Di balik setiap bakat besar, selalu ada kisah tentang perjuangan yang tak pernah terlihat. Untuk Lamine Yamal, sang bintang muda Spanyol yang baru saja mengantarkan negaranya meraih gelar juara Piala Dunia 2026, kisah itu dimulai bukan di lapangan hijau La Masia, melainkan di sebuah bus antarkota di Maroko, beberapa dekade sebelum ia lahir.
Inilah kisah tentang Fatima Romani, nenek dari pihak ayah Lamine, seorang perempuan Muslim Maroko yang dengan tekad baja mengubah nasib seluruh keluarganya.
Keputusan Nekat di Atas Bus dari Maroko
Tahun 1990, Fatima mengambil sebuah keputusan yang akan mengguncang masa depan keluarganya. Ia meninggalkan Maroko sendirian, tanpa dokumen, dan menyelinap naik bus yang tidak berhak ia tumpangi. Perjalanannya penuh ketidakpastian, berhenti di Algeciras dan Granada, hingga akhirnya tiba di Mataró, Catalonia.
Ia tiba dengan tangan kosong. Tanpa jaringan, tanpa uang, dan meninggalkan lima anaknya di Maroko. Fatima kemudian bekerja tanpa kenal lelah hingga tiga shift berbeda,sebagai pembantu rumah tangga, perawat lansia, dan berbagai pekerjaan lain. Tujuannya sederhana namun berat: mengumpulkan cukup uang untuk membawa anak-anaknya menyusul ke Spanyol.
Membangun Fondasi bagi Sebuah Keluarga
Pengorbanan Fatima bukanlah sekadar cerita inspiratif. Ini adalah fondasi nyata yang menjadi dasar kehidupan Lamine Yamal. Ketika ia sudah menabung cukup, ia membayar seorang wanita untuk membawa putranya, Mounir (ayah Lamine), dan saudara perempuannya yang saat itu masih berusia tiga tahun, ke Spanyol.
Bayangkan pengorbanan ini: seorang perempuan, sendirian di negara asing, bekerja tanpa kenal lelah, demi menyatukan kembali keluarganya.
Pengasuh Setia di Tengah Badai
Ketika Lamine lahir pada tahun 2007, kedua orang tuanya masih sangat muda (ibunya berusia 16 tahun). Saat Lamine menginjak usia tiga tahun, ayah dan ibunya berpisah.
Di momen sulit itulah, Fatima memegang peran yang sangat sentral. Ia menjadi pengasuh utama bagi Lamine, memastikan cucunya tumbuh di jalur yang benar di lingkungan sederhana Rocafonda, Mataró.
Fatima menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan kerendahan hati. Ia sering mengantar Lamine berjalan kaki atau naik transportasi umum ke tempat latihan sepak bola sebelum bakatnya terdeteksi La Masia. Baginya, cucunya adalah seorang Muslim yang taat, dan ia memastikan Lamine tumbuh dengan iman yang kuat.
Doa, Restu, dan Cinta yang Tak Tergantikan
Setiap kali hendak bertanding, Lamine selalu membaca Surat Al-Fatihah dan doa yang diajarkan sang nenek. Fatima berpesan “Aku selalu berkata kepadanya sebelum pertandingan, ucapkan ‘Ya Rabb, berilah aku taufik (keberhasilan) dan tolonglah aku “.
Ketika Lamine merayakan gol, selebrasinya yang ikonik membentuk angka “304” adalah penghormatan untuk kode pos Rocafonda (08304), lingkungan yang menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan sang nenek.
Membalas Budi Sang Nenek
Ketika kesuksesan datang, Lamine tidak pernah melupakan Fatima. Ia bahkan menunda sesi foto resmi perpanjangan kontrak dengan Barcelona hanya agar sang nenek bisa hadir. Ia juga membelikan rumah untuknya, namun Fatima menolak pindah, lebih memilih tetap tinggal di Rocafonda, di lingkungan yang telah menjadi rumahnya.
Lamine sendiri mengakui bahwa kebahagiaan terbesarnya adalah melihat keluarga yang dicintainya hidup damai setelah bertahun-tahun bergumul dengan kesulitan. Melihat “neneknya damai di rumahnya sendiri” adalah “segalanya yang bisa diimpikan oleh seorang anak”.
Warisan Seorang Nenek
Kisah Fatima Romani adalah pengingat bahwa di balik setiap bintang sepak bola yang bersinar di panggung dunia, ada figur-figur yang mungkin tak pernah muncul di layar kaca. Fatima mungkin tidak pernah memegang trofi, tetapi perjuangannya, pengorbanannya, dan cintanya adalah fondasi yang membuat Lamine Yamal berdiri di puncak dunia.
Ia adalah contoh nyata bahwa keberanian seorang ibu dan nenek bisa mengubah takdir sebuah bangsa.#LamineYamal #TimnasSpanyol #Pildun2026








