Opini

Beranda Opini
Opini

Gelisah Hati Guru

0

Tawakal

MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.

Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.

Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.

Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.

Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.

Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.

Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.

Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.

Transformasi Moderasi Beragama di Aceh: Merawat Harmoni dalam Bingkai Syariat Islam dan NKRI

0

Oleh Mujiburrahman, M.M.Peserta PKDP Tahun 2026 PTP UIN Ar-Raniry Banda Aceh

ACEH merupakan daerah yang memiliki kekhususan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan Syariat Islam, kekhususan tersebut diberikan oleh negara melalui berbagai regulasi, mulai dari tingkat undang-undang hingga Qanun daerah. Namun, di tengah penerapan Syariat Islam tersebut, Aceh tetap merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi nilai keberagaman, persatuan, dan kerukunan antarumat beragama.

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman suku, budaya, dan agama. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 mencapai 284,4 juta jiwa, keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang perlu dijaga melalui sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Dalam konteks inilah, moderasi beragama menjadi sangat penting. Implementasi prinsip Wasathiyah dalam Islam menjadi landasan penting agar kehidupan beragama tetap berada pada jalan tengah, tidak berlebihan, dan tidak pula mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh memiliki landasan hukum yang kuat. Pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh memberikan kewenangan khusus kepada Aceh dalam bidang kehidupan beragama, adat, pendidikan, dan peran ulama. Selanjutnya, kewenangan tersebut diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang menjadi dasar hukum pelaksanaan Syariat Islam secara lebih luas di Aceh.

Sebagai aturan pelaksana, Pemerintah Aceh menetapkan sejumlah qanun, di antaranya Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pokok-Pokok Syariat Islam dan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Kehadiran qanun-qanun tersebut menunjukkan bahwa penerapan Syariat Islam di Aceh memiliki landasan hukum yang jelas dan merupakan bagian dari sistem pemerintahan yang sah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam praktiknya, kearifan lokal masyarakat Aceh juga menjadi penopang penting agar pelaksanaan syariat tetap selaras dengan adat istiadat yang hidup di tengah masyarakat.

Namun demikian, pelaksanaan Syariat Islam tidak boleh dipahami secara sempit sebagai bentuk eksklusivitas atau penolakan terhadap keberagaman.

Sebaliknya, nilai-nilai Syariat Islam harus mampu menghadirkan keadilan, kemaslahatan, dan kedamaian bagi seluruh masyarakat. Di sinilah pentingnya moderasi beragama sebagai pendekatan yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama. Prinsip rahmatan lil ‘alamin harus menjadi ruh dalam setiap kebijakan dan praktik keagamaan, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, moderasi beragama di Aceh dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati antarwarga, baik dalam ruang sosial, pendidikan, maupun pelayanan publik. Masyarakat Aceh yang hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang keyakinan perlu terus membangun komunikasi yang baik agar tidak mudah terjebak dalam sikap saling curiga. Dengan demikian, penerapan Syariat Islam justru dapat menjadi sarana memperkuat etika sosial, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa aman di tengah masyarakat.

Hal ini sekaligus menjadi bagian dari aspek internalisasi nilai yang perlu terus ditanamkan dalam kehidupan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

Selain itu, peran pemerintah, ulama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan sangat penting dalam menanamkan pemahaman keagamaan yang sejuk dan inklusif. Pendidikan agama yang menekankan nilai kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan akan membantu generasi muda Aceh memahami bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan anugerah yang harus dirawat bersama. Jika nilai-nilai ini terus diperkuat, maka Aceh akan mampu menjaga identitas keislamannya tanpa kehilangan semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Proses internalisasi nilai tersebut menjadi kunci agar moderasi beragama tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi benar-benar hadir dalam perilaku sehari-hari.

Menurut M. Quraish Shihab, terdapat tiga syarat utama dalam menerapkan moderasi beragama. Pertama, memiliki pengetahuan yang memadai tentang agama dan nilai-nilai moderasi. Kedua, mampu mengendalikan emosi sehingga tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan. Ketiga, memiliki sikap kehati-hatian yang konsisten dalam memahami dan menyikapi berbagai persoalan keagamaan.

Semangat moderasi beragama juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan dalam konteks Aceh, penerapan Syariat Islam yang berlandaskan prinsip rahmatan lil ‘alamin semestinya mampu menjadi contoh bagaimana ajaran agama dapat berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap hak-hak warga negara dan keberagaman yang ada.

Dengan demikian, implementasi prinsip Wasathiyah dalam Islam bukan hanya relevan secara teologis, tetapi juga penting secara sosial dan kebangsaan.

Oleh karena itu, moderasi beragama di Aceh bukanlah upaya untuk mengurangi nilai-nilai Syariat Islam, melainkan cara untuk memastikan bahwa pelaksanaan syariat berjalan secara adil, bijaksana, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Dengan berpegang pada regulasi yang berlaku, nilai-nilai keislaman yang moderat, serta komitmen kebangsaan yang kuat, Aceh dapat menjadi model harmonisasi antara penerapan Syariat Islam dan kehidupan masyarakat yang majemuk menuju Indonesia Emas 2045.**

Pakar Pendidikan Aceh : DPRA jangan Cuek Terhadap Kualitas Pendidikan Aceh

0
Dr Safwan, S. Pd.I, M. Ag (Pakar pendidikan Aceh / Ketua Pembina LP2A)

KUALITAS Pendidikan merupakan aspek sangat sentralistik dan penting dalam pembangunan suatu negara. Karena Kualitas pendidikan yang baik akan membawa dampak positif bagi perkembangan masyarakat dan ekonomi.

Namun, untuk mencapai kualitas pendidikan yang optimal, diperlukan kepekaan dan peran aktif dari semua pihak, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dalam hal ini Komisi VI, sebagai lembaga legislatif yang bertanggung jawab dalam melahirkan kebijakan.

Kepekaan DPRA dalam peningkatan kualitas pendidikan di Aceh sangatlah vital. Melalui pembahasan dan pengesahan Qanun Pendidikan Aceh, DPRA salah satu perannya adalah mengawasi arah kebijakan pendidikan yang diterapkan di Aceh. Bukan hanya sekolah, Madrasah yang diawasi DPRA akan tetapi perguruan Tinggi pun harus ada pengawasannya.

Selain itu, DPR juga memiliki fungsi penganggaran terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan.

Kemudian DPRA juga harus memiliki kepekaan yang sangat penting dalam mendorong reformasi pendidikan Aceh. Melalui kerjasama antara pemerintah dan DPRA, diharapkan tercipta kebijakan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Aceh secara menyeluruh. Dan, Komisi VI DPRA jangan cuwek terhadap persoalan pendidikan Aceh hari ini.

Namun, untuk dapat menjalankan fungsinya dengan efektif, DPRA perlu melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah melibatkan para ahli dan pakar serta Akademisi pendidikan dalam proses pembuatan kebijakan.

Dengan mendengarkan masukan dan saran dari para ahli, DPRA dapat menghasilkan kebijakan yang lebih berkualitas dan berdampak positif bagi dunia pendidikan di Aceh

Selain itu, DPRA juga perlu memperhatikan alokasi anggaran pendidikan Aceh, apalagi Anggaran yang dialokasikan kebanyakan untuk fisik saja, bukan untuk penguatan kapasitas Guru dan alat pendukung untuk menunjang kualitas pendidikan, dan juga yang sangat penting adalah pengangkatan kepala Dinas Pendidikan di Aceh harus selektif, jangan asal angkat, sehingga mengakibatkan bobroknya pendidikan Aceh

Dengan melibatkan semua pihak, termasuk DPRA, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, diharapkan Aceh dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui sumber daya manusia yang berkualitas. Karena “Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, kepekaan DPRA sangatlah penting dalam memastikan pendidikan yang berkualitas bagi generasi mendatang.

Dapat disimpulkan bahwa Kepekaan DPRA dalam peningkatan kualitas pendidikan di Aceh sangatlah krusial. Melalui kerjasama dan komitmen yang kuat, diharapkan tercipta sistem pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh Bangsa Aceh.***

Dibalik Sosok Lamine Yamal ada  Nenek Fatimah ‘sang’ Pejuang Pengubah Nasib Keluarga

0

Di balik setiap bakat besar, selalu ada kisah tentang perjuangan yang tak pernah terlihat. Untuk Lamine Yamal, sang bintang muda Spanyol yang baru saja mengantarkan negaranya meraih gelar juara Piala Dunia 2026, kisah itu dimulai bukan di lapangan hijau La Masia, melainkan di sebuah bus antarkota di Maroko, beberapa dekade sebelum ia lahir.

Inilah kisah tentang Fatima Romani, nenek dari pihak ayah Lamine, seorang perempuan Muslim Maroko yang dengan tekad baja mengubah nasib seluruh keluarganya.

Keputusan Nekat di Atas Bus dari Maroko

Tahun 1990, Fatima mengambil sebuah keputusan yang akan mengguncang masa depan keluarganya. Ia meninggalkan Maroko sendirian, tanpa dokumen, dan menyelinap naik bus yang tidak berhak ia tumpangi. Perjalanannya penuh ketidakpastian, berhenti di Algeciras dan Granada, hingga akhirnya tiba di Mataró, Catalonia.

Ia tiba dengan tangan kosong. Tanpa jaringan, tanpa uang, dan meninggalkan lima anaknya di Maroko. Fatima kemudian bekerja tanpa kenal lelah hingga tiga shift berbeda,sebagai pembantu rumah tangga, perawat lansia, dan berbagai pekerjaan lain. Tujuannya sederhana namun berat: mengumpulkan cukup uang untuk membawa anak-anaknya menyusul ke Spanyol.

Membangun Fondasi bagi Sebuah Keluarga

Pengorbanan Fatima bukanlah sekadar cerita inspiratif. Ini adalah fondasi nyata yang menjadi dasar kehidupan Lamine Yamal. Ketika ia sudah menabung cukup, ia membayar seorang wanita untuk membawa putranya, Mounir (ayah Lamine), dan saudara perempuannya yang saat itu masih berusia tiga tahun, ke Spanyol.

Bayangkan pengorbanan ini: seorang perempuan, sendirian di negara asing, bekerja tanpa kenal lelah, demi menyatukan kembali keluarganya.

Pengasuh Setia di Tengah Badai

Ketika Lamine lahir pada tahun 2007, kedua orang tuanya masih sangat muda (ibunya berusia 16 tahun). Saat Lamine menginjak usia tiga tahun, ayah dan ibunya berpisah.

Di momen sulit itulah, Fatima memegang peran yang sangat sentral. Ia menjadi pengasuh utama bagi Lamine, memastikan cucunya tumbuh di jalur yang benar di lingkungan sederhana Rocafonda, Mataró.

Fatima menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan kerendahan hati. Ia sering mengantar Lamine berjalan kaki atau naik transportasi umum ke tempat latihan sepak bola sebelum bakatnya terdeteksi La Masia. Baginya, cucunya adalah seorang Muslim yang taat, dan ia memastikan Lamine tumbuh dengan iman yang kuat.

Doa, Restu, dan Cinta yang Tak Tergantikan

Setiap kali hendak bertanding, Lamine selalu membaca Surat Al-Fatihah dan doa yang diajarkan sang nenek. Fatima berpesan “Aku selalu berkata kepadanya sebelum pertandingan, ucapkan ‘Ya Rabb, berilah aku taufik (keberhasilan) dan tolonglah aku “.

Ketika Lamine merayakan gol, selebrasinya yang ikonik membentuk angka “304” adalah penghormatan untuk kode pos Rocafonda (08304), lingkungan yang menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan sang nenek.

Membalas Budi Sang Nenek

Ketika kesuksesan datang, Lamine tidak pernah melupakan Fatima. Ia bahkan menunda sesi foto resmi perpanjangan kontrak dengan Barcelona hanya agar sang nenek bisa hadir. Ia juga membelikan rumah untuknya, namun Fatima menolak pindah, lebih memilih tetap tinggal di Rocafonda, di lingkungan yang telah menjadi rumahnya.

Lamine sendiri mengakui bahwa kebahagiaan terbesarnya adalah melihat keluarga yang dicintainya hidup damai setelah bertahun-tahun bergumul dengan kesulitan. Melihat “neneknya damai di rumahnya sendiri” adalah “segalanya yang bisa diimpikan oleh seorang anak”.

Warisan Seorang Nenek

Kisah Fatima Romani adalah pengingat bahwa di balik setiap bintang sepak bola yang bersinar di panggung dunia, ada figur-figur yang mungkin tak pernah muncul di layar kaca. Fatima mungkin tidak pernah memegang trofi, tetapi perjuangannya, pengorbanannya, dan cintanya adalah fondasi yang membuat Lamine Yamal berdiri di puncak dunia.

Ia adalah contoh nyata bahwa keberanian seorang ibu dan nenek bisa mengubah takdir sebuah bangsa.#LamineYamal #TimnasSpanyol #Pildun2026

Kematian Paling Romantis Dalam Perang Aceh

0

Dari sekian banyak pasangan suami istri pemimpin pejuang Aceh, syahidnya Teungku Di Barat dan istrinya merupakan kematian paling romantis, melebihi cerita roman manapun.

Seperti halnya kisah Teungku Di Barat, ia dan istrinya sama-sama menghadapi gempuran dan desingan peluru marsose Belanda. Keduanya bahu membahu dan sama-sama tewas dalam pertempuran, tidak sendiri-sendiri.

Dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh diceritakan, Teungku Di Barat bersama mertuanya Teungku Di Mata le alias Teungku Di Paya Bakong, merupakan ulama pemimpin pejuang Aceh di wilayah Keureuto (Aceh Utara) dan sekitarnya. Keduanya sangat disegani, sering memimpin serangkaian serangan ke bivak dan patroli Belanda.

Untuk menghadapi pasukan teungku di Barat ini, Pemerintah Kolonial Belanda mengerahkan 12 brigade pasukan marsose dari “kolone macan” yang terkenal beringas bin sadis yang dipimpin Kapten W.B.J.A Scheepens dan Kapten H. Christoffel. Teungku Di Barat dan istrinya tewas dalam pertempuran setelah terkena peluru pasukan Letnan Behrens pada tahun 1912.

Tentang bagaimana romantisnya kematian Teungku Di Barat dan istrinya itu, itu juga ditulis HC Zentgraaff dalam buku Atjeh seperti kutipan di bawah ini.

Pantas bagi kalian pujangga agung, salah seorang ulama paling terkenal di daerah Aceh bagian timur laut. Dia dan suaminya, bersama beberapa orang pengikutnya, telah diburu dengan ketat oleh pasukan kita, dalam rangka pengejaran yang tak kenal ampun, di mana para marsose dalam zaman itu mengerti akan rahasianya. Kemudian tibalah adegan terakhir dalam rangkaian tragedi itu. Teungku dan istrinya beserta beberapa orang pengikutnya, terkepung di antara tebing-tebing batu cadas.

Dalam detik saat di mana semua mereka memiliki semangat juang, berdirilah sang istri di samping suaminya. Sebuah peluru mengenai tangan kanan Teungku, ia mencabut rencong di pinggang dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya yang tertembak mengoper senapan yang dipegangnya itu kepada istrinya, yang kini merupakan pelindung, sekaligus berikan pengorbanan terhadap sang suami, berdiri tepat di depan suaminya; suatu ungkapan tauladan nan agung serta cinta bakti yang tinggi.

Demikianlah, wanita itu tegak berdiri di depan suaminya, dan sebuah peluru bersuratan nasib kini meluncur, menembus tubuh wanita itu, kemudian menembus pula tubuh suaminya. Kedua mereka rebahlah dengan seketika, dan tidak lama setelah suaminya tewas, gugur pulalah wanita itu. Akhir hayat yang bagi kedua mereka berarti “syahid”, kiranya telah memberikan rasa kebahagiaan yang tak dapat diduga oleh siapa pun betapa besar artinya.

HC Zentrgraaff seorang wartawan perang Belanda yang pernah terlibat dalam perang Aceh itu, sangat mengagumi kiprah perempuan Aceh dalam peperangan. Orang-orang Aceh, tulis Zentgraaff, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali, untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara para pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa. wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati.

Bahkan, mereka pun melampaui kaum lelaki Aceh yang sudah dikenal bukan sebagai lelaki yang lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka. Mereka memerima hak azasinya di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka di antara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama – sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya, dan dalam tangannya yang mungil itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di Jalan Allah mereka menolak segala macam kompromi …. ”

Kemudian Zentgraaff menulis, “dan adakah bangsa di muka bumi ini yang tidak akan menuliskan kejatuhan tokoh-tokoh heroik tersebut dengan rasa apresiasi yang begitu tinggi dalam buku sejarahnya?”

ujian yang sama juga disampaikan A. Doup dalam buku besar sejarah marsose di Aceh, Gedenkboek van het Korp Marechaussee 1890-1940. Dalam versi bahasa Inggris tertulis:

“Kepahlawaan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya seperti yang diperagakan selama perang Aceh, menimbulkan rasa hormat di pihak marsose, serta kekaguman akan keberanian, kerelaan gugur di medan tempur, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat yang sejati, sementara daya pengamatanya sangat tajam. la mengamat-amati setiap gerak pemimpin brigade dan ia tahu benar yang mana melakukan patroli dengan ceroboh, serta yang mana pula yang siap siaga dan berbaris teratur.”

 

Copy & edited dari @Aris faisal djamil

10 Hari Terakhir Ramadhan: Momentum Menyatukan Ibadah dan Kesehatan

0

Foto : Dr. Zikrur Rahmat, M.Pd Dosen Pendidika Jasmani/Wakil Direktur II Pascasarjana Universitas Bina Bangsa Getsempena

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan selalu menjadi periode yang paling dinantikan oleh umat Islam. Pada fase ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui berbagai amalan seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan dzikir, hingga melakukan i’tikaf di masjid. Selain diyakini sebagai waktu turunnya malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga menyimpan hikmah besar bagi kesehatan manusia, baik secara fisik maupun mental.

Dalam perspektif ilmu kesehatan modern, praktik ibadah yang dilakukan secara konsisten tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan hidup seseorang. Aktivitas religius yang dilakukan dengan penuh kesadaran mampu memberikan efek ketenangan psikologis, mengurangi stres, serta meningkatkan kebahagiaan individu.

Puasa Ramadhan sendiri telah menjadi objek penelitian ilmiah di berbagai bidang kesehatan. Selama kurang lebih 12 hingga 14 jam tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman. Kondisi ini mendorong tubuh untuk melakukan penyesuaian metabolisme dengan memanfaatkan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen dan lemak. Proses tersebut membantu tubuh menggunakan energi secara lebih efisien serta berkontribusi pada perbaikan metabolisme.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, seperti membantu menurunkan kadar kolesterol, memperbaiki profil lemak dalam darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan kata lain, puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesehatan tubuh.

Salah satu proses biologis penting yang terjadi selama puasa adalah autophagy, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik. Dalam proses ini, tubuh menghancurkan komponen sel yang sudah tidak optimal dan menggantinya dengan sel yang lebih sehat. Mekanisme tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan sel serta membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker, maupun gangguan saraf.

Selain puasa, aktivitas ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan juga melibatkan berbagai gerakan tubuh yang sebenarnya memiliki manfaat bagi kebugaran fisik. Gerakan dalam shalat seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk melibatkan banyak kelompok otot dan sendi dalam tubuh. Rangkaian gerakan tersebut secara tidak langsung berfungsi sebagai aktivitas fisik ringan yang membantu menjaga fleksibilitas otot dan memperlancar peredaran darah.

Gerakan sujud, misalnya, memungkinkan aliran darah menuju otak meningkat sehingga dapat memberikan efek relaksasi pada sistem saraf. Sementara itu, gerakan rukuk membantu meregangkan otot punggung dan menjaga keseimbangan struktur tulang belakang. Jika dilakukan secara rutin, rangkaian gerakan shalat dapat memberikan manfaat yang hampir serupa dengan latihan peregangan ringan atau stretching.

Di samping aktivitas ibadah, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan olahraga ringan secara terencana. Banyak orang beranggapan bahwa olahraga saat berpuasa dapat menyebabkan tubuh menjadi lemas. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang tetap aman dilakukan selama bulan Ramadhan apabila dilakukan pada waktu yang tepat.

Beberapa jenis olahraga yang dianjurkan antara lain jalan santai, jogging ringan, bersepeda, maupun latihan peregangan. Waktu yang paling ideal untuk berolahraga adalah menjelang waktu berbuka puasa atau setelah melaksanakan shalat tarawih. Pada waktu tersebut tubuh memiliki kesempatan untuk segera menggantikan cairan dan energi yang hilang setelah melakukan aktivitas fisik.

Olahraga ringan selama Ramadhan juga membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mempertahankan massa otot. Dengan demikian, puasa tidak menjadi penghalang untuk tetap menjalankan gaya hidup aktif dan sehat.

Selain itu, Ramadhan juga melatih seseorang untuk menjalani pola hidup yang lebih disiplin. Perubahan pola makan yang hanya dilakukan pada waktu sahur dan berbuka puasa membuat seseorang lebih sadar dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi. Jika diimbangi dengan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang, kondisi ini dapat membantu menjaga berat badan serta meningkatkan kesehatan metabolik.

Kebiasaan bangun pada malam hari untuk melaksanakan ibadah juga dapat membantu tubuh menyesuaikan ritme biologisnya. Dengan pengaturan waktu yang baik antara ibadah, istirahat, dan aktivitas fisik, tubuh dapat beradaptasi secara optimal terhadap perubahan pola aktivitas selama bulan Ramadhan.

Pada akhirnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan hanya momentum untuk meningkatkan kedekatan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki kualitas kesehatan secara menyeluruh. Puasa membantu tubuh melakukan proses regenerasi sel dan penyeimbangan metabolisme, sementara ibadah dan aktivitas fisik ringan membantu menjaga kebugaran tubuh.

Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai periode peningkatan ibadah semata, tetapi juga sebagai momentum membangun gaya hidup sehat yang seimbang antara aspek spiritual, fisik, dan mental. Jika dikelola dengan baik, Ramadhan dapat menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan manusia untuk hidup lebih sehat, disiplin, dan penuh makna.**

Tidak Ada Kompetisi yang Sehat “Sebuah refleksi tentang sekolah, ranking, dan anak-anak yang dipaksa selalu menang”

0

Tawakal (Dosen FKIP PENJAS Universitas Bina Bangsa Getsempena)

Kita sering diajarkan bahwa kompetisi itu sehat.
Katanya, persaingan membuat anak menjadi kuat, disiplin, dan berkembang. Ranking dianggap motivasi. Piala dianggap bukti keberhasilan. Juara dipandang sebagai tujuan utama pendidikan.

Tetapi semakin lama melihat dunia sekolah dan sepak bola usia dini, saya justru mulai bertanya:
benarkah kompetisi yang kita banggakan selama ini benar-benar sehat ?

Di sekolah, anak-anak dipaksa berlomba sejak kecil. Nilai dibandingkan. Ranking diumumkan. Yang berada di atas dipuji, yang di bawah perlahan merasa tidak berharga. Padahal kemampuan anak tidak pernah lahir dalam garis yang sama.

Ada anak yang hebat berhitung.
Ada yang lambat memahami pelajaran, tetapi sangat baik memimpin teman-temannya.
Ada yang tidak unggul di kelas, tetapi luar biasa kreatif. Ada pula yang hanya membutuhkan waktu lebih panjang untuk bertumbuh.

Sayangnya sistem pendidikan kita terlalu sering hanya memberi panggung kepada “siapa yang paling tinggi nilainya”. Akibatnya, sekolah berubah menjadi arena seleksi, bukan ruang tumbuh.

Anak belajar bukan karena cinta ilmu, tetapi karena takut kalah. Mereka membaca buku demi angka. Mereka menghafal demi ranking. Mereka cemas jika nilainya turun satu poin saja. Lalu perlahan semangat belajar itu hilang.

Banyak anak sebenarnya tidak bodoh. Mereka hanya lelah hidup dalam tekanan untuk selalu lebih baik dari orang lain.

Yang menyedihkan, budaya ini juga merambah dunia olahraga usia dini, terutama di sekolah sepak bola (SSB). Anak-anak datang ke lapangan dengan mimpi sederhana: ingin bermain, tertawa, dan mencintai sepak bola. Tetapi sering kali orang dewasa mengubah lapangan menjadi tempat ambisi.

Di pinggir lapangan, kita lebih sering mendengar: “Harus menang!” “Jangan kalah!” “Kalau kalah malu!”
Jarang sekali terdengar: “Sudah berkembang?” “Sudah lebih percaya diri?” “Sudah menikmati permainan?”

Akibatnya, banyak anak bermain dengan rasa takut, bukan rasa cinta. Mereka takut salah passing. Takut dimarahi pelatih. Takut mengecewakan orang tua. Bahkan ada anak usia dini yang merasa dirinya gagal hanya karena timnya kalah dalam turnamen.

Padahal sepak bola anak bukan tentang trofi.
Sepak bola usia dini seharusnya tentang pertumbuhan karakter, keberanian mencoba, kerja sama, disiplin, dan kegembiraan bermain.
Ironisnya, orang dewasa sering lebih terobsesi menjadi juara dibanding anak-anak itu sendiri.

Kita lupa bahwa tidak semua anak akan menjadi pemain profesional. Tetapi semua anak berhak mendapatkan pengalaman masa kecil yang sehat. Kompetisi sebenarnya bukan musuh. Yang menjadi masalah adalah cara kita memaknainya.

Kompetisi menjadi berbahaya ketika:
kemenangan lebih penting daripada proses, ranking lebih penting daripada perkembangan, hasil lebih dihargai daripada usaha, dan anak hanya dicintai saat menjadi juara.

Di titik itu, pendidikan kehilangan makna.
Olahraga kehilangan ruhnya. Dan anak-anak kehilangan keberanian untuk gagal. Padahal kegagalan adalah bagian paling penting dari belajar.

Anak yang selalu dituntut menang akan tumbuh menjadi pribadi yang takut mencoba hal baru. Sebab sejak kecil ia diajarkan bahwa kalah adalah aib. Sementara anak yang diberi ruang berkembang akan memahami bahwa jatuh adalah proses menuju kematangan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya: “Anak ini ranking berapa?”
“Sudah juara apa?”
Dan mulai bertanya: “Apakah dia masih senang belajar?”
“Apakah dia masih menikmati bermain?”
“Apakah dia tumbuh menjadi manusia yang sehat dan bahagia?”

Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan mencetak manusia yang pandai mengalahkan orang lain.

Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu mengenal dirinya sendiri, menghargai proses, dan tetap berdiri bahkan ketika tidak menjadi pemenang.

Sebab hidup tidak selalu tentang siapa yang paling depan. Kadang hidup hanya tentang siapa yang tetap berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.**

Fenomena Peredaran Tramadol dan Stigma Perantau Aceh di Pulau Jawa

0

Ilustrasi

Isu peredaran obat keras jenis tramadol di sejumlah kota di Pulau Jawa kembali mencuat di media sosial baik itu instagram, tiktok, facebook maupun whatsapp. Dalam berbagai pemberitaan, tak jarang muncul narasi yang mengaitkan pelaku dengan identitas tertentu, termasuk perantau asal Aceh. Narasi ini kemudian berkembang liar, membentuk stigma yang berbahaya: seolah-olah ada hubungan langsung antara asal daerah dan praktik ilegal.

Di sinilah masalahnya. Ketika publik terlalu cepat menarik kesimpulan, fakta menjadi kabur, dan keadilan sosial terancam.

Penting untuk ditegaskan sejak awal: kejahatan adalah tindakan individu, bukan identitas kolektif. Menggeneralisasi satu kelompok masyarakat berdasarkan ulah segelintir orang bukan hanya keliru, tetapi juga memperbesar potensi diskriminasi. Dalam konteks negara yang majemuk seperti Indonesia, cara pandang semacam ini adalah kemunduran.

Namun, menolak stigma bukan berarti menutup mata terhadap realitas. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peredaran tramadol ilegal memang terjadi dan melibatkan berbagai pihak. Pertanyaannya bukan “siapa asalnya?”, melainkan “mengapa ini bisa terjadi?”

Jawabannya tidak tunggal.

Pertama, tekanan ekonomi masih menjadi akar klasik. Perantauan ke pulau Jawa sering dilihat sebagai jalan keluar dari keterbatasan ekonomi di daerah. Namun, realitas di kota besar tidak selalu ramah. Minimnya keterampilan, terbatasnya akses pekerjaan formal, dan tingginya biaya hidup menciptakan situasi rentan. Dalam kondisi terdesak, sebagian orang tergoda mengambil jalan pintas, termasuk terlibat dalam perdagangan obat ilegal yang menjanjikan keuntungan cepat.

Kedua, celah pengawasan distribusi obat keras masih terbuka lebar. Tramadol sejatinya merupakan obat medis yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Namun dalam praktiknya, obat ini kerap beredar bebas di pasar gelap. Lemahnya kontrol distribusi, ditambah pengawasan yang tidak konsisten, menjadikan tramadol komoditas yang relatif mudah diakses dan diperjualbelikan dengan bebas seperti tanpa pengawasan dari pihak penegak hukum.

Ketiga, faktor jaringan sosial turut memperkuat fenomena ini. Perantau baru sering kali bergantung pada jaringan yang sudah ada. Ketika jaringan tersebut berada dalam lingkaran aktivitas ilegal, maka risiko untuk ikut terlibat menjadi lebih besar. Ini bukan soal etnis, melainkan soal ekosistem sosial yang terbentuk tanpa pengawasan.

Sayangnya, alih-alih membedah akar persoalan, sebagian publik justru terjebak pada penyederhanaan: mencari “kambing hitam” berbasis identitas. Cara ini mungkin memuaskan emosi sesaat, tetapi sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Pendekatan yang dibutuhkan jauh lebih komprehensif.
Penegakan hukum tetap penting, tetapi tidak cukup. Negara harus memperkuat pengawasan distribusi obat keras dari hulu ke hilir. Di saat yang sama, kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan perlu hadir sebagai solusi nyata bagi kelompok rentan, termasuk para perantau. Edukasi tentang bahaya penyalahgunaan obat juga harus diperluas, terutama di kalangan generasi muda.

Lebih dari itu, masyarakat perlu membangun literasi sosial yang sehat: kemampuan untuk memilah informasi, menolak stigma, dan berpikir kritis terhadap narasi yang berkembang.

Karena pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang Aceh, Jawa, atau daerah mana pun. Ini adalah tentang bagaimana kita sebagai bangsa menghadapi masalah kompleks tanpa kehilangan akal sehat dan rasa keadilan.

Jika kita terus memelihara stigma, maka yang kita bangun bukan solusi—melainkan jurang pemisah yang semakin dalam.**

Definisi Sukses Versi Purbaya : Mati Masuk Surga !

0

Spiritual Motivations MUN-Solutions

Dalam dunia yang dikuasai angka, grafik, dan laporan keuangan, definisi sukses sering kali diukur dengan seberapa tinggi seseorang mampu menaikkan kurva kekayaannya. Banyak yang menganggap sukses berarti memiliki rumah megah, jabatan prestisius, rekening gemuk, atau bahkan pengaruh besar di ruang publik. Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh kompetisi ini, pernyataan dari Menteri Purbaya Yudhi Sadewa mengguncang paradigma banyak orang: “Definisi sukses adalah mati masuk surga.”

Pernyataan ini sederhana, namun sangat dalam secara spiritual dan ilmiah. Ia menembus batas antara ekonomi dan eskatologi, antara dunia yang sementara dan kehidupan yang abadi. Kalimat itu mengandung pesan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang apa yang dicapai di dunia, melainkan tentang apa yang dibawa ke akhirat.

1. Perspektif Spiritual: Sukses yang Melampaui Dunia

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung (sukses).”
(QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menegakan bahwa keberhasilan duniawi hanyalah sementara, sedangkan keberhasilan sejati adalah keselamatan di akhirat. Dalam pandangan Islam, sukses bukan sekadar having more, tetapi being more, menjadi pribadi yang lebih berarti, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian, sukses bukanlah tentang seberapa banyak kita mengambil dari dunia, tetapi seberapa banyak kita memberi kepada dunia dengan niat karena Allah.

2. Perspektif Ilmiah dan Psikologis: Transendensi sebagai Puncak Aktualisasi

Dalam teori psikologi modern, khususnya piramida kebutuhan Abraham Maslow, puncak kebutuhan manusia bukan lagi aktualisasi diri, melainkan transendensi, kebutuhan untuk melampaui diri sendiri dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan atau makna hidup yang luhur.

Maslow pada masa akhir hidupnya menyadari bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar bahagia hanya dengan pencapaian material. Kebutuhan spiritual, rasa makna, dan kontribusi sosial merupakan unsur utama kebahagiaan yang otentik.

Oleh karena itu, ketika Purbaya menyebut “mati masuk surga” sebagai definisi sukses, ia sesungguhnya sedang menegaskan puncak kesadaran transendental, titik tertinggi di mana seseorang menilai hidupnya bukan dari pencapaian finansial, tetapi dari nilai moral, kebermanfaatan, dan keikhlasan amal.

3. Sukses Dunia: Jalan Menuju Akhirat

Islam tidak menolak sukses dunia. Justru, dunia adalah ladang amal. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dunia adalah ladang bagi akhirat.” Artinya, setiap kesuksesan duniawi, kekayaan, ilmu, jabatan, kekuasaan, menjadi bermakna hanya bila digunakan untuk menebar manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang kaya yang dermawan, pejabat yang adil, pengusaha yang amanah, guru yang ikhlas, mereka semua sedang menanam benih sukses akhirat melalui peran duniawi mereka.

Sebagaimana firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan keseimbangan: dunia bukan tujuan, tetapi kendaraan menuju surga.

4. Transformasi Konsep Sukses: Dari Ego ke Makna

Banyak orang sukses secara duniawi, namun hampa secara spiritual. Mereka memiliki segalanya, tapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, banyak orang sederhana yang hidupnya penuh kedamaian karena mereka menemukan makna hidup di jalan kebaikan.

Keberhasilan spiritual menuntut perubahan orientasi dari egoistik menjadi altruistik, dari memiliki menjadi memberi, dan dari menonjolkan diri menjadi menundukkan hati. Di sinilah letak kebijaksanaan sejati seorang pemimpin, seperti pesan Purbaya: “Berbuat baik ke sesama adalah bagian dari sukses itu sendiri.”

5. Kesimpulan: Sukses Sejati Adalah Keselamatan

Definisi sukses versi Purbaya, “mati masuk surga”, seolah mengembalikan kesadaran manusia kepada fitrah penciptaannya: “hidup bukan sekadar untuk berkompetisi, tetapi untuk berkontribusi; bukan sekadar untuk berkuasa, tetapi untuk berbakti.”

Sukses dunia memang sangat penting, tapi ia hanya akan sangat berarti bila menjadi jembatan menuju sukses akhirat. Karena pada akhirnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Maka, definisi sukses sejati bukan sekadar meninggalkan jejak di bumi, tetapi meninggalkan cahaya di langit. Pesan MUN-Solutions:

“Sukses sejati bukan diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari berapa banyak hati yang kita sentuh dan amal yang kita bawa pulang menuju keabadian.”

Fungsi Wartawan Secara Umum Mengumpulkan Data dan Menginformasikan Melalui Media

0

MEDIANAD.COM, SABANG – Fungsi wartawan secara umum adalah untuk mengumpulkan, menulis, dan menyampaikan informasi kepada publik melalui berbagai media seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, dan platform digital. Beberapa fungsi penting wartawan antara lain:

1. Menyampaikan Informasi: Wartawan bertugas untuk menginformasikan peristiwa, kejadian, dan isu yang terjadi di masyarakat kepada publik. Informasi yang disampaikan bisa berupa berita lokal, nasional, maupun internasional.

2. Penyiaran Fakta dan Kebenaran: Wartawan harus memastikan bahwa informasi yang disampaikan akurat dan berdasarkan fakta. Mereka harus memverifikasi sumber informasi dan melakukan riset untuk menghindari penyebaran hoaks atau informasi yang salah.

3. Kontrol Sosial: Wartawan berfungsi sebagai pengawas terhadap berbagai lembaga, termasuk pemerintah, korporasi, dan organisasi lain. Mereka berperan dalam menyoroti ketidakadilan, menyelidiki kasus-kasus korupsi, serta mendesak perubahan melalui pemberitaan.

4. Edukasi Masyarakat: Selain menyampaikan berita, wartawan juga mengedukasi masyarakat dengan memberikan informasi yang bermanfaat, yang dapat membantu pembaca atau pendengar untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

5. Meningkatkan Kesadaran Publik: Wartawan membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu penting, baik itu di bidang politik, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain. Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat lebih paham dan peduli terhadap kondisi di sekitar mereka.

6. Membangun Opini Publik: Melalui analisis, opini, dan artikel mendalam, wartawan juga berperan dalam membentuk dan memengaruhi opini publik tentang suatu isu. Mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda agar masyarakat bisa berpikir kritis.

7. Menjaga Demokrasi: Dalam konteks negara demokratis, wartawan memainkan peran penting dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pemerintah. Mereka bertugas memastikan bahwa masyarakat mendapat akses informasi yang cukup untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan politik.(man).

Popular Posts

My Favorites

Babinsa Koramil 01/Sukajaya Dampingi Petani Jagung di Jurong Cot Preh

0
MEDIANAD.COM, SABANG  – Babinsa 08 Koramil 01/Sukajaya, Kodim 0112/Sabang, Sertu Junaidi melaksanakan pendampingan kepada petani jagung di Jurong Cor Preh, Gampong Paya, Kecamatan Sukamakmue....