, tulis Zentgraaff, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali, untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara para pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa. wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati.

Bahkan, mereka pun melampaui kaum lelaki Aceh yang sudah dikenal bukan sebagai lelaki yang lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka. Mereka memerima hak azasinya di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka di antara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama – sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya, dan dalam tangannya yang mungil itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di Jalan Allah mereka menolak segala macam kompromi …. ”

Kemudian Zentgraaff menulis, “dan adakah bangsa di muka bumi ini yang tidak akan menuliskan kejatuhan tokoh-tokoh heroik tersebut dengan rasa apresiasi yang begitu tinggi dalam buku sejarahnya?”

ujian yang sama juga disampaikan A. Doup dalam buku besar sejarah marsose di Aceh, Gedenkboek van het Korp Marechaussee 1890-1940. Dalam versi bahasa Inggris tertulis:

“Kepahlawaan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya seperti yang diperagakan selama perang Aceh, menimbulkan rasa hormat di pihak marsose, serta kekaguman akan keberanian, kerelaan gugur di medan tempur, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat yang sejati, sementara daya pengamatanya sangat tajam. la mengamat-amati setiap gerak pemimpin brigade dan ia tahu benar yang mana melakukan patroli dengan ceroboh, serta yang mana pula yang siap siaga dan berbaris teratur.”

 

Copy & edited dari @Aris faisal djamil

Anak Desa, Dunia ditaklukkan. Istana memanggilnya.

0

Dari pelosok Aceh yang sunyi, lahir seorang anak kampung yang menembus jantung perbankan dunia. Namanya Adnan Ganto — bukti hidup bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Lahir 4 Februari 1947 dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang prajurit TKR berpangkat kopral. Untuk sekolah, ia menempuh perjalanan jauh dari Lhokseumawe ke Langsa. Jalan panjang. Hidup keras. Tapi semangatnya lebih keras lagi.

Langkahnya tak terhenti di kampung halaman. Ia melesat, menjadi orang Asia pertama yang menduduki posisi strategis di Morgan Bank Ltd., Inggris. Tiga dekade lebih ia berkiprah di pusat-pusat keuangan dunia — Amsterdam, Hong Kong, Singapura, London, hingga New York. Tahun 1987, ia dipercaya sebagai Director Investment Banking di Singapura, lalu Executive Director di New York. Anak desa itu kini duduk di meja pengambil keputusan global.

Namun dunia tak membuatnya lupa tanah air. Sejak 1991, ia mengabdi sebagai penasihat Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Ia juga berperan dalam konversi Bank Aceh menjadi bank syariah — meninggalkan jejak nyata untuk negerinya.

Pada 23 Maret 2021, ia wafat di Jakarta setelah 37 tahun berkarier di bank asing. Tapi kisahnya tak ikut terkubur.

Warisan terbesarnya bukan jabatan. Bukan kursi empuk di pusat finansial dunia.
Melainkan pesan yang menggema:

Dari desa pun, kau bisa mengguncang dunia.

#anakdesa #ceritasukses #orangsukses #adnanganto #orangaceh

Dosen Ibarat Lari Maraton

0

Tawakal

MEDIANAD.COM : Dalam dunia akademik, karir seorang dosen adalah perjalanan panjang hingga usia 70 tahun atau lebih, ibarat lari maraton.

Sepanjang perjalanan dalam dunia dosen ini, tantangan tidak hanya datang dari tugas-tugas akademik, tri dharma, tetapi juga dari lingkungan kerja yang bisa dipenuhi dinamika sosial, politik, dan birokrasi yang kadang sangat toksik.

Salah satu ancaman terbesar terhadap produktivitas dan integritas akademik adalah kehadiran dosen dengan sifat Dark Triad (machiavellianism, narsisme, dan psikopatik).

Sifat super toksik ini dapat muncul baik pada dosen baru yang sedang beradaptasi maupun dosen senior, terutama mereka yang menduduki jabatan struktural dan mengalami power syndrome (kondisi ketika seseorang masih membayangkan pencapaiannya pada masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini).

Bila itu dibiarkan, perilaku semacam ini dapat menciptakan lingkungan akademik yang suram, menghambat inovasi, dan merusak nilai-nilai keilmuan.

