Opini

Beranda Opini
Opini

Kedamaian Aceh, Hentikan Hasrat Mengulang Konflik!

0

Oleh: Drs. M Isa Alima*

Aceh tidak asing dengan luka. Negeri di ujung barat Indonesia ini pernah berdarah karena kehormatan, berjuang karena harga diri, dan bertahan karena keyakinan.

Tapi yang harus kita pahami bersama: perjuangan yang paling suci adalah ketika kita memilih damai, meski memiliki semua alasan untuk terus marah.

Aceh bukan nama biasa. Ia adalah simbol ketangguhan. Sejak Islam pertama kali berlabuh di Peureulak dan Samudra Pasai, hingga masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, negeri ini telah menorehkan babak penting dalam sejarah Nusantara.

Aceh menjadi tempat ulama dimuliakan, perempuan diberdayakan, dan kemerdekaan diperjuangkan—baik secara spiritual maupun fisik.

Namun sejarah juga mencatat sisi kelam. Penjajahan membawa perlawanan. Perlawanan membawa korban. Dan ketika kemerdekaan tiba, luka baru justru muncul: ketidakadilan, ketimpangan, dan pengabaian. Rakyat Aceh kembali bangkit menuntut hak-haknya. Tapi tuntutan berubah jadi konflik, dan konflik berubah menjadi trauma.

Konflik Bersenjata dan Generasi yang Retak

Selama bertahun-tahun, Aceh menjadi ladang konflik bersenjata. Nyawa hilang, rumah hancur, keluarga terpisah. Anak-anak tumbuh dalam ketakutan.

Malam-malam sunyi dipenuhi suara tembakan, dan pagi hari disambut kabar kematian.

Apa yang tersisa dari masa itu? Luka, trauma, dan generasi yang bertanya: apakah tanah ini milik kami?

Konflik bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga harapan. Dan yang lebih menyedihkan, ada pihak-pihak yang hari ini mencoba menggali kembali lubang lama. Mereka meniupkan api pada bara yang mulai padam. Mereka bicara soal keadilan, tapi sembunyi di balik kepentingan pribadi. Mereka memutar narasi lama, seakan damai adalah kelemahan.

Tsunami: Bencana yang Membawa Kesadaran

Semua berubah pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami datang dan meluluhlantakkan Aceh, bukan hanya rumah yang rata dengan tanah—tapi juga ego, kemarahan, dan dendam. Dalam duka itu, kesadaran bersama lahir: bahwa tidak ada masa depan dalam konflik.

Dan dari puing-puing itulah lahir MoU Helsinki 2005. Sebuah perjanjian damai yang bukan sekadar hitam di atas putih, tapi simbol kesediaan untuk menyudahi pertikaian. Damai itu diperjuangkan. Ia bukan hadiah dari luar, tapi keputusan bersama yang dibangun dari rasa kehilangan, kepedihan, dan harapan.

Damai Bukan Akhir, Tapi Titik Awal

Kini Aceh sudah berdamai. Tapi apakah semua selesai?

Belum. Damai adalah titik awal perjuangan baru: membangun, mendidik, memperkuat ekonomi, merawat budaya, dan membentuk generasi baru yang tidak mewarisi dendam.

Namun di tengah jalan ini, godaan muncul. Ada segelintir pihak yang ingin memanfaatkan ruang kosong. Mereka ingin mengulang cerita lama. Mereka ingin membawa Aceh kembali ke masa konflik, hanya karena kekuasaan, kepentingan, atau nostalgia kelam.

Kepada mereka kami ingin berkata tegas:

Aceh sudah berdamai. Hentikan hasrat mengulang konflik.
Jangan ajari anak-anak kami cara membenci.
Jangan wariskan dendam kepada generasi baru.

Generasi Baru Tidak Perlu Senjata

Anak-anak Aceh hari ini tidak lagi bertanya siapa lawan mereka. Mereka bertanya bagaimana caranya menjadi cerdas.

Mereka ingin belajar, kuliah, menciptakan teknologi, menulis buku, dan membangun negeri. Mereka ingin bangga sebagai orang Aceh yang berkontribusi, bukan sebagai korban masa lalu.

Jangan rusak pikiran mereka dengan cerita heroik yang berlumur darah. Jangan giring mereka masuk ke dalam lubang sejarah yang telah kita tutup dengan susah payah. Generasi baru Aceh tidak butuh senjata. Mereka butuh pengetahuan, lapangan kerja, literasi, internet cepat, dan ruang berekspresi.

Damai Adalah Warisan Paling Bernilai

Aceh hari ini masih jauh dari sempurna. Tapi setidaknya, kami telah mengambil langkah penting: memilih damai.

Ini bukan proses yang mudah. Banyak yang dikorbankan. Tapi damai adalah warisan terbaik yang bisa kami serahkan kepada anak cucu kami.

Kelak ketika mereka membaca sejarah dan bertanya,
“Mengapa dulu kalian bertikai?”
Kami ingin menjawab,
“Agar kalian tidak perlu mengalaminya lagi.”

Dan ketika mereka bertanya,
“Apa yang kalian wariskan pada kami?”
Kami ingin menjawab,
“Kami mewariskan damai. Damai yang tidak mudah. Damai yang diperjuangkan. Tapi damai yang indah.”

Pilihan Kita Hari Ini Menentukan Masa Depan

Aceh tidak boleh kembali mundur. Jangan biarkan narasi dendam mengaburkan cita-cita. Jangan biarkan nostalgia kelam merusak masa depan yang sedang kami bangun dengan susah payah.

Kita sudah terlalu lama menangis. Kini saatnya kita tersenyum.

Aceh sudah berdamai.

Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun mengulang luka itu lagi.

