Opini

Beranda Opini
Opini

Kematian Paling Romantis Dalam Perang Aceh

0

Dari sekian banyak pasangan suami istri pemimpin pejuang Aceh, syahidnya Teungku Di Barat dan istrinya merupakan kematian paling romantis, melebihi cerita roman manapun.

Seperti halnya kisah Teungku Di Barat, ia dan istrinya sama-sama menghadapi gempuran dan desingan peluru marsose Belanda. Keduanya bahu membahu dan sama-sama tewas dalam pertempuran, tidak sendiri-sendiri.

Dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh diceritakan, Teungku Di Barat bersama mertuanya Teungku Di Mata le alias Teungku Di Paya Bakong, merupakan ulama pemimpin pejuang Aceh di wilayah Keureuto (Aceh Utara) dan sekitarnya. Keduanya sangat disegani, sering memimpin serangkaian serangan ke bivak dan patroli Belanda.

Untuk menghadapi pasukan teungku di Barat ini, Pemerintah Kolonial Belanda mengerahkan 12 brigade pasukan marsose dari “kolone macan” yang terkenal beringas bin sadis yang dipimpin Kapten W.B.J.A Scheepens dan Kapten H. Christoffel. Teungku Di Barat dan istrinya tewas dalam pertempuran setelah terkena peluru pasukan Letnan Behrens pada tahun 1912.

Tentang bagaimana romantisnya kematian Teungku Di Barat dan istrinya itu, itu juga ditulis HC Zentgraaff dalam buku Atjeh seperti kutipan di bawah ini.

Pantas bagi kalian pujangga agung, salah seorang ulama paling terkenal di daerah Aceh bagian timur laut. Dia dan suaminya, bersama beberapa orang pengikutnya, telah diburu dengan ketat oleh pasukan kita, dalam rangka pengejaran yang tak kenal ampun, di mana para marsose dalam zaman itu mengerti akan rahasianya. Kemudian tibalah adegan terakhir dalam rangkaian tragedi itu. Teungku dan istrinya beserta beberapa orang pengikutnya, terkepung di antara tebing-tebing batu cadas.

Dalam detik saat di mana semua mereka memiliki semangat juang, berdirilah sang istri di samping suaminya. Sebuah peluru mengenai tangan kanan Teungku, ia mencabut rencong di pinggang dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya yang tertembak mengoper senapan yang dipegangnya itu kepada istrinya, yang kini merupakan pelindung, sekaligus berikan pengorbanan terhadap sang suami, berdiri tepat di depan suaminya; suatu ungkapan tauladan nan agung serta cinta bakti yang tinggi.

Demikianlah, wanita itu tegak berdiri di depan suaminya, dan sebuah peluru bersuratan nasib kini meluncur, menembus tubuh wanita itu, kemudian menembus pula tubuh suaminya. Kedua mereka rebahlah dengan seketika, dan tidak lama setelah suaminya tewas, gugur pulalah wanita itu. Akhir hayat yang bagi kedua mereka berarti “syahid”, kiranya telah memberikan rasa kebahagiaan yang tak dapat diduga oleh siapa pun betapa besar artinya.

HC Zentrgraaff seorang wartawan perang Belanda yang pernah terlibat dalam perang Aceh itu, sangat mengagumi kiprah perempuan Aceh dalam peperangan. Orang-orang Aceh, tulis Zentgraaff, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali, untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara para pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa. wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati.

Bahkan, mereka pun melampaui kaum lelaki Aceh yang sudah dikenal bukan sebagai lelaki yang lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka. Mereka memerima hak azasinya di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka di antara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama – sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya, dan dalam tangannya yang mungil itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di Jalan Allah mereka menolak segala macam kompromi …. ”

Kemudian Zentgraaff menulis, “dan adakah bangsa di muka bumi ini yang tidak akan menuliskan kejatuhan tokoh-tokoh heroik tersebut dengan rasa apresiasi yang begitu tinggi dalam buku sejarahnya?”

ujian yang sama juga disampaikan A. Doup dalam buku besar sejarah marsose di Aceh, Gedenkboek van het Korp Marechaussee 1890-1940. Dalam versi bahasa Inggris tertulis:

“Kepahlawaan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya seperti yang diperagakan selama perang Aceh, menimbulkan rasa hormat di pihak marsose, serta kekaguman akan keberanian, kerelaan gugur di medan tempur, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat yang sejati, sementara daya pengamatanya sangat tajam. la mengamat-amati setiap gerak pemimpin brigade dan ia tahu benar yang mana melakukan patroli dengan ceroboh, serta yang mana pula yang siap siaga dan berbaris teratur.”