Machiavellianism
Niccolo Machiavelli dalam bukunya The Prince menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa dipertahankan dengan manipulasi dan penuh intrik. Namun, dalam dunia akademik, sikap ini bisa menghancurkan kolaborasi dan kepercayaan antar-rekan sejawat.

Dosen dengan sifat machiavellianism cenderung memanipulasi keadaan demi kepentingannya sendiri. Mereka mungkin menggunakan cara-cara licik untuk mendapatkan proyek penelitian, hibah, atau pun jabatan akademik.

Narsisme
Narsisme membuat seseorang merasa lebih superior dari orang lain, menganggap dirinya berhak atas perlakuan istimewa, dan sulit menerima kritik. Seorang dosen yang narsistik mungkin enggan berbagi ilmu, merasa paling tahu dalam diskusi akademik dan kebijakan kampus, atau menolak menerima masukan meskipun keliru.

Dalam sejarah, banyak pemimpin besar dengan sifat narsistik seperti Napoleon Bonaparte yang akhirnya gagal karena keangkuhannya. Dalam akademik, narsisme bisa menciptakan lingkungan kerja yang hierarkis dan tidak kondusif bagi inovasi akademik.

Dosen dengan kecenderungan psikopatik tidak peduli pada aturan atau dampak dari tindakan mereka terhadap orang lain. Mereka bisa mengambil keputusan yang merugikan kolega atau mahasiswa tanpa rasa bersalah, bahkan mungkin melakukan tindakan koruptif tanpa takut ketahuan.

Dalam sejarah, beberapa pemimpin tirani seperti Stalin dikenal memiliki karakteristik psikopatik yang membuat mereka kejam dan tidak berperasaan. Dalam dunia akademik, sikap ini bisa menghancurkan solidaritas dan etika keilmuan.

Lalu bagaimana seorang dosen dapat bertahan dalam dunia akademik yang penuh tantangan tanpa harus memiliki sifat Dark Triad?
Seorang dosen harus menjunjung tinggi kejujuran dalam penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Integritas adalah modal utama dalam membangun reputasi akademik yang baik. Jangan tergoda melakukan manipulasi data atau plagiarisme hanya demi produktivitas instan.

Selain itu, dunia akademik bukan kompetisi individu, melainkan perjalanan kolektif. Berkolaborasilah dengan rekan sejawat dan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan kerja yang penuh suportifitas tanpa menyikut teman sejawat demi isi dapur sendiri. Hindari sikap eksklusif dan elitis yang bisa merugikan hubungan profesional.

Jabatan struktural sering kali menjadi medan pertempuran bagi mereka yang memiliki ambisi besar. Sebaiknya, fokuslah pada kontribusi nyata bagi institusi daripada sekadar mengejar kekuasaan atau jabatan. Jika diberikan amanah sebagai pejabat akademik, jalankan dengan tanggung jawab dan harus penuh transparansi.

Di sisi lain, dunia akademik selalu berkembang sesuai era, dan seorang dosen harus terbuka terhadap perubahan serta kritik yang membangun. Jangan merasa diri paling benar atau paling berpengaruh besar.

Sejarah membuktikan bahwa ilmuwan besar seperti Galileo Galilei justru menemukan kebenaran dengan berani mengakui kesalahan dan belajar dari kritik.

Karir akademik adalah maraton, bukan sprint. Keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai jabatan tertentu, melainkan dari dampak jangka panjang yang diberikan kepada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Seorang dosen yang bijak akan lebih fokus pada membangun generasi penerus yang lebih baik daripada sekadar mengejar pengakuan pribadi.

Karena dosen bukan nabi, ia juga bisa punya sifat super toksik. Sifat Dark Triad adalah ancaman nyata dalam dunia akademik, baik bagi individu maupun institusi. Dosen, baik yang baru maupun senior, harus waspada agar tidak terjerumus dalam pola pikir manipulatif, narsistik, atau psikopatik.

Dengan menjaga integritas, membangun hubungan yang sehat, dan fokus pada keberlanjutan, seorang dosen bisa menjalani karir akademik yang panjang, bermakna, dan penuh kontribusi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai moral.

Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value (Janganlah berusaha menjadi orang yang sukses, tetapi berusahalah menjadi orang yang bernilai bagi khalayak ramai)”.

Kedamaian Aceh, Hentikan Hasrat Mengulang Konflik!

0

Oleh: Drs. M Isa Alima*

Aceh tidak asing dengan luka. Negeri di ujung barat Indonesia ini pernah berdarah karena kehormatan, berjuang karena harga diri, dan bertahan karena keyakinan.

Tapi yang harus kita pahami bersama: perjuangan yang paling suci adalah ketika kita memilih damai, meski memiliki semua alasan untuk terus marah.

Aceh bukan nama biasa. Ia adalah simbol ketangguhan. Sejak Islam pertama kali berlabuh di Peureulak dan Samudra Pasai, hingga masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, negeri ini telah menorehkan babak penting dalam sejarah Nusantara.

Aceh menjadi tempat ulama dimuliakan, perempuan diberdayakan, dan kemerdekaan diperjuangkan—baik secara spiritual maupun fisik.

Namun sejarah juga mencatat sisi kelam. Penjajahan membawa perlawanan. Perlawanan membawa korban. Dan ketika kemerdekaan tiba, luka baru justru muncul: ketidakadilan, ketimpangan, dan pengabaian. Rakyat Aceh kembali bangkit menuntut hak-haknya. Tapi tuntutan berubah jadi konflik, dan konflik berubah menjadi trauma.

Konflik Bersenjata dan Generasi yang Retak

Selama bertahun-tahun, Aceh menjadi ladang konflik bersenjata. Nyawa hilang, rumah hancur, keluarga terpisah. Anak-anak tumbuh dalam ketakutan.

Malam-malam sunyi dipenuhi suara tembakan, dan pagi hari disambut kabar kematian.

Apa yang tersisa dari masa itu? Luka, trauma, dan generasi yang bertanya: apakah tanah ini milik kami?

Konflik bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga harapan. Dan yang lebih menyedihkan, ada pihak-pihak yang hari ini mencoba menggali kembali lubang lama. Mereka meniupkan api pada bara yang mulai padam. Mereka bicara soal keadilan, tapi sembunyi di balik kepentingan pribadi. Mereka memutar narasi lama, seakan damai adalah kelemahan.

Tsunami: Bencana yang Membawa Kesadaran

Semua berubah pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami datang dan meluluhlantakkan Aceh, bukan hanya rumah yang rata dengan tanah—tapi juga ego, kemarahan, dan dendam. Dalam duka itu, kesadaran bersama lahir: bahwa tidak ada masa depan dalam konflik.

Dan dari puing-puing itulah lahir MoU Helsinki 2005. Sebuah perjanjian damai yang bukan sekadar hitam di atas putih, tapi simbol kesediaan untuk menyudahi pertikaian. Damai itu diperjuangkan. Ia bukan hadiah dari luar, tapi keputusan bersama yang dibangun dari rasa kehilangan, kepedihan, dan harapan.

Damai Bukan Akhir, Tapi Titik Awal

Kini Aceh sudah berdamai. Tapi apakah semua selesai?

Belum. Damai adalah titik awal perjuangan baru: membangun, mendidik, memperkuat ekonomi, merawat budaya, dan membentuk generasi baru yang tidak mewarisi dendam.

Namun di tengah jalan ini, godaan muncul. Ada segelintir pihak yang ingin memanfaatkan ruang kosong. Mereka ingin mengulang cerita lama. Mereka ingin membawa Aceh kembali ke masa konflik, hanya karena kekuasaan, kepentingan, atau nostalgia kelam.

Kepada mereka kami ingin berkata tegas:

Aceh sudah berdamai. Hentikan hasrat mengulang konflik.
Jangan ajari anak-anak kami cara membenci.
Jangan wariskan dendam kepada generasi baru.

Generasi Baru Tidak Perlu Senjata

Anak-anak Aceh hari ini tidak lagi bertanya siapa lawan mereka. Mereka bertanya bagaimana caranya menjadi cerdas.

Mereka ingin belajar, kuliah, menciptakan teknologi, menulis buku, dan membangun negeri. Mereka ingin bangga sebagai orang Aceh yang berkontribusi, bukan sebagai korban masa lalu.

