Tawakal (Dosen FKIP PENJAS UBBG)
MEDIANAD.COM : Sejak awal bergulirnya Piala Dunia 2026, Spanyol bukanlah tim yang paling dijagokan untuk menjadi kampiun. Sorotan publik lebih banyak mengarah kepada juara bertahan Argentina, Inggris dengan generasi emasnya, Prancis yang bertabur bintang, hingga Brazil yang selalu menjadi favorit di setiap gelaran edisi Piala Dunia.
Namun, sepak bola modern telah membuktikan bahwa prediksi bukanlah penentu kemenangan. Gelar juara diraih oleh tim yang mampu menjaga proses, membangun karakter, mempertahankan konsistensi, serta memaksimalkan penerapan sport science dalam setiap aspek permainan.
Spanyol membuktikan bahwa mereka tidak membutuhkan sorotan untuk menjadi juara. Mereka hanya membutuhkan keyakinan terhadap filosofi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Keberhasilan menjuarai Piala Dunia 2026 bukanlah sebuah kejutan, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum turnamen ini bergulir. Fondasi itu bahkan telah terlihat ketika mereka menjadi juara Piala Eropa tahun 2024.
Saat banyak negara sibuk mengganti pelatih setiap kali gagal, mengubah filosofi permainan, atau mengejar hasil instan, Spanyol memilih bertahan pada identitasnya.
Mereka tetap memainkan sepak bola yang mengutamakan penguasaan bola, kecerdasan membaca ruang, keberanian memainkan pemain muda, dan disiplin kolektif.
Final melawan Argentina menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bukan sekadar kumpulan pemain hebat. Spanyol menghadapi tim yang dihuni pemain-pemain berpengalaman dan bermental juara.
Namun, mereka tidak kehilangan identitas dan mentalitas. Mereka tidak bermain karena tekanan, melainkan karena keyakinan terhadap sistem yang telah mereka bangun sejak lama.
Keberhasilan ini juga tidak bisa dilepaskan dari kualitas pembinaan usia muda di Spanyol. Akademi-akademi seperti La Masia (Barcelona FC) terus menjadi pabrik talenta-talenta dunia.
Munculnya nama-nama seperti Pau Cubarsí dan Lamine Yamal menunjukkan bahwa regenerasi La Masia bukanlah kebetulan dan instan. Di usia yang masih berusia 19 tahun, mereka tampil dengan ketenangan, kecerdasan, dan kedewasaan yang luar biasa.
Mereka bermain seolah telah mengikuti beberapa edisi gelaran Piala Dunia, padahal ini merupakan Piala Dunia pertama kalinya dalam karier mereka.
Di sisi lain, pemain seperti Rodri (Manchester City/Inggris), Mikel Merino (Arsenal/Inggris), dan Unai Simón (Athletic Bilbao/Spanyol) menjadi bukti pentingnya kesinambungan pembinaan.
Mereka telah tumbuh bersama sejak level usia muda seperti Piala Eropa usia 15 tahun pada 2015 silam, yang sudah pasti memahami karakter permainan satu sama lain, lalu berkembang menjadi tulang punggung di tim nasional senior.
Chemistry seperti ini tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibangun dalam hitungan bulan, dan tidak lahir dari pergantian pelatih setiap kali hasil tidak sesuai harapan.
Inilah yang membedakan Spanyol dengan banyak negara lain. Mereka membangun tim, bukan sekadar mengumpulkan pemain terbaik.
Sepak bola modern seperti kita rasakan saat ini sering kali terjebak dalam budaya instan. Ketika gagal satu turnamen, pelatih langsung dipecat. Ketika kalah dua pertandingan, filosofi permainan berubah. Ketika muncul pemain muda yang belum langsung bersinar, ia segera dianggap gagal.
Spanyol memilih jalan yang berbeda. Mereka bersabar. Kesabaran itulah yang kini menghasilkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Bagi negara-negara yang sedang membangun sepak bolanya, termasuk Indonesia, gelar Spanyol seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Membangun sepak bola tidak cukup dengan mendatangkan pelatih terkenal, menaturalisasi pemain, atau menyelenggarakan kompetisi sesaat.
Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem pembinaan sejak usia dini, meningkatkan kualitas pelatih, memperkuat kompetisi kelompok umur, dan memastikan filosofi permainan diterapkan secara berjenjang dari akademi hingga tim nasional.
Piala Dunia 2026 mengingatkan kita bahwa prestasi bukanlah hasil dari kerja satu musim, melainkan akumulasi dari keputusan-keputusan benar yang diambil selama bertahun-tahun.
Spanyol telah membuktikannya. Dan mungkin, inilah pesan terbesar dari Piala Dunia 2026: di era ketika banyak orang ingin sukses secepat mungkin, justru kesabaran, konsistensi, dan keberanian mempertahankan identitas menjadi jalan paling pasti menuju puncak dunia.(*)