*Penulis adalah Ketua DPD Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh

Tidak Ada Kompetisi yang Sehat “Sebuah refleksi tentang sekolah, ranking, dan anak-anak yang dipaksa selalu menang”

0

Tawakal (Dosen FKIP PENJAS Universitas Bina Bangsa Getsempena)

Kita sering diajarkan bahwa kompetisi itu sehat.
Katanya, persaingan membuat anak menjadi kuat, disiplin, dan berkembang. Ranking dianggap motivasi. Piala dianggap bukti keberhasilan. Juara dipandang sebagai tujuan utama pendidikan.

Tetapi semakin lama melihat dunia sekolah dan sepak bola usia dini, saya justru mulai bertanya:
benarkah kompetisi yang kita banggakan selama ini benar-benar sehat ?

Di sekolah, anak-anak dipaksa berlomba sejak kecil. Nilai dibandingkan. Ranking diumumkan. Yang berada di atas dipuji, yang di bawah perlahan merasa tidak berharga. Padahal kemampuan anak tidak pernah lahir dalam garis yang sama.

Ada anak yang hebat berhitung.
Ada yang lambat memahami pelajaran, tetapi sangat baik memimpin teman-temannya.
Ada yang tidak unggul di kelas, tetapi luar biasa kreatif. Ada pula yang hanya membutuhkan waktu lebih panjang untuk bertumbuh.

Sayangnya sistem pendidikan kita terlalu sering hanya memberi panggung kepada “siapa yang paling tinggi nilainya”. Akibatnya, sekolah berubah menjadi arena seleksi, bukan ruang tumbuh.

Anak belajar bukan karena cinta ilmu, tetapi karena takut kalah. Mereka membaca buku demi angka. Mereka menghafal demi ranking. Mereka cemas jika nilainya turun satu poin saja. Lalu perlahan semangat belajar itu hilang.

Banyak anak sebenarnya tidak bodoh. Mereka hanya lelah hidup dalam tekanan untuk selalu lebih baik dari orang lain.

Yang menyedihkan, budaya ini juga merambah dunia olahraga usia dini, terutama di sekolah sepak bola (SSB). Anak-anak datang ke lapangan dengan mimpi sederhana: ingin bermain, tertawa, dan mencintai sepak bola. Tetapi sering kali orang dewasa mengubah lapangan menjadi tempat ambisi.

Di pinggir lapangan, kita lebih sering mendengar: “Harus menang!” “Jangan kalah!” “Kalau kalah malu!”
Jarang sekali terdengar: “Sudah berkembang?” “Sudah lebih percaya diri?” “Sudah menikmati permainan?”

Akibatnya, banyak anak bermain dengan rasa takut, bukan rasa cinta. Mereka takut salah passing. Takut dimarahi pelatih. Takut mengecewakan orang tua. Bahkan ada anak usia dini yang merasa dirinya gagal hanya karena timnya kalah dalam turnamen.

Padahal sepak bola anak bukan tentang trofi.
Sepak bola usia dini seharusnya tentang pertumbuhan karakter, keberanian mencoba, kerja sama, disiplin, dan kegembiraan bermain.
Ironisnya, orang dewasa sering lebih terobsesi menjadi juara dibanding anak-anak itu sendiri.

Kita lupa bahwa tidak semua anak akan menjadi pemain profesional. Tetapi semua anak berhak mendapatkan pengalaman masa kecil yang sehat. Kompetisi sebenarnya bukan musuh. Yang menjadi masalah adalah cara kita memaknainya.

Kompetisi menjadi berbahaya ketika:
kemenangan lebih penting daripada proses, ranking lebih penting daripada perkembangan, hasil lebih dihargai daripada usaha, dan anak hanya dicintai saat menjadi juara.

Di titik itu, pendidikan kehilangan makna.
Olahraga kehilangan ruhnya. Dan anak-anak kehilangan keberanian untuk gagal. Padahal kegagalan adalah bagian paling penting dari belajar.

Anak yang selalu dituntut menang akan tumbuh menjadi pribadi yang takut mencoba hal baru. Sebab sejak kecil ia diajarkan bahwa kalah adalah aib. Sementara anak yang diberi ruang berkembang akan memahami bahwa jatuh adalah proses menuju kematangan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya: “Anak ini ranking berapa?”
“Sudah juara apa?”
Dan mulai bertanya: “Apakah dia masih senang belajar?”
“Apakah dia masih menikmati bermain?”
“Apakah dia tumbuh menjadi manusia yang sehat dan bahagia?”

Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan mencetak manusia yang pandai mengalahkan orang lain.

Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu mengenal dirinya sendiri, menghargai proses, dan tetap berdiri bahkan ketika tidak menjadi pemenang.

Sebab hidup tidak selalu tentang siapa yang paling depan. Kadang hidup hanya tentang siapa yang tetap berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.**

Gelisah Hati Guru

0

Tawakal

MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.

Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.

Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.

Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.

Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.

Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.

Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.

Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.

Tawakal berprofesi sebagai Dosen hingga Pelatih futsal berlisensi

0

BIREUEN, MEDIANAD.COM : Tawakal SPd MPd nama lengkap pemuda yang berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (FKIP PENJAS UNIKI) Bireuen merupakan Pemuda Kelahiran Bireuen, 20 November 1992.

Pada masa bangku sekolah, Tawakal sempat menekuni olahraga Sepakbola, namun saat sudah duduk di bangku perguruan tinggi, Tawakal mulai beralih menekuni futsal di kampusnya, di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Tawakal menjadi salah satu pemain utama di tim binaan perguruan tersebut yaitu Himadirga (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Olahraga) FKIP Unsyiah dan Unsyiah FC. Pemuda yang kerap di sapa TW ini sempat membawa timnya Juara POMDA (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah)Hinga pernah mewakili Aceh pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa (POMNAS) di Batam-Kepulauan Riau, Juara Piala Menpora antar mahasiswa Se Sumatera, dan juara Piala Piala Nol Kilometer di kota paling barat Indonesia yaitu Sabang. Itu adalah bukti andil service Tawakal ketika menggocek sikulit bundar.

Pada akhir tahun 2017 Tawakal yang notabenenya masih aktif bermain futsal dan sepakbola, mendapat kesempatan menarik Dari hasil kinerjanya, yaitu ditawari untuk mengambil lisensi ilmu kepelatihan futsal di kota penghasil empek-empek Palembang (Sumatra Selatan) oleh tim futsal amatir di Kota Banda Aceh Fair Play FC dan langsung mendapat rekomendasi dari Asosiasi Futsal Kabupaten Bireuen yang mana Kota Juang itu adalah tanah kelahiran pria 32 tahun ini.
Selepas dari mengikuti ilmu kepelatihan di Palembang, Tawakal langsung ditawari oleh dua tim di Aceh dengan event yang berbeda yaitu yang pertama Genksi Fc Pidie (ajang Liga Futsal Nusantara regional Aceh) saat itu berhasil mencapai semifinalis,dan juga Untuk PORA Futsal Bireuen (ajang pesta olaharaga 4 tahunan di Aceh yang bernama Pekan Olahraga Aceh) pada tahun 2018 silam. pada debutnya masa itu, tawakal bisa disebut masih belia dalam ilmu kepelatihan perfutsalannya.

Selanjutnya tahun 2019 tawakal sempat melatih di Akademi Futsal Aceh (AFA) dan berhasil Merebut piala Asosiasi Akademi Futsal Indonesia (AAFI) regional Aceh dikelompok umur 12 tahun yaitu Juara 2 piala AAFI regional Banda Aceh dan juara 1 regional Aceh sebelum mewakili Aceh di pentas piala AAFI nasional.
2020 sampai tahun 2022 dia menjabat sebagai pelatih futsal klub amatir Rumoh Futsal Club yang berdomisili di Kutaraja (Banda Aceh). Lalu ditahun 2021 Tawakal kembali ditinjuk untuk menahkodai tim Futsal Kabupaten Bireuen untuk persiapan ajang kualifikasi Pora atau sering disebut Pra-Pora usia dibawah 23 tahun.

Baru-baru ini Tawakal Dipercayai sebagai pelatih kepala tim Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Aceh pada ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (PORWANAS) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagai seorang yang dipercaya menjadi pelatih menurutnya banyak tantangan yang ia harus hadapi. “Karena ternyata jadi pelatih itu hal yang lumayan sulit. Pertama kita harus bisa melakukan pendekatan emosional dengan atletnya, kemudian membuat program yang sesuai untuk latihan, dan saat pertandingan setiap atlet membuat saya merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kemenangan atlet,” Tambah Tawakal.

Sedangkan tantangan yang dihadapi Tawakal dalam menjadi dosen Penjas adalah bagaimana dalam mengembangkan potensi mahasiswa Penjas untuk bisa berprestasi serta berkontribusi bagi kemajuan universitas, lingkup nasional hingga kancah internasional.

“Suka duka saya menjadi dosen adalah yang pertama suka dulu ya, saya senang bisa berinterkasi kepada mahasiswa dari berbagai macam daerah. Saya bisa mengaplikasi keilmuan yang saya miliki. Sedangkan menurut saya duka menjadi dosen itu tidak ada, karena saya sudah menyukai profesi saya secara keseluruhan,” ungkapnya.

Tawakal berharap kepada sesama dosen muda, untuk selalu semangat dalam menjadi tenaga pendidik untuk memajukan anak bangsa, demi tujuan bersama dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berintelektual tinggi di bidangnya masing-masing.

“Menurut saya mengembangkan keilmuan kita dalam bidang ilmu masing-masing, dan harus fokus pada bidang ilmu yang ditekuni, serta jangan pernah berpatokan pada materi yang kita raih ketika menjadi dosen,” ujarnya.

Tawakal melanjutkan sebagai dosen jangan pernah bernah berpikir untuk dilayani, karena seharusya kitalah yang melayani mahasiswa serta memberikan contoh teladan yang bagi semua. Intinya harus menjadi panutan bagi mahasiswa, teman bagi mahasiswa, teman sejawat, dan lingkungan masyarakat.

“Harapan saya Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen ini bisa menjadi Universitas yang besar dan berkembang, menjadi salah satu universitas ternama di Indonesia. Perlu adanya perbaikan serta peningkatan fasilitas-fasilitas yang masih kurang di Unived, termasuk peningkatan SDM, dengan cara memberikan dan membiayai pelatihan, seminar bagi dosen baik sebagai pembicara ataupun peserta di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

Ia juga menambahkan, semoga mahasiswa Penjas Uniki bisa bersaing serta menjadi pendidik maupun pelatih yang berkualitas nantinya. Sehingga bisa memberikan dampak positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia terutama di Provinsi Aceh khususnya di Kabupaten Bireuen ini, tutup Pria yang kerap disapa Coach Tawakal.

Inilah Profil M Hendra Supardi, Plt Dirut Bank Aceh Syariah yang Baru, Ini Background-nya

0
Hendra Supardi Plt Dirut BAS

MEDIANAD.COM – M Hendra Supardi resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Bank Aceh Syariah.

Penunjukan tersebut berdasarkan Keputusan Dewan Komisaris yang telah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Dengan penunjukan ini, M Hendra Supardi menggantikan Fadhil Ilyas yang sebelumnya menjabat sebagai Plt Direktur Utama sekaligus Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah.

Sekretariat Perusahaan Bank Aceh Syariah, Iskandar, mengatakan, penggantian Plt Dirut ini dilakukan dalam rangka mempertimbangkan agar pelaksanaan tanggung jawab mitigasi risiko dalam pengelolaan bank tidak bertumpu pada satu orang.

Selain itu, untuk memastikan tata kelola sesuai dengan Peraturaan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17 Tahun 2023 dan AD/ART Bank Aceh, serta sudah mendapatkan pencatatan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 14 Februari 2025.

“Dengan pengalaman dan kepemimpinan yang dimiliki, beliau diharapkan mampu membawa Bank Aceh Syariah semakin maju dan terus meningkatkan kualitas layanan perbankan syariah bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya,” ujar Iskandar, dikutip dari Prohaba.

Lantas, seperti apa profil M Hendra Supardi ini?

Profil M Hendra Supardi

M Hendra Supardi merupakan pria yang berpengalaman di bidang perbankan.

Nama lengkapnya adalah Muhammad Hendra Supardi.

Ia lahir di Lamno, Aceh, 10 Agustus 1982.

Saat ini, M Hendra Supardi menjabat sebagai Plt Dirut Bank Aceh Syariah.

Diketahui, M Hendra Supardi sempat menempuh pendidikan di jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi UIN Ar Raniry.

Setelah meraih gelar S1 dan lulus pada tahun 2004, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh.

Tahun 2016, M Hendra Supardi lulus dan meraih gelar Magister (S2).

Sebelum menjabat sebagai Plt Direktur Utama Bank Aceh Syariah, M Hendra Supardi menjabat sebagai Direktur Dana dan Jasa di Bank Aceh Pusat.

Penunjukan Hendra sebagai Plt Direktur Utama dilakukan pada 18 Februari 2025, menggantikan posisi Faadhil Ilyas setelah melalui proses review.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang kuat, Hendra Supardi diharapkan mampu memimpin Bank Aceh Syariah menuju keberhasilan yang lebih besar di masa depan.(*)

 

 

Dibalik Sosok Lamine Yamal ada  Nenek Fatimah ‘sang’ Pejuang Pengubah Nasib Keluarga

0

Di balik setiap bakat besar, selalu ada kisah tentang perjuangan yang tak pernah terlihat. Untuk Lamine Yamal, sang bintang muda Spanyol yang baru saja mengantarkan negaranya meraih gelar juara Piala Dunia 2026, kisah itu dimulai bukan di lapangan hijau La Masia, melainkan di sebuah bus antarkota di Maroko, beberapa dekade sebelum ia lahir.

Inilah kisah tentang Fatima Romani, nenek dari pihak ayah Lamine, seorang perempuan Muslim Maroko yang dengan tekad baja mengubah nasib seluruh keluarganya.

Keputusan Nekat di Atas Bus dari Maroko

Tahun 1990, Fatima mengambil sebuah keputusan yang akan mengguncang masa depan keluarganya. Ia meninggalkan Maroko sendirian, tanpa dokumen, dan menyelinap naik bus yang tidak berhak ia tumpangi. Perjalanannya penuh ketidakpastian, berhenti di Algeciras dan Granada, hingga akhirnya tiba di Mataró, Catalonia.

Ia tiba dengan tangan kosong. Tanpa jaringan, tanpa uang, dan meninggalkan lima anaknya di Maroko. Fatima kemudian bekerja tanpa kenal lelah hingga tiga shift berbeda,sebagai pembantu rumah tangga, perawat lansia, dan berbagai pekerjaan lain. Tujuannya sederhana namun berat: mengumpulkan cukup uang untuk membawa anak-anaknya menyusul ke Spanyol.

Membangun Fondasi bagi Sebuah Keluarga

Pengorbanan Fatima bukanlah sekadar cerita inspiratif. Ini adalah fondasi nyata yang menjadi dasar kehidupan Lamine Yamal. Ketika ia sudah menabung cukup, ia membayar seorang wanita untuk membawa putranya, Mounir (ayah Lamine), dan saudara perempuannya yang saat itu masih berusia tiga tahun, ke Spanyol.

Bayangkan pengorbanan ini: seorang perempuan, sendirian di negara asing, bekerja tanpa kenal lelah, demi menyatukan kembali keluarganya.

Pengasuh Setia di Tengah Badai

Ketika Lamine lahir pada tahun 2007, kedua orang tuanya masih sangat muda (ibunya berusia 16 tahun). Saat Lamine menginjak usia tiga tahun, ayah dan ibunya berpisah.

Di momen sulit itulah, Fatima memegang peran yang sangat sentral. Ia menjadi pengasuh utama bagi Lamine, memastikan cucunya tumbuh di jalur yang benar di lingkungan sederhana Rocafonda, Mataró.

Fatima menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan kerendahan hati. Ia sering mengantar Lamine berjalan kaki atau naik transportasi umum ke tempat latihan sepak bola sebelum bakatnya terdeteksi La Masia. Baginya, cucunya adalah seorang Muslim yang taat, dan ia memastikan Lamine tumbuh dengan iman yang kuat.

Doa, Restu, dan Cinta yang Tak Tergantikan

Setiap kali hendak bertanding, Lamine selalu membaca Surat Al-Fatihah dan doa yang diajarkan sang nenek. Fatima berpesan “Aku selalu berkata kepadanya sebelum pertandingan, ucapkan ‘Ya Rabb, berilah aku taufik (keberhasilan) dan tolonglah aku “.

Ketika Lamine merayakan gol, selebrasinya yang ikonik membentuk angka “304” adalah penghormatan untuk kode pos Rocafonda (08304), lingkungan yang menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan sang nenek.

Membalas Budi Sang Nenek

Ketika kesuksesan datang, Lamine tidak pernah melupakan Fatima. Ia bahkan menunda sesi foto resmi perpanjangan kontrak dengan Barcelona hanya agar sang nenek bisa hadir. Ia juga membelikan rumah untuknya, namun Fatima menolak pindah, lebih memilih tetap tinggal di Rocafonda, di lingkungan yang telah menjadi rumahnya.

Lamine sendiri mengakui bahwa kebahagiaan terbesarnya adalah melihat keluarga yang dicintainya hidup damai setelah bertahun-tahun bergumul dengan kesulitan. Melihat “neneknya damai di rumahnya sendiri” adalah “segalanya yang bisa diimpikan oleh seorang anak”.

Warisan Seorang Nenek

Kisah Fatima Romani adalah pengingat bahwa di balik setiap bintang sepak bola yang bersinar di panggung dunia, ada figur-figur yang mungkin tak pernah muncul di layar kaca. Fatima mungkin tidak pernah memegang trofi, tetapi perjuangannya, pengorbanannya, dan cintanya adalah fondasi yang membuat Lamine Yamal berdiri di puncak dunia.

Ia adalah contoh nyata bahwa keberanian seorang ibu dan nenek bisa mengubah takdir sebuah bangsa.#LamineYamal #TimnasSpanyol #Pildun2026

Fenomena Peredaran Tramadol dan Stigma Perantau Aceh di Pulau Jawa

0

Ilustrasi

Isu peredaran obat keras jenis tramadol di sejumlah kota di Pulau Jawa kembali mencuat di media sosial baik itu instagram, tiktok, facebook maupun whatsapp. Dalam berbagai pemberitaan, tak jarang muncul narasi yang mengaitkan pelaku dengan identitas tertentu, termasuk perantau asal Aceh. Narasi ini kemudian berkembang liar, membentuk stigma yang berbahaya: seolah-olah ada hubungan langsung antara asal daerah dan praktik ilegal.

Di sinilah masalahnya. Ketika publik terlalu cepat menarik kesimpulan, fakta menjadi kabur, dan keadilan sosial terancam.

Penting untuk ditegaskan sejak awal: kejahatan adalah tindakan individu, bukan identitas kolektif. Menggeneralisasi satu kelompok masyarakat berdasarkan ulah segelintir orang bukan hanya keliru, tetapi juga memperbesar potensi diskriminasi. Dalam konteks negara yang majemuk seperti Indonesia, cara pandang semacam ini adalah kemunduran.

Namun, menolak stigma bukan berarti menutup mata terhadap realitas. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peredaran tramadol ilegal memang terjadi dan melibatkan berbagai pihak. Pertanyaannya bukan “siapa asalnya?”, melainkan “mengapa ini bisa terjadi?”

Jawabannya tidak tunggal.

Pertama, tekanan ekonomi masih menjadi akar klasik. Perantauan ke pulau Jawa sering dilihat sebagai jalan keluar dari keterbatasan ekonomi di daerah. Namun, realitas di kota besar tidak selalu ramah. Minimnya keterampilan, terbatasnya akses pekerjaan formal, dan tingginya biaya hidup menciptakan situasi rentan. Dalam kondisi terdesak, sebagian orang tergoda mengambil jalan pintas, termasuk terlibat dalam perdagangan obat ilegal yang menjanjikan keuntungan cepat.

Kedua, celah pengawasan distribusi obat keras masih terbuka lebar. Tramadol sejatinya merupakan obat medis yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Namun dalam praktiknya, obat ini kerap beredar bebas di pasar gelap. Lemahnya kontrol distribusi, ditambah pengawasan yang tidak konsisten, menjadikan tramadol komoditas yang relatif mudah diakses dan diperjualbelikan dengan bebas seperti tanpa pengawasan dari pihak penegak hukum.

Ketiga, faktor jaringan sosial turut memperkuat fenomena ini. Perantau baru sering kali bergantung pada jaringan yang sudah ada. Ketika jaringan tersebut berada dalam lingkaran aktivitas ilegal, maka risiko untuk ikut terlibat menjadi lebih besar. Ini bukan soal etnis, melainkan soal ekosistem sosial yang terbentuk tanpa pengawasan.

Sayangnya, alih-alih membedah akar persoalan, sebagian publik justru terjebak pada penyederhanaan: mencari “kambing hitam” berbasis identitas. Cara ini mungkin memuaskan emosi sesaat, tetapi sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Pendekatan yang dibutuhkan jauh lebih komprehensif.
Penegakan hukum tetap penting, tetapi tidak cukup. Negara harus memperkuat pengawasan distribusi obat keras dari hulu ke hilir. Di saat yang sama, kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan perlu hadir sebagai solusi nyata bagi kelompok rentan, termasuk para perantau. Edukasi tentang bahaya penyalahgunaan obat juga harus diperluas, terutama di kalangan generasi muda.

Lebih dari itu, masyarakat perlu membangun literasi sosial yang sehat: kemampuan untuk memilah informasi, menolak stigma, dan berpikir kritis terhadap narasi yang berkembang.

Karena pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang Aceh, Jawa, atau daerah mana pun. Ini adalah tentang bagaimana kita sebagai bangsa menghadapi masalah kompleks tanpa kehilangan akal sehat dan rasa keadilan.

Jika kita terus memelihara stigma, maka yang kita bangun bukan solusi—melainkan jurang pemisah yang semakin dalam.**

Pakar Pendidikan Aceh : DPRA jangan Cuek Terhadap Kualitas Pendidikan Aceh

0
Dr Safwan, S. Pd.I, M. Ag (Pakar pendidikan Aceh / Ketua Pembina LP2A)

KUALITAS Pendidikan merupakan aspek sangat sentralistik dan penting dalam pembangunan suatu negara. Karena Kualitas pendidikan yang baik akan membawa dampak positif bagi perkembangan masyarakat dan ekonomi.

Namun, untuk mencapai kualitas pendidikan yang optimal, diperlukan kepekaan dan peran aktif dari semua pihak, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dalam hal ini Komisi VI, sebagai lembaga legislatif yang bertanggung jawab dalam melahirkan kebijakan.

Kepekaan DPRA dalam peningkatan kualitas pendidikan di Aceh sangatlah vital. Melalui pembahasan dan pengesahan Qanun Pendidikan Aceh, DPRA salah satu perannya adalah mengawasi arah kebijakan pendidikan yang diterapkan di Aceh. Bukan hanya sekolah, Madrasah yang diawasi DPRA akan tetapi perguruan Tinggi pun harus ada pengawasannya.

Selain itu, DPR juga memiliki fungsi penganggaran terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan.

Kemudian DPRA juga harus memiliki kepekaan yang sangat penting dalam mendorong reformasi pendidikan Aceh. Melalui kerjasama antara pemerintah dan DPRA, diharapkan tercipta kebijakan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Aceh secara menyeluruh. Dan, Komisi VI DPRA jangan cuwek terhadap persoalan pendidikan Aceh hari ini.

Namun, untuk dapat menjalankan fungsinya dengan efektif, DPRA perlu melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah melibatkan para ahli dan pakar serta Akademisi pendidikan dalam proses pembuatan kebijakan.

Dengan mendengarkan masukan dan saran dari para ahli, DPRA dapat menghasilkan kebijakan yang lebih berkualitas dan berdampak positif bagi dunia pendidikan di Aceh

Selain itu, DPRA juga perlu memperhatikan alokasi anggaran pendidikan Aceh, apalagi Anggaran yang dialokasikan kebanyakan untuk fisik saja, bukan untuk penguatan kapasitas Guru dan alat pendukung untuk menunjang kualitas pendidikan, dan juga yang sangat penting adalah pengangkatan kepala Dinas Pendidikan di Aceh harus selektif, jangan asal angkat, sehingga mengakibatkan bobroknya pendidikan Aceh

Dengan melibatkan semua pihak, termasuk DPRA, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, diharapkan Aceh dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui sumber daya manusia yang berkualitas. Karena “Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, kepekaan DPRA sangatlah penting dalam memastikan pendidikan yang berkualitas bagi generasi mendatang.

Dapat disimpulkan bahwa Kepekaan DPRA dalam peningkatan kualitas pendidikan di Aceh sangatlah krusial. Melalui kerjasama dan komitmen yang kuat, diharapkan tercipta sistem pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh Bangsa Aceh.***

Ketika Kesabaran Mengalahkan Budaya Instan, Spanyol Juara Piala Dunia 2026

0

Tawakal (Dosen FKIP PENJAS UBBG)

MEDIANAD.COM : Sejak awal bergulirnya Piala Dunia 2026, Spanyol bukanlah tim yang paling dijagokan untuk menjadi kampiun. Sorotan publik lebih banyak mengarah kepada juara bertahan Argentina, Inggris dengan generasi emasnya, Prancis yang bertabur bintang, hingga Brazil yang selalu menjadi favorit di setiap gelaran edisi Piala Dunia.

Namun, sepak bola modern telah membuktikan bahwa prediksi bukanlah penentu kemenangan. Gelar juara diraih oleh tim yang mampu menjaga proses, membangun karakter, mempertahankan konsistensi, serta memaksimalkan penerapan sport science dalam setiap aspek permainan.

Spanyol membuktikan bahwa mereka tidak membutuhkan sorotan untuk menjadi juara. Mereka hanya membutuhkan keyakinan terhadap filosofi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Keberhasilan menjuarai Piala Dunia 2026 bukanlah sebuah kejutan, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum turnamen ini bergulir. Fondasi itu bahkan telah terlihat ketika mereka menjadi juara Piala Eropa tahun 2024.

Saat banyak negara sibuk mengganti pelatih setiap kali gagal, mengubah filosofi permainan, atau mengejar hasil instan, Spanyol memilih bertahan pada identitasnya.

Mereka tetap memainkan sepak bola yang mengutamakan penguasaan bola, kecerdasan membaca ruang, keberanian memainkan pemain muda, dan disiplin kolektif.

Final melawan Argentina menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bukan sekadar kumpulan pemain hebat. Spanyol menghadapi tim yang dihuni pemain-pemain berpengalaman dan bermental juara.

Namun, mereka tidak kehilangan identitas dan mentalitas. Mereka tidak bermain karena tekanan, melainkan karena keyakinan terhadap sistem yang telah mereka bangun sejak lama.

Keberhasilan ini juga tidak bisa dilepaskan dari kualitas pembinaan usia muda di Spanyol. Akademi-akademi seperti La Masia (Barcelona FC) terus menjadi pabrik talenta-talenta dunia.

Munculnya nama-nama seperti Pau Cubarsí dan Lamine Yamal menunjukkan bahwa regenerasi La Masia bukanlah kebetulan dan instan. Di usia yang masih berusia 19 tahun, mereka tampil dengan ketenangan, kecerdasan, dan kedewasaan yang luar biasa.

Mereka bermain seolah telah mengikuti beberapa edisi gelaran Piala Dunia, padahal ini merupakan Piala Dunia pertama kalinya dalam karier mereka.

Di sisi lain, pemain seperti Rodri (Manchester City/Inggris), Mikel Merino (Arsenal/Inggris), dan Unai Simón (Athletic Bilbao/Spanyol) menjadi bukti pentingnya kesinambungan pembinaan.

Mereka telah tumbuh bersama sejak level usia muda seperti Piala Eropa usia 15 tahun pada 2015 silam, yang sudah pasti memahami karakter permainan satu sama lain, lalu berkembang menjadi tulang punggung di tim nasional senior.

Chemistry seperti ini tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibangun dalam hitungan bulan, dan tidak lahir dari pergantian pelatih setiap kali hasil tidak sesuai harapan.

Inilah yang membedakan Spanyol dengan banyak negara lain. Mereka membangun tim, bukan sekadar mengumpulkan pemain terbaik.

Sepak bola modern seperti kita rasakan saat ini sering kali terjebak dalam budaya instan. Ketika gagal satu turnamen, pelatih langsung dipecat. Ketika kalah dua pertandingan, filosofi permainan berubah. Ketika muncul pemain muda yang belum langsung bersinar, ia segera dianggap gagal.

Spanyol memilih jalan yang berbeda. Mereka bersabar. Kesabaran itulah yang kini menghasilkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.

Bagi negara-negara yang sedang membangun sepak bolanya, termasuk Indonesia, gelar Spanyol seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Membangun sepak bola tidak cukup dengan mendatangkan pelatih terkenal, menaturalisasi pemain, atau menyelenggarakan kompetisi sesaat.

Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem pembinaan sejak usia dini, meningkatkan kualitas pelatih, memperkuat kompetisi kelompok umur, dan memastikan filosofi permainan diterapkan secara berjenjang dari akademi hingga tim nasional.

Piala Dunia 2026 mengingatkan kita bahwa prestasi bukanlah hasil dari kerja satu musim, melainkan akumulasi dari keputusan-keputusan benar yang diambil selama bertahun-tahun.

Spanyol telah membuktikannya. Dan mungkin, inilah pesan terbesar dari Piala Dunia 2026: di era ketika banyak orang ingin sukses secepat mungkin, justru kesabaran, konsistensi, dan keberanian mempertahankan identitas menjadi jalan paling pasti menuju puncak dunia.(*)

SEJARAH   TERBENTUKNYA   KERAJAAN ACEH

0

Sebelum berdirinya KERAJAAN ACEH, di Aceh Besar dan Banda Aceh terdapat 5 Kerajaan Hindu yaitu : 1. Indra Jaya di Lhoek Seudu. 2. Indra Purwa di Ujong Pancu.3. Indra Patra di Ladong. 4. Indrapuri di Indrapuri. 5. Indra Purba di Lamreh- Krueng Raya.

Pada pertengahan Abad ke 11 M (1059 M) Kerajaan  Hindu Indra Jaya diserang armada angkatan laut Tiongkok/China yang dipimpin oleh LIANG KHIE dan puterinya NIAN NIO. Indra Jaya dapat ditaklukkan dan LIANG KHIE mengangkat dirinya sebagai Raja dan merubah nama Kerajaan Indra Jaya menjadi KERAJAAN SEUDU dan memindahkan pusat kerajaan dari Lhok Seudu ke PANTON BIE. cita2nya ingin menaklukkan seluruh Kerajaan Hindu di Aceh. Karena sudah tua/uzur ia digantikan oleh puterinya MAHARANI NIAN NIO.dan cita2nya dilanjutkan oleh puterinya.

Maharani Nian Nio pertama menyerang Indra Purwa.setelah ditaklukkan ia membuat benteng pertahanan di Lingke di belakang Kantor POLDA ACEH sekarang. Setelah benteng selesai diberi nama ayahnya yaitu BENTENG LIANG KHIE. Lama kelamaan LIANG KHIE disebut LINGKE oleh penduduk setempat.dari sinilah asal nama GAMPONG  LINGKE.

Setelah penyerangan dan penaklukan Kerajaan Indra Jaya oleh Liang Khie banyak rakyat Indra Jaya meninggalkan negerinya dan pergi menuju ke Kerajaan Indra Purba/Lamuri   yang rajanya bernama INDRA SAKTI. demikian pula pada masa pemerintahan Maharani Nian Nio  rakyat dipaksa memeluk Agama Budha dan dikenakan pajak tinggi sehingga rakyat pindah kenegeri lain.kemudian dari rakyat Indra Jaya inilah Raja Indra Sakti mengetahui ada pasukan China/Tiongkok. Lalu Raja Indra Sakti mengirim utusan ke Kerajaan Islam Peureulak di Bandar Khalifah untuk meminta bantuan milter dalam rangka menghadapi serangan pasukan China  bila sewaktu-waktu menyerang Kerajaan Indra Purba.

ABDULLAH KAN’AN atau SHEIKH HUDAN berasal dari Kan’an Pakestina. Sheikh tersebut tiba di Bandar Khalifah pada pertengahan Abad ke 12 M. Semasa berada di Bandar Khalifah menyarankan kepada Sultan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam. Sarannya disetujui oleh Sultan maka dibangunlah ZAWIYAH COT KALA yang berlokasi di Bayeun-Aceh Timur dan tidak begitu jauh dari Bandar Khalifah (Peureulak). Zawiyah Cot Kala merupakan perguruan tinggi Islam pertama di Asia Tenggara.di Zawiyah Cot Kala inilah MEURAH JOHAN. Sunan Bonang. Sunan Giri mempelajari ilmu Agama Islam dan Ilmu-ilmu lainnya seperti Ilmu Penerintahan. Bela Diri dll. Guru2  di Zawiyah tersebut diantaranya adalah Abdullah Kan’an. Maulana Ishak ayahnya Sunan Giri dan Ulama2 lainnya. Alumni2 Zawiyah Cot kala menyebarkan Agama Islam ke seluruh ASIA TENGGARA.

MEURAH JOHAN adalah anak Sultan LINGE yang bernama Sultan ADI GENALI yang juga merupakan seorang Ulama yang terkenal dengan panggilan Teungku Chik Kawe Teupat. Sultan mengajarkan Ilmu Agama Islam kepada anaknya. Selain itu juga Meurah Johan belajar Ilmu Agama kepada Teungku Chik Serule. Setelah dewasa kedua guru agamanya sepakat untuk mengirim dan menyekolahkan Meurah Johan ke Zawiyah Cot Kala dan dibimbing serta diajari lansung oleh Sheikh Abdullah Kan’an dan guru-guru lainnya.

Pada Tahun 1180 M Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Johan Syah (Sultan Peureulak) mengutus delegasi sebanyak 600 personil PAI (Tentara) ke Kerajaan Hindu INDRA PURBA di Aceh Besar. Pengiriman delegasi ini untuk memenuhi permohonan bantuan Raja INDRA SAKTI dari Kerajaan Indra Purba. Delegasi dipimpin oleh Sheikh Abdulah Kan’an sebagai Ketua dan muridnya Meurah Johan sebagai Wakil untuk memimpin rombongan delegasi tersebut. Delegasi tersebut terdiri dari 500  orang PAI Kerajaan Islam Peureulak dan 100 orang dari Kerajaan LINGE.

Setiba di Kerajaan Hindu Indra Purba atau Kerajaan LAMURI.  Sheikh Abdullah Kan’an. Meurah Johan dan rombongan melatih tentara Kerajaan Indra Purba dalam bidang militer dan strategi perang dan juga mengajarkan bercocok tanam kebutuhan pokok seperti menanam padi dan lain2 sebagai persiapan logistik Kerajaan bila terjadi serangan dari bala tentara Maharani Nian Nio. Bimbingan bercocok tanam diikuti juga oleh masyarakat setempat. Selain itu Sheikh Abdullah Kan’an atau Sheikh Hudan juga memperkenalkan Budidaya TANAMAN LADA yang kelak dimasa mendatang menjadi tanaman primadona dan diminati oleh bangsa2 Eropah.atas jasanya tersebut Sheikh Abdullah Kan’an diberi Gelar Bapak LADA ACEH oleh masyarakat Aceh saat ini.

Masyarakat setempat memperhatikan dan melihat delegasi dari Kerajaan Islam Peureulak dan Kerajaan Linge mempunyai tingkah laku.sifat dan tatakrama yang sopan dan sangat ramah sehingga masyarakat setempat tertarik dan akhirnya memeluk Agama Islam.

Diperkirakan akhir Abad ke 12 M terjadi serangan besar2an tentara Tiongkok/China yang dipimpin lansung oleh Maharani Nian Nio  dan dihadang dan dilawan oleh tentara koalisi Kerajaan Hindu Indra Purba. Kerajaan Hindu Indra Patra. Kerajaan Islam Peureulak dan karajaan Linge dibawah pimpinan Sheikh Abdullah Kan’an dan muridnya Meurah Johan. Pertempuran dahsyat dan sengit terjadi di sepanjang pantai Alue Naga sampai dengan Krueng Raya. Akhirnya pertempuran tersebut dimenangkan oleh tentara Koalisi.

Setelah kemenangan tersebut Raja INDRA SAKTI dan Keluarga memeluk Agama Islam dan kemudian diikuti pula oleh rakyatnya. Kemudian Raja Indra Sakti menikahkan anaknya PUTROE BLIENG INDRA KESUMA dengan Panglima perang yang cerdas dan gagah perkasa MEURAH JOHAN. Kemudian diketahui pula oleh Syeikh Abdullah Kan’an bahwa Maharani Nian Nio juga jatuh cinta kepada Meurah Johan. Lalu Sheikh Abdullah Kan’an mengambil inisiatif untuk melobi Raja Indra Sakti dan keluarga terutama Putroe Blieng Indra Kesuma perihal jatuh cintanya Maharani Nian Nio kepada Meurah Johan yang merupakan suami Putroe Blieng Indra Kesuma yang baru saja menikah. Dengan keahlian dan kepiawian Sheikh Abdullah Kan’an menjelaskan tentang manfaat jangka panjang bila pernikahan kedua Meurah Johan dengan Maharani Nian Nio.maka Raja Indra Sakti dan keluarga terutama Putroe Blieng Indra Kesuma dapat menyetujuinya. Akhirnya Maharani Nian Nio menikah dengan Meurah Johan dan memeluk Agama Islam bersama seluruh petinggi dan tentaranya. serta rakyat Kerajaan SEUDU atau Indra Jaya seluruhnya.

Pada tanggal 22 April 1205 M di Benteng Liang Khie dilakukan perayaan kemenangan dan sekaligus Pengumuman berdirinya KERAJAAN ACEH yang wilayahnya terdiri dari wilayah Kerajaann Indra Jaya. Indra Purwa. Indra Patra. Indra Purba dan Indra Puri. Acara perayaan kemenangan dan pengumuman berdirinya Kerajaan Aceh dihadiri oleh Kerajaan Samudra Pasai. Linge. Jaya dan Pedir (Pidie) dll. Tanggal berdirinya Kerajaan Aceh 22 April 1205 M dihitung mulainya berdirinya Kota Banda Aceh dan sekarang diperingati setiap tahunnya oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Banda Aceh.

Selain itu tanggal 22 April 1205 M juga merupakan tanggal pengangkatan dan penetapan MEURAH JOHAN sebagai Sultan pertama Kerajaan Aceh dengan gelar SULTAN ALAIDIN JOHAN SYAH dan penetapan SHEIKH ABDULLAH KAN’AN sebagai Kadhi Malikul Adhil pertama Kerajaan Aceh.

Setelah berakhir masa jabatannya. Sheikh Abdullah Kan’an dan keluarga tinggal  di Gampong ( Desa) LAMPEUNEUEN Kabupaten Aceh Besar dengan kegiatan sehari2 mengajar masyarakat setempat tentang Ilmu Agama Islam sehingga beliau digelar pula oleh masyarakat Aceh dengan gelar TEUNGKU CHIK LAMPEUNEUEN. Sheikh Abdullah Kan’an berpulang kerahmatullah dan dimakamkan bersama anggota keluarganya di  Gampong Lampeuneuen Kabupaten Aceh Besar.

Apakah saudara-saudara pernah menziarahi makam SHEIKH ABDULLAH KAN’AN yang dimakamkan di Gampong Lampeuneuen Aceh Besar yang telah berjasa mendirikan Kerajaan Aceh dan meng Islam kan masyarakat Aceh Besar  Banda Aceh dan sekitarnya  ?. (NE. Banda Aceh. 31 Desember 2024 M).

Popular Posts

My Favorites

Belajar Kelola Stadion, Manajemen Persiraja Kunjungi Stadion Inter Milan

0
MEDIANAD.COM, ITALIA: Manajemen Persiraja Banda Aceh yang langsung dipimpin oleh Presiden Persiraja, H. Nazaruddin Dek Gam mengunjungi stadion Gueseppe Meaza, Milan, Italia, Jumat (18/4/2025). Dalam...