BANDA ACEH, MEDIANAD.COM : Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) bekerja sama dengan Majelis Seniman Aceh (MaSA) menggelar Workshop Festival Meurukon: Seni Tradisi Aceh yang Hampir Punah. Kegiatan berlangsung di aula mini kampus setempat, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan ini menghadirkan budayawan, seniman, akademisi, mahasiswa, serta pegiat seni budaya Aceh sebagai upaya bersama dalam menjaga dan melestarikan salah satu warisan budaya Aceh yang mulai jarang dikenal oleh generasi muda.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya seniman Meurukon Ismail Husen, penutur sastra Aceh Medya Hus, dan dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh Dr. Tgk. H. Teuku Zulkhairi, M.A. Kegiatan juga dihadiri oleh berbagai seniman dan pegiat budaya yang memiliki perhatian terhadap keberlangsungan seni tradisi Aceh.
Rektor Universitas Bina Bangsa Getsempena, Prof. Dr. Hj. Lili Kasmini, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan para budayawan merupakan langkah penting dalam menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Menurutnya, kampus tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Aceh.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mendapatkan bekal berharga tentang nilai, sejarah, dan kearifan lokal yang terkandung dalam seni tradisi Aceh. Kolaborasi dengan para budayawan dan seniman menjadi ruang belajar yang sangat penting untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya kepada generasi muda,” ujar Prof. Lili.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Lili juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan, termasuk Majelis Seniman Aceh, para narasumber, seniman, budayawan, serta ketua sanggar dan komunitas seni yang terus berupaya menjaga keberlangsungan tradisi Meurukon di Aceh.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya para budayawan, seniman, ketua sanggar, dan komunitas budaya yang selama ini tetap konsisten menjaga dan menghidupkan seni tradisi Aceh. Semoga kerja sama ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi mengenai sejarah, perkembangan, tantangan, serta strategi pelestarian Meurukon sebagai salah satu seni tradisi Aceh yang sarat nilai pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Piet Rusdi S.Sos, dalam sambutannya, mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan UBBG bersama Majelis Seniman Aceh tersebut merupakan langkah maju dalam pelestarian kebudayaan di Aceh.
Senada itu, dalam sambutannya, Ketua Umum Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli, pada pada acara yang berlangsung khidmat tersebut, mengatakan, pihaknya dan UBBG telah menjalin kerja sama dan akan terus berlanjut.
Pada acara yang panitianya diketuai oleh Dr. Zahraini, S.Pd., M.Pd., tersebut, para peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.
Melalui workshop ini, UBBG kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya Aceh melalui kolaborasi aktif dengan para seniman, budayawan, dan lembaga kebudayaan sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap identitas dan warisan budayanya.
Acara workshop ini dhadiri perwakilan dari SMA dan dayah di Banda Aceh dan Aceh Besar, budayawan Prof Yusny Saby, Nab Bahany As, Iskandar Norman, Thayeb Loh Angen, Zulfadli Kawom, dan Yakob Samalanga, serta tokoh lainnya.
Dihadiri juga oleh Kepala Kepala Hubungan Kerja Sama Internasional UBBG dan Ketua Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh, Regina Rahmi, M.Pd. Dihadiri juga dosen dan ketua prodi seni pertunjukan, serta mahasiswa UBBG.
Workshop meurukon yang berlangsung sekira empat jam ini dipandu oleh Riza Oktariana, M.Pd. Workshop Festival Meurukon merupakan bagian dari Program Dana Indonesia Tahun 2025 melalui skema Pendayagunaan Ruang Publik yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, LPDP, Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), dan Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA). (Kal)