 

Copy & edited dari @Aris faisal djamil

Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, “Indahnya Kampus Tanpa Rokok”

0

Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, menghadirkan wajah Kampus yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga sehat secara moral dan sosial melalui komitmennya sebagai kampus tanpa rokok. (foto/dok UBBG)

KAMPUS bukan sekadar kumpulan gedung dan ruang kelas. Ia adalah ruang pembentukan peradaban, tempat nilai, etika, dan kesadaran intelektual ditanamkan.

Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, ACEH menghadirkan wajah kampus yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga sehat secara moral dan sosial melalui komitmennya sebagai kampus tanpa rokok.

Di tengah budaya merokok yang masih mengakar kuat di ruang publik, kehadiran kampus bebas rokok adalah pernyataan sikap, bahwa pendidikan tinggi berpihak pada kesehatan, akal sehat, dan masa depan generasi muda.
Kampus Sehat, Pikiran Pun Jernih

Lingkungan kampus tanpa asap rokok menciptakan ruang belajar yang bersih, nyaman, dan kondusif. Mahasiswa dapat berdiskusi, membaca, dan beraktivitas akademik tanpa gangguan polusi rokok. Dosen dan tenaga kependidikan pun bekerja dalam suasana yang lebih manusiawi dan sehat.

Kampus yang sehat adalah fondasi bagi lahirnya pikiran yang jernih dan ilmu yang berkualitas. Keindahan kampus UBBG tidak hanya terlihat dari tata ruang dan kebersihannya, tetapi juga terasa dalam atmosfernya.

Tidak ada bau asap rokok di sudut-sudut kampus, tidak ada puntung berserakan, dan tidak ada ruang publik yang dikotori kebiasaan merusak kesehatan. Keindahan semacam ini adalah keindahan yang lahir dari kesadaran kolektif, bukan sekadar aturan tertulis.

Pendidikan Karakter dalam Tindakan Nyata
Kampus tanpa rokok bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi bentuk pendidikan karakter yang nyata. Mahasiswa belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama melalui praktik sehari-hari.

Di UBBG, larangan merokok bagi siapa saja yang beradab dalam ruang lingkup kampus bukan bentuk pembatasan kebebasan, melainkan upaya mendidik mahasiswa agar memahami bahwa kebebasan selalu disertai tanggung jawab sosial.

Sejalan dengan nilai Aceh dan spirit keilmuan
Sebagai kampus yang tumbuh di Aceh, UBBG menunjukkan keselarasan antara nilai akademik, kesehatan, dan nilai keislaman.

Menjaga diri dan lingkungan dari hal yang membahayakan adalah bagian dari prinsip menjaga akal dan jiwa nilai fundamental dalam ajaran Islam. Kampus tanpa rokok adalah wujud konkret bahwa ilmu, iman, dan adab dapat berjalan seiring.

Teladan bagi Kampus Lain

Di saat sebagian kampus masih permisif terhadap rokok, UBBG tampil sebagai teladan keberanian moral. Kebijakan ini menunjukkan bahwa kampus mampu memimpin perubahan sosial, bukan sekadar mengikuti kebiasaan yang sudah mapan. Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga laboratorium peradaban.

Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh membuktikan bahwa kampus tanpa rokok bukanlah utopia. Ia nyata, indah, dan bermakna. Keindahan itu tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menjaga kesehatan, menenangkan pikiran, dan mendidik karakter.

Di kampus seperti inilah ilmu tumbuh dengan adab, dan generasi masa depan disiapkan dengan kesadaran. Karena kampus yang bebas asap rokok adalah kampus yang berpihak pada kehidupan.

Kampus Tanpa Rokok, Fondasi Olahraga dan Kesehatan Civitas Akademika

Kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga lingkungan pembentukan gaya hidup sehat. Di kampus, mahasiswa tidak hanya diasah kemampuan berpikirnya, tetapi juga dibentuk kesadarannya tentang pentingnya menjaga kesehatan jasmani sebagai penopang kesehatan mental dan prestasi akademik.

Olahraga dan kesehatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Lingkungan yang bersih dari asap rokok menjadi prasyarat dasar bagi aktivitas fisik yang aman dan nyaman. Kampus tanpa rokok menyediakan ruang yang layak bagi mahasiswa untuk berjalan kaki, berolahraga ringan, maupun mengikuti kegiatan olahraga kampus tanpa harus terpapar polusi udara.

Lingkungan kampus yang bebas asap rokok menciptakan kualitas udara yang lebih baik. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan pernapasan, daya tahan tubuh, serta kebugaran mahasiswa dan dosen. Dalam jangka panjang, kawasan kampus tanpa rokok mendukung terbentuknya budaya hidup aktif dan sehat, sejalan dengan semangat olahraga kesehatan.