Jangan rusak pikiran mereka dengan cerita heroik yang berlumur darah. Jangan giring mereka masuk ke dalam lubang sejarah yang telah kita tutup dengan susah payah. Generasi baru Aceh tidak butuh senjata. Mereka butuh pengetahuan, lapangan kerja, literasi, internet cepat, dan ruang berekspresi.

Damai Adalah Warisan Paling Bernilai

Aceh hari ini masih jauh dari sempurna. Tapi setidaknya, kami telah mengambil langkah penting: memilih damai.

Ini bukan proses yang mudah. Banyak yang dikorbankan. Tapi damai adalah warisan terbaik yang bisa kami serahkan kepada anak cucu kami.

Kelak ketika mereka membaca sejarah dan bertanya,
“Mengapa dulu kalian bertikai?”
Kami ingin menjawab,
“Agar kalian tidak perlu mengalaminya lagi.”

Dan ketika mereka bertanya,
“Apa yang kalian wariskan pada kami?”
Kami ingin menjawab,
“Kami mewariskan damai. Damai yang tidak mudah. Damai yang diperjuangkan. Tapi damai yang indah.”

Pilihan Kita Hari Ini Menentukan Masa Depan

Aceh tidak boleh kembali mundur. Jangan biarkan narasi dendam mengaburkan cita-cita. Jangan biarkan nostalgia kelam merusak masa depan yang sedang kami bangun dengan susah payah.

Kita sudah terlalu lama menangis. Kini saatnya kita tersenyum.

Aceh sudah berdamai.

Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun mengulang luka itu lagi.

*Penulis adalah Ketua DPD Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh

SEJARAH   TERBENTUKNYA   KERAJAAN ACEH

0

Sebelum berdirinya KERAJAAN ACEH, di Aceh Besar dan Banda Aceh terdapat 5 Kerajaan Hindu yaitu : 1. Indra Jaya di Lhoek Seudu. 2. Indra Purwa di Ujong Pancu.3. Indra Patra di Ladong. 4. Indrapuri di Indrapuri. 5. Indra Purba di Lamreh- Krueng Raya.

Pada pertengahan Abad ke 11 M (1059 M) Kerajaan  Hindu Indra Jaya diserang armada angkatan laut Tiongkok/China yang dipimpin oleh LIANG KHIE dan puterinya NIAN NIO. Indra Jaya dapat ditaklukkan dan LIANG KHIE mengangkat dirinya sebagai Raja dan merubah nama Kerajaan Indra Jaya menjadi KERAJAAN SEUDU dan memindahkan pusat kerajaan dari Lhok Seudu ke PANTON BIE. cita2nya ingin menaklukkan seluruh Kerajaan Hindu di Aceh. Karena sudah tua/uzur ia digantikan oleh puterinya MAHARANI NIAN NIO.dan cita2nya dilanjutkan oleh puterinya.

Maharani Nian Nio pertama menyerang Indra Purwa.setelah ditaklukkan ia membuat benteng pertahanan di Lingke di belakang Kantor POLDA ACEH sekarang. Setelah benteng selesai diberi nama ayahnya yaitu BENTENG LIANG KHIE. Lama kelamaan LIANG KHIE disebut LINGKE oleh penduduk setempat.dari sinilah asal nama GAMPONG  LINGKE.

Setelah penyerangan dan penaklukan Kerajaan Indra Jaya oleh Liang Khie banyak rakyat Indra Jaya meninggalkan negerinya dan pergi menuju ke Kerajaan Indra Purba/Lamuri   yang rajanya bernama INDRA SAKTI. demikian pula pada masa pemerintahan Maharani Nian Nio  rakyat dipaksa memeluk Agama Budha dan dikenakan pajak tinggi sehingga rakyat pindah kenegeri lain.kemudian dari rakyat Indra Jaya inilah Raja Indra Sakti mengetahui ada pasukan China/Tiongkok. Lalu Raja Indra Sakti mengirim utusan ke Kerajaan Islam Peureulak di Bandar Khalifah untuk meminta bantuan milter dalam rangka menghadapi serangan pasukan China  bila sewaktu-waktu menyerang Kerajaan Indra Purba.

ABDULLAH KAN’AN atau SHEIKH HUDAN berasal dari Kan’an Pakestina. Sheikh tersebut tiba di Bandar Khalifah pada pertengahan Abad ke 12 M. Semasa berada di Bandar Khalifah menyarankan kepada Sultan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam. Sarannya disetujui oleh Sultan maka dibangunlah ZAWIYAH COT KALA yang berlokasi di Bayeun-Aceh Timur dan tidak begitu jauh dari Bandar Khalifah (Peureulak). Zawiyah Cot Kala merupakan perguruan tinggi Islam pertama di Asia Tenggara.di Zawiyah Cot Kala inilah MEURAH JOHAN. Sunan Bonang. Sunan Giri mempelajari ilmu Agama Islam dan Ilmu-ilmu lainnya seperti Ilmu Penerintahan. Bela Diri dll. Guru2  di Zawiyah tersebut diantaranya adalah Abdullah Kan’an. Maulana Ishak ayahnya Sunan Giri dan Ulama2 lainnya. Alumni2 Zawiyah Cot kala menyebarkan Agama Islam ke seluruh ASIA TENGGARA.

MEURAH JOHAN adalah anak Sultan LINGE yang bernama Sultan ADI GENALI yang juga merupakan seorang Ulama yang terkenal dengan panggilan Teungku Chik Kawe Teupat. Sultan mengajarkan Ilmu Agama Islam kepada anaknya. Selain itu juga Meurah Johan belajar Ilmu Agama kepada Teungku Chik Serule. Setelah dewasa kedua guru agamanya sepakat untuk mengirim dan menyekolahkan Meurah Johan ke Zawiyah Cot Kala dan dibimbing serta diajari lansung oleh Sheikh Abdullah Kan’an dan guru-guru lainnya.

Pada Tahun 1180 M Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Johan Syah (Sultan Peureulak) mengutus delegasi sebanyak 600 personil PAI (Tentara) ke Kerajaan Hindu INDRA PURBA di Aceh Besar. Pengiriman delegasi ini untuk memenuhi permohonan bantuan Raja INDRA SAKTI dari Kerajaan Indra Purba. Delegasi dipimpin oleh Sheikh Abdulah Kan’an sebagai Ketua dan muridnya Meurah Johan sebagai Wakil untuk memimpin rombongan delegasi tersebut. Delegasi tersebut terdiri dari 500  orang PAI Kerajaan Islam Peureulak dan 100 orang dari Kerajaan LINGE.

Setiba di Kerajaan Hindu Indra Purba atau Kerajaan LAMURI.  Sheikh Abdullah Kan’an. Meurah Johan dan rombongan melatih tentara Kerajaan Indra Purba dalam bidang militer dan strategi perang dan juga mengajarkan bercocok tanam kebutuhan pokok seperti menanam padi dan lain2 sebagai persiapan logistik Kerajaan bila terjadi serangan dari bala tentara Maharani Nian Nio. Bimbingan bercocok tanam diikuti juga oleh masyarakat setempat. Selain itu Sheikh Abdullah Kan’an atau Sheikh Hudan juga memperkenalkan Budidaya TANAMAN LADA yang kelak dimasa mendatang menjadi tanaman primadona dan diminati oleh bangsa2 Eropah.atas jasanya tersebut Sheikh Abdullah Kan’an diberi Gelar Bapak LADA ACEH oleh masyarakat Aceh saat ini.

Masyarakat setempat memperhatikan dan melihat delegasi dari Kerajaan Islam Peureulak dan Kerajaan Linge mempunyai tingkah laku.sifat dan tatakrama yang sopan dan sangat ramah sehingga masyarakat setempat tertarik dan akhirnya memeluk Agama Islam.

Diperkirakan akhir Abad ke 12 M terjadi serangan besar2an tentara Tiongkok/China yang dipimpin lansung oleh Maharani Nian Nio  dan dihadang dan dilawan oleh tentara koalisi Kerajaan Hindu Indra Purba. Kerajaan Hindu Indra Patra. Kerajaan Islam Peureulak dan karajaan Linge dibawah pimpinan Sheikh Abdullah Kan’an dan muridnya Meurah Johan. Pertempuran dahsyat dan sengit terjadi di sepanjang pantai Alue Naga sampai dengan Krueng Raya. Akhirnya pertempuran tersebut dimenangkan oleh tentara Koalisi.

Setelah kemenangan tersebut Raja INDRA SAKTI dan Keluarga memeluk Agama Islam dan kemudian diikuti pula oleh rakyatnya. Kemudian Raja Indra Sakti menikahkan anaknya PUTROE BLIENG INDRA KESUMA dengan Panglima perang yang cerdas dan gagah perkasa MEURAH JOHAN. Kemudian diketahui pula oleh Syeikh Abdullah Kan’an bahwa Maharani Nian Nio juga jatuh cinta kepada Meurah Johan. Lalu Sheikh Abdullah Kan’an mengambil inisiatif untuk melobi Raja Indra Sakti dan keluarga terutama Putroe Blieng Indra Kesuma perihal jatuh cintanya Maharani Nian Nio kepada Meurah Johan yang merupakan suami Putroe Blieng Indra Kesuma yang baru saja menikah. Dengan keahlian dan kepiawian Sheikh Abdullah Kan’an menjelaskan tentang manfaat jangka panjang bila pernikahan kedua Meurah Johan dengan Maharani Nian Nio.maka Raja Indra Sakti dan keluarga terutama Putroe Blieng Indra Kesuma dapat menyetujuinya. Akhirnya Maharani Nian Nio menikah dengan Meurah Johan dan memeluk Agama Islam bersama seluruh petinggi dan tentaranya. serta rakyat Kerajaan SEUDU atau Indra Jaya seluruhnya.

Pada tanggal 22 April 1205 M di Benteng Liang Khie dilakukan perayaan kemenangan dan sekaligus Pengumuman berdirinya KERAJAAN ACEH yang wilayahnya terdiri dari wilayah Kerajaann Indra Jaya. Indra Purwa. Indra Patra. Indra Purba dan Indra Puri. Acara perayaan kemenangan dan pengumuman berdirinya Kerajaan Aceh dihadiri oleh Kerajaan Samudra Pasai. Linge. Jaya dan Pedir (Pidie) dll. Tanggal berdirinya Kerajaan Aceh 22 April 1205 M dihitung mulainya berdirinya Kota Banda Aceh dan sekarang diperingati setiap tahunnya oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Banda Aceh.

Selain itu tanggal 22 April 1205 M juga merupakan tanggal pengangkatan dan penetapan MEURAH JOHAN sebagai Sultan pertama Kerajaan Aceh dengan gelar SULTAN ALAIDIN JOHAN SYAH dan penetapan SHEIKH ABDULLAH KAN’AN sebagai Kadhi Malikul Adhil pertama Kerajaan Aceh.

Setelah berakhir masa jabatannya. Sheikh Abdullah Kan’an dan keluarga tinggal  di Gampong ( Desa) LAMPEUNEUEN Kabupaten Aceh Besar dengan kegiatan sehari2 mengajar masyarakat setempat tentang Ilmu Agama Islam sehingga beliau digelar pula oleh masyarakat Aceh dengan gelar TEUNGKU CHIK LAMPEUNEUEN. Sheikh Abdullah Kan’an berpulang kerahmatullah dan dimakamkan bersama anggota keluarganya di  Gampong Lampeuneuen Kabupaten Aceh Besar.

Apakah saudara-saudara pernah menziarahi makam SHEIKH ABDULLAH KAN’AN yang dimakamkan di Gampong Lampeuneuen Aceh Besar yang telah berjasa mendirikan Kerajaan Aceh dan meng Islam kan masyarakat Aceh Besar  Banda Aceh dan sekitarnya  ?. (NE. Banda Aceh. 31 Desember 2024 M).

Popular Posts

My Favorites

Babinsa Kuta Timur Jenguk Warga Sakit, Wujud Kepedulian TNI di Tengah...

0
MEDIANAD.COM, SABANG – Wujud nyata kepedulian terhadap warga binaan kembali ditunjukkan oleh aparat teritorial. Babinsa 06 Gampong Kuta Timur, Koramil 02/Sukakarya Kodim 0112/Sabang melaksanakan...