Opini

Beranda Opini
Opini

Definisi Sukses Versi Purbaya : Mati Masuk Surga !

0

Spiritual Motivations MUN-Solutions

Dalam dunia yang dikuasai angka, grafik, dan laporan keuangan, definisi sukses sering kali diukur dengan seberapa tinggi seseorang mampu menaikkan kurva kekayaannya. Banyak yang menganggap sukses berarti memiliki rumah megah, jabatan prestisius, rekening gemuk, atau bahkan pengaruh besar di ruang publik. Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh kompetisi ini, pernyataan dari Menteri Purbaya Yudhi Sadewa mengguncang paradigma banyak orang: “Definisi sukses adalah mati masuk surga.”

Pernyataan ini sederhana, namun sangat dalam secara spiritual dan ilmiah. Ia menembus batas antara ekonomi dan eskatologi, antara dunia yang sementara dan kehidupan yang abadi. Kalimat itu mengandung pesan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang apa yang dicapai di dunia, melainkan tentang apa yang dibawa ke akhirat.

1. Perspektif Spiritual: Sukses yang Melampaui Dunia

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung (sukses).”
(QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menegakan bahwa keberhasilan duniawi hanyalah sementara, sedangkan keberhasilan sejati adalah keselamatan di akhirat. Dalam pandangan Islam, sukses bukan sekadar having more, tetapi being more, menjadi pribadi yang lebih berarti, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian, sukses bukanlah tentang seberapa banyak kita mengambil dari dunia, tetapi seberapa banyak kita memberi kepada dunia dengan niat karena Allah.

2. Perspektif Ilmiah dan Psikologis: Transendensi sebagai Puncak Aktualisasi

Dalam teori psikologi modern, khususnya piramida kebutuhan Abraham Maslow, puncak kebutuhan manusia bukan lagi aktualisasi diri, melainkan transendensi, kebutuhan untuk melampaui diri sendiri dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan atau makna hidup yang luhur.

Maslow pada masa akhir hidupnya menyadari bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar bahagia hanya dengan pencapaian material. Kebutuhan spiritual, rasa makna, dan kontribusi sosial merupakan unsur utama kebahagiaan yang otentik.

Oleh karena itu, ketika Purbaya menyebut “mati masuk surga” sebagai definisi sukses, ia sesungguhnya sedang menegaskan puncak kesadaran transendental, titik tertinggi di mana seseorang menilai hidupnya bukan dari pencapaian finansial, tetapi dari nilai moral