Keindahan kampus UBBG tidak hanya terlihat dari tata ruang dan kebersihannya, tetapi juga dari suasana yang mendukung aktivitas fisik.

Tidak adanya asap rokok di area kampus membuat ruang terbuka dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai tempat interaksi sosial dan kegiatan olahraga sederhana yang menyehatkan seperti senam kebugaran jasmani salah satu contohnya.

Apa yang diterapkan Universitas Bina Bangsa Getsempena layak menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain dan ruang publik di Aceh. Kampus seharusnya menjadi pelopor perubahan, termasuk dalam membangun budaya hidup sehat.

Pada akhirnya, kampus yang indah bukan hanya soal bangunan dan fasilitas, tetapi juga tentang udara yang bersih, lingkungan yang nyaman, serta mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kebugaran jasmani. Kampus tanpa rokok adalah bagian dari upaya kecil namun bermakna menuju masa depan yang lebih sehat dan beradab. (tawakal)

Tawakal berprofesi sebagai Dosen hingga Pelatih futsal berlisensi

0

BIREUEN, MEDIANAD.COM : Tawakal SPd MPd nama lengkap pemuda yang berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (FKIP PENJAS UNIKI) Bireuen merupakan Pemuda Kelahiran Bireuen, 20 November 1992.

Pada masa bangku sekolah, Tawakal sempat menekuni olahraga Sepakbola, namun saat sudah duduk di bangku perguruan tinggi, Tawakal mulai beralih menekuni futsal di kampusnya, di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Tawakal menjadi salah satu pemain utama di tim binaan perguruan tersebut yaitu Himadirga (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Olahraga) FKIP Unsyiah dan Unsyiah FC. Pemuda yang kerap di sapa TW ini sempat membawa timnya Juara POMDA (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah)Hinga pernah mewakili Aceh pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa (POMNAS) di Batam-Kepulauan Riau, Juara Piala Menpora antar mahasiswa Se Sumatera, dan juara Piala Piala Nol Kilometer di kota paling barat Indonesia yaitu Sabang. Itu adalah bukti andil service Tawakal ketika menggocek sikulit bundar.

Pada akhir tahun 2017 Tawakal yang notabenenya masih aktif bermain futsal dan sepakbola, mendapat kesempatan menarik Dari hasil kinerjanya, yaitu ditawari untuk mengambil lisensi ilmu kepelatihan futsal di kota penghasil empek-empek Palembang (Sumatra Selatan) oleh tim futsal amatir di Kota Banda Aceh Fair Play FC dan langsung mendapat rekomendasi dari Asosiasi Futsal Kabupaten Bireuen yang mana Kota Juang itu adalah tanah kelahiran pria 32 tahun ini.
Selepas dari mengikuti ilmu kepelatihan di Palembang, Tawakal langsung ditawari oleh dua tim di Aceh dengan event yang berbeda yaitu yang pertama Genksi Fc Pidie (ajang Liga Futsal Nusantara regional Aceh) saat itu berhasil mencapai semifinalis,dan juga Untuk PORA Futsal Bireuen (ajang pesta olaharaga 4 tahunan di Aceh yang bernama Pekan Olahraga Aceh) pada tahun 2018 silam. pada debutnya masa itu, tawakal bisa disebut masih belia dalam ilmu kepelatihan perfutsalannya.

Selanjutnya tahun 2019 tawakal sempat melatih di Akademi Futsal Aceh (AFA) dan berhasil Merebut piala Asosiasi Akademi Futsal Indonesia (AAFI) regional Aceh dikelompok umur 12 tahun yaitu Juara 2 piala AAFI regional Banda Aceh dan juara 1 regional Aceh sebelum mewakili Aceh di pentas piala AAFI nasional.
2020 sampai tahun 2022 dia menjabat sebagai pelatih futsal klub amatir Rumoh Futsal Club yang berdomisili di Kutaraja (Banda Aceh). Lalu ditahun 2021 Tawakal kembali ditinjuk untuk menahkodai tim Futsal Kabupaten Bireuen untuk persiapan ajang kualifikasi Pora atau sering disebut Pra-Pora usia dibawah 23 tahun.

Baru-baru ini Tawakal Dipercayai sebagai pelatih kepala tim Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Aceh pada ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (PORWANAS) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagai seorang yang dipercaya menjadi pelatih menurutnya banyak tantangan yang ia harus hadapi. “Karena ternyata jadi pelatih itu hal yang lumayan sulit. Pertama kita harus bisa melakukan pendekatan emosional dengan atletnya, kemudian membuat program yang sesuai untuk latihan, dan saat pertandingan setiap atlet membuat saya merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kemenangan atlet,” Tambah Tawakal.

Sedangkan tantangan yang dihadapi Tawakal dalam menjadi dosen Penjas adalah bagaimana dalam mengembangkan potensi mahasiswa Penjas untuk bisa berprestasi serta berkontribusi bagi kemajuan universitas, lingkup nasional hingga kancah internasional.

“Suka duka saya menjadi dosen adalah yang pertama suka dulu ya, saya senang bisa berinterkasi kepada mahasiswa dari berbagai macam daerah. Saya bisa mengaplikasi keilmuan yang saya miliki. Sedangkan menurut saya duka menjadi dosen itu tidak ada, karena saya sudah menyukai profesi saya secara keseluruhan,” ungkapnya.

Tawakal berharap kepada sesama dosen muda, untuk selalu semangat dalam menjadi tenaga pendidik untuk memajukan anak bangsa, demi tujuan bersama dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berintelektual tinggi di bidangnya masing-masing.

“Menurut saya mengembangkan keilmuan kita dalam bidang ilmu masing-masing, dan harus fokus pada bidang ilmu yang ditekuni, serta jangan pernah berpatokan pada materi yang kita raih ketika menjadi dosen,” ujarnya.

Tawakal melanjutkan sebagai dosen jangan pernah bernah berpikir untuk dilayani, karena seharusya kitalah yang melayani mahasiswa serta memberikan contoh teladan yang bagi semua. Intinya harus menjadi panutan bagi mahasiswa, teman bagi mahasiswa, teman sejawat, dan lingkungan masyarakat.

“Harapan saya Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen ini bisa menjadi Universitas yang besar dan berkembang, menjadi salah satu universitas ternama di Indonesia. Perlu adanya perbaikan serta peningkatan fasilitas-fasilitas yang masih kurang di Unived, termasuk peningkatan SDM, dengan cara memberikan dan membiayai pelatihan, seminar bagi dosen baik sebagai pembicara ataupun peserta di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

Ia juga menambahkan, semoga mahasiswa Penjas Uniki bisa bersaing serta menjadi pendidik maupun pelatih yang berkualitas nantinya. Sehingga bisa memberikan dampak positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia terutama di Provinsi Aceh khususnya di Kabupaten Bireuen ini, tutup Pria yang kerap disapa Coach Tawakal.

10 Hari Terakhir Ramadhan: Momentum Menyatukan Ibadah dan Kesehatan

0

Foto : Dr. Zikrur Rahmat, M.Pd Dosen Pendidika Jasmani/Wakil Direktur II Pascasarjana Universitas Bina Bangsa Getsempena

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan selalu menjadi periode yang paling dinantikan oleh umat Islam. Pada fase ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui berbagai amalan seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan dzikir, hingga melakukan i’tikaf di masjid. Selain diyakini sebagai waktu turunnya malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga menyimpan hikmah besar bagi kesehatan manusia, baik secara fisik maupun mental.

Dalam perspektif ilmu kesehatan modern, praktik ibadah yang dilakukan secara konsisten tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan hidup seseorang. Aktivitas religius yang dilakukan dengan penuh kesadaran mampu memberikan efek ketenangan psikologis, mengurangi stres, serta meningkatkan kebahagiaan individu.

Puasa Ramadhan sendiri telah menjadi objek penelitian ilmiah di berbagai bidang kesehatan. Selama kurang lebih 12 hingga 14 jam tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman. Kondisi ini mendorong tubuh untuk melakukan penyesuaian metabolisme dengan memanfaatkan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen dan lemak. Proses tersebut membantu tubuh menggunakan energi secara lebih efisien serta berkontribusi pada perbaikan metabolisme.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, seperti membantu menurunkan kadar kolesterol, memperbaiki profil lemak dalam darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan kata lain, puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesehatan tubuh.

Salah satu proses biologis penting yang terjadi selama puasa adalah autophagy, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik. Dalam proses ini, tubuh menghancurkan komponen sel yang sudah tidak optimal dan menggantinya dengan sel yang lebih sehat. Mekanisme tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan sel serta membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker, maupun gangguan saraf.

Selain puasa, aktivitas ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan juga melibatkan berbagai gerakan tubuh yang sebenarnya memiliki manfaat bagi kebugaran fisik. Gerakan dalam shalat seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk melibatkan banyak kelompok otot dan sendi dalam tubuh. Rangkaian gerakan tersebut secara tidak langsung berfungsi sebagai aktivitas fisik ringan yang membantu menjaga fleksibilitas otot dan memperlancar peredaran darah.

Gerakan sujud, misalnya, memungkinkan aliran darah menuju otak meningkat sehingga dapat memberikan efek relaksasi pada sistem saraf. Sementara itu, gerakan rukuk membantu meregangkan otot punggung dan menjaga keseimbangan struktur tulang belakang. Jika dilakukan secara rutin, rangkaian gerakan shalat dapat memberikan manfaat yang hampir serupa dengan latihan peregangan ringan atau stretching.

Di samping aktivitas ibadah, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan olahraga ringan secara terencana. Banyak orang beranggapan bahwa olahraga saat berpuasa dapat menyebabkan tubuh menjadi lemas. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang tetap aman dilakukan selama bulan Ramadhan apabila dilakukan pada waktu yang tepat.

Beberapa jenis olahraga yang dianjurkan antara lain jalan santai, jogging ringan, bersepeda, maupun latihan peregangan. Waktu yang paling ideal untuk berolahraga adalah menjelang waktu berbuka puasa atau setelah melaksanakan shalat tarawih. Pada waktu tersebut tubuh memiliki kesempatan untuk segera menggantikan cairan dan energi yang hilang setelah melakukan aktivitas fisik.

Olahraga ringan selama Ramadhan juga membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mempertahankan massa otot. Dengan demikian, puasa tidak menjadi penghalang untuk tetap menjalankan gaya hidup aktif dan sehat.

Selain itu, Ramadhan juga melatih seseorang untuk menjalani pola hidup yang lebih disiplin. Perubahan pola makan yang hanya dilakukan pada waktu sahur dan berbuka puasa membuat seseorang lebih sadar dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi. Jika diimbangi dengan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang, kondisi ini dapat membantu menjaga berat badan serta meningkatkan kesehatan metabolik.

Kebiasaan bangun pada malam hari untuk melaksanakan ibadah juga dapat membantu tubuh menyesuaikan ritme biologisnya. Dengan pengaturan waktu yang baik antara ibadah, istirahat, dan aktivitas fisik, tubuh dapat beradaptasi secara optimal terhadap perubahan pola aktivitas selama bulan Ramadhan.

Pada akhirnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan hanya momentum untuk meningkatkan kedekatan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki kualitas kesehatan secara menyeluruh. Puasa membantu tubuh melakukan proses regenerasi sel dan penyeimbangan metabolisme, sementara ibadah dan aktivitas fisik ringan membantu menjaga kebugaran tubuh.

Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai periode peningkatan ibadah semata, tetapi juga sebagai momentum membangun gaya hidup sehat yang seimbang antara aspek spiritual, fisik, dan mental. Jika dikelola dengan baik, Ramadhan dapat menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan manusia untuk hidup lebih sehat, disiplin, dan penuh makna.**

Inilah Profil M Hendra Supardi, Plt Dirut Bank Aceh Syariah yang Baru, Ini Background-nya

0
Hendra Supardi Plt Dirut BAS

MEDIANAD.COM – M Hendra Supardi resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Bank Aceh Syariah.

Penunjukan tersebut berdasarkan Keputusan Dewan Komisaris yang telah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Dengan penunjukan ini, M Hendra Supardi menggantikan Fadhil Ilyas yang sebelumnya menjabat sebagai Plt Direktur Utama sekaligus Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah.

Sekretariat Perusahaan Bank Aceh Syariah, Iskandar, mengatakan, penggantian Plt Dirut ini dilakukan dalam rangka mempertimbangkan agar pelaksanaan tanggung jawab mitigasi risiko dalam pengelolaan bank tidak bertumpu pada satu orang.

Selain itu, untuk memastikan tata kelola sesuai dengan Peraturaan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17 Tahun 2023 dan AD/ART Bank Aceh, serta sudah mendapatkan pencatatan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 14 Februari 2025.

“Dengan pengalaman dan kepemimpinan yang dimiliki, beliau diharapkan mampu membawa Bank Aceh Syariah semakin maju dan terus meningkatkan kualitas layanan perbankan syariah bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya,” ujar Iskandar, dikutip dari Prohaba.

Lantas, seperti apa profil M Hendra Supardi ini?

Profil M Hendra Supardi

M Hendra Supardi merupakan pria yang berpengalaman di bidang perbankan.

Nama lengkapnya adalah Muhammad Hendra Supardi.

Ia lahir di Lamno, Aceh, 10 Agustus 1982.

Saat ini, M Hendra Supardi menjabat sebagai Plt Dirut Bank Aceh Syariah.

Diketahui, M Hendra Supardi sempat menempuh pendidikan di jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi UIN Ar Raniry.

Setelah meraih gelar S1 dan lulus pada tahun 2004, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh.

Tahun 2016, M Hendra Supardi lulus dan meraih gelar Magister (S2).

Sebelum menjabat sebagai Plt Direktur Utama Bank Aceh Syariah, M Hendra Supardi menjabat sebagai Direktur Dana dan Jasa di Bank Aceh Pusat.

Penunjukan Hendra sebagai Plt Direktur Utama dilakukan pada 18 Februari 2025, menggantikan posisi Faadhil Ilyas setelah melalui proses review.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang kuat, Hendra Supardi diharapkan mampu memimpin Bank Aceh Syariah menuju keberhasilan yang lebih besar di masa depan.(*)

 

 

Massage di Bulan Ramadhan: Menjaga Kebugaran Tubuh di Tengah Ibadah Puasa

0

Foto : Dr. Didi Yudha Pranata, M.Pd. Dosen Pendidikan Jasmani/Wakil Direktur I Pascasarjana Universitas Bina Bangsa Getsempena.

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus latihan pengendalian diri. Namun di balik nilai spiritual yang tinggi tersebut, perubahan pola aktivitas, pola makan, dan pola istirahat selama Ramadhan sering kali memengaruhi kondisi fisik seseorang.

Banyak orang tetap menjalankan aktivitas harian seperti bekerja, belajar, maupun berolahraga ringan selama menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kelelahan tubuh, ketegangan otot, bahkan penurunan energi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pemulihan tubuh yang tepat agar kondisi fisik tetap optimal selama bulan Ramadhan. Salah satu metode yang mulai banyak diperhatikan dalam perspektif kesehatan modern adalah terapi massage atau pijat.

Dalam ilmu kesehatan dan olahraga, massage merupakan teknik manipulasi jaringan lunak tubuh seperti otot, tendon, dan ligamen yang bertujuan meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, serta memberikan efek relaksasi pada tubuh. Terapi ini telah lama digunakan sebagai bagian dari proses pemulihan fisik setelah aktivitas olahraga maupun untuk menjaga kebugaran tubuh secara umum.

Selama bulan Ramadhan, massage dapat memberikan sejumlah manfaat penting bagi tubuh. Salah satunya adalah membantu meningkatkan sirkulasi darah. Ketika seseorang menjalani puasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme karena asupan energi hanya diperoleh pada waktu tertentu, yaitu saat sahur dan berbuka. Melalui teknik pijatan yang tepat, aliran darah dapat menjadi lebih lancar sehingga distribusi oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh dapat berlangsung lebih optimal. Hal ini penting untuk membantu proses regenerasi sel serta menjaga fungsi organ tubuh tetap baik.

Selain itu, massage juga efektif dalam mengurangi ketegangan otot dan kelelahan fisik. Aktivitas harian yang tetap berjalan selama Ramadhan sering membuat otot mengalami kekakuan atau kelelahan. Pijatan yang dilakukan secara benar dapat membantu mengurangi penumpukan asam laktat pada otot serta meningkatkan fleksibilitas tubuh. Dalam dunia olahraga, terapi massage bahkan menjadi bagian penting dari strategi pemulihan otot agar kondisi fisik tetap prima.

Manfaat lainnya yang tidak kalah penting adalah efek relaksasi terhadap sistem saraf dan kondisi psikologis seseorang. Puasa sering kali disertai perubahan pola tidur karena adanya aktivitas sahur dan ibadah malam seperti shalat tarawih. Perubahan ini dapat menimbulkan kelelahan mental maupun stres ringan. Massage mampu merangsang sistem saraf parasimpatik yang berperan dalam menciptakan rasa tenang, nyaman, dan rileks. Dengan kondisi psikologis yang lebih stabil, seseorang dapat menjalankan aktivitas sehari-hari serta ibadah dengan lebih fokus dan khusyuk.

Di samping itu, terapi massage juga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selama Ramadhan, pola tidur yang berubah sering membuat sebagian orang mengalami kurang istirahat. Melalui stimulasi pada sistem saraf, massage dapat membantu tubuh memproduksi hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur, sehingga kualitas istirahat menjadi lebih baik. Tidur yang berkualitas tentu sangat penting untuk proses pemulihan tubuh.

Dalam perspektif kebugaran jasmani, massage juga berperan dalam menjaga fleksibilitas otot dan mobilitas sendi. Selama berpuasa, sebagian orang cenderung mengurangi aktivitas fisik karena khawatir mengalami kelelahan. Akibatnya, tubuh menjadi kurang bergerak dan otot dapat menjadi kaku. Melalui teknik manipulasi jaringan lunak, massage membantu meningkatkan elastisitas otot serta memperbaiki rentang gerak sendi sehingga tubuh tetap terasa ringan dan bugar.

Tidak hanya itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa terapi massage berpotensi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Massage dapat membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol serta meningkatkan aktivitas sel imun dalam tubuh. Dengan sistem imun yang lebih baik, tubuh akan lebih mampu menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.

Melihat berbagai manfaat tersebut, massage dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan tubuh selama bulan Ramadhan. Tentu saja, terapi ini perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan, serta sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat, seperti setelah berbuka puasa atau pada malam hari ketika tubuh sudah mendapatkan asupan energi.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian penting dalam menjalankan ibadah dengan optimal. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik, ketenangan pikiran, dan kedekatan spiritual. Dalam konteks ini, terapi massage dapat menjadi salah satu cara yang membantu tubuh tetap sehat, rileks, dan bugar selama menjalani bulan suci Ramadhan.**

Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, ini Jawabnya

0

Femi Otedola

“Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?”

Femi berkata:

“Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati”.

Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana.  Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.

Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.

Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.

Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak. Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.

Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya.

Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang. “Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot”, ujarnya.

“Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya.  Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.

“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: “Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?”

“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya.  Anak ini berkata: “Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’

Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta.***

Dugaan Pemalsuan dokumen Akademik Jokowi Presiden ke-7, Rismon Sianipar siap Berhadapan Dengan Hukum

0

MEDIANAD.COM – Rismon Sianipar, ahli forensik digital, menegaskan kesiapannya berhadapan dengan hukum setelah melaporkan dugaan pemalsuan dokumen akademik Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dalam diskusi di kanal YouTube Marilok, ia menantang Jokowi membuktikan keaslian ijazah secara terbuka dan siap membawa pertarungan ini ke pengadilan.

Rismon menyoroti laporan laboratorium forensik Bareskrim Polri yang menyimpulkan ijazah Jokowi asli sebagai “prematur dan tidak ilmiah”. Menurutnya, metode yang digunakan—seperti mengandalkan “perabaan tekstur kertas”—tidak memenuhi standar keilmiahan.

“Kalau bicara keaslian, harusnya ada uji paper dating, kromatografi tinta, atau analisis mikroskopis. Ini dokumen 40 tahun, tapi kertasnya masih putih bersih seperti baru. Mana logikanya?” tegas Rismon, merujuk pada lembar pengesahan skripsi Jokowi di UGM.

Ia juga membeberkan kecurigaan manipulasi dalam kasus lain, seperti Jessica Wongso dan Vina Cirebon, di mana ia menduga ada rekayasa bukti digital oleh oknum kepolisian.***

Gelisah Hati Guru

0

Tawakal

MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.

Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.

Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.

Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.

Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.

Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.

Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.

Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.

GERHANA BULAN 7–8 SEPTEMBER 2025, “ANTARA FISIKA dan PESAN ILAAHI”

0

Oleh: Khawaled, S.Pd.I

(Pendidik dan pemerhati integrasi sains dan agama)

RAKYAT Indonesia akan disuguhkan fenomena langit yang menakjubkan pada malam Sabtu hingga dini hari Minggu, 7–8 September 2025: Gerhana Bulan Total, atau yang sering disebut Blood Moon. Fenomena ini tidak hanya menggugah dari sisi ilmiah, tetapi juga sarat dengan makna spiritual yang mendalam dalam ajaran Islam.

🌌 Pengantar Fenomena Gerhana
Menurut informasi dari para astronom, gerhana ini akan terlihat jelas dari sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Fase awal penumbra akan dimulai pada pukul 22.26 WIB, dan puncak gerhana total terjadi sekitar pukul 01.11 WIB. Pada puncaknya, Bulan akan tampak berwarna merah gelap akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi.

⚙️ Gerhana Bulan dalam Perspektif Fisika
🔭 Bagaimana Gerhana Terjadi?

Gerhana bulan terjadi saat posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya matahari yang seharusnya menyinari Bulan terhalang oleh Bumi. Ketika Bulan sepenuhnya memasuki bayangan inti (umbra) Bumi, terjadilah gerhana total.

📘 Hukum Fisika yang Relevan:

1. Hukum Gerak Newton (Hukum I, II, III)
Gerhana bulan hanya mungkin terjadi karena posisi Bumi dan Bulan bergerak dalam orbit tertentu secara periodik dan stabil. Hukum Newton menjelaskan bagaimana gravitasi menjaga Bulan tetap mengorbit Bumi dan Bumi mengorbit Matahari.

2. Hukum Gravitasi Universal (Newton)
Gaya tarik-menarik antara Bumi, Bulan, dan Matahari menciptakan sistem keseimbangan yang memungkinkan fenomena seperti gerhana bisa terjadi secara teratur.

3. Hukum Pembiasan dan Hamburan Cahaya (Optika)
Warna merah pada Bulan saat gerhana terjadi karena hamburan Rayleigh: cahaya biru tersebar oleh atmosfer Bumi, sementara cahaya merah diteruskan dan membelok menuju Bulan.

Ini mirip dengan mengapa langit tampak biru di siang hari dan merah saat matahari terbenam.

4. Hukum Kepler tentang Gerak Planet

Gerhana hanya terjadi saat Bulan berada di simpul orbit (node)—titik di mana orbit Bulan memotong ekliptika Bumi. Kepler menjelaskan mengapa hanya pada titik tertentu gerhana bisa terjadi.

Dengan demikian, gerhana adalah bukti nyata bahwa alam semesta tunduk pada hukum fisika yang sangat teratur dan presisi, jauh dari kebetulan.

📖 Makna Gerhana dalam Perspektif Islam

Islam memandang gerhana bukan sebagai pertanda bencana, melainkan sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan.”
(QS. Al-Qiyamah: 8–9)

Ayat ini mengisyaratkan kekuasaan Allah atas peredaran benda langit, dan mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta. Gerhana adalah saat yang tepat untuk memperbanyak zikir, doa, dan muhasabah.

🕌 Shalat Gerhana: Tanda Ketaatan Umat
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa saat terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan). Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah.”

(HR. Bukhari dan Muslim) Shalat gerhana bukan sekadar ibadah sunnah, tapi juga bentuk refleksi ketaatan, menyadari bahwa di balik segala keteraturan alam, ada kehendak Tuhan yang mengatur segalanya.

🧠 Integrasi Sains dan Iman

Gerhana bulan 7–8 September 2025 adalah momentum berharga untuk merefleksikan hubungan antara ilmu pengetahuan dan keimanan. Fisika menjelaskan bagaimana gerhana terjadi—dengan angka, hukum, dan teori. Sementara Al-Qur’an dan hadits mengajarkan mengapa manusia harus merenungi dan mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya.

Di sinilah letak keindahan integrasi antara sains dan agama: keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi dalam memandang semesta.

🎓 Pesan untuk Dunia Pendidikan

Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pada generasi muda bahwa belajar sains bukanlah menjauh dari agama, melainkan bentuk rasa syukur atas kebesaran ciptaan Allah. Pembelajaran tentang gerhana bisa menjadi sarana mengenalkan tata surya, hukum fisika, serta nilai spiritual sekaligus.

🌠 Penutup: Gerhana sebagai Cermin Kehidupan
Gerhana adalah saat di mana terang tertutup sementara, namun bukan hilang. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kegelapan memiliki ujung, dan setiap keteraturan alam adalah tanda cinta Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya.

Mari kita manfaatkan gerhana bulan ini bukan hanya sebagai tontonan langit, tetapi juga sebagai ladang tadabbur, ilmu, dan amal. Karena di balik gelapnya langit malam, tersimpan cahaya ilmu dan hidayah bagi yang mau merenung.

Gerhana Bulan Total – 7–8 September 2025 (malam hari yaitu malam minggu menuju malam senin)

Tanggal: Malam 7 September 2025, berlanjut ke dini hari 8 September 2025 .

Waktu pengamatan di Indonesia (WIB)
Mulai penumbra: sekitar pukul 22.28 WIB .
Mulai sebagian: sekitar 23.27 WIB
Mulai totalitas (gerhana penuh): sekitar 01.11–01.12 WIB
Puncak gerhana: sekitar 01.53 WIB
Akhir totalitas: sekitar 02.33 WIB
Akhir penumbra: sekitar 03.55 WIB .
Durasi totalitas: Sekitar 82 menit (1 jam 22 menit) .
Lokasi pengamatan: Seluruh Indonesia (termasuk Aceh), juga Asia, Australia, Afrika, dan Eropa .
Fenomena terlihat: Di tengah malam, Bulan akan tampak berwarna merah darah (Blood Moon) selama fase totalitas.

Ringkasan Waktu Gerhana Bulan Total 2025 (untuk Indonesia)

Peristiwa Tanggal & Waktu (WIB)
Gerhana Bulan Total Malam 7 September → dini hari 8 September 2025
Mulai penumbra Sekitar 22.28 WIB
Mulai sebagian Sekitar 23.27 WIB
Mulai totalitas Sekitar 01.11 WIB
Puncak gerhana Sekitar 01.53 WIB
Akhir totalitas Sekitar 02.33 WIB
Akhir penumbra Sekitar 03.55 WIB.
(Khawaled, S.Pd.I Pendidik dan pemerhati integrasi sains dan agama)

Popular Posts

My Favorites

Mako Polres Sabang Dipadati Ratusan PPPK untuk Pengurusan SKCK

0
MEDIANAD.COM, SABANG – Pemandangan berbeda terlihat di Mako Polres Sabang, Jln.Perdagangan Gp.Kuta Timu Kec.Sukakarya Kota Sabang, Jum'at (12/09/2025). Sejak pagi hingga siang hari, ratusan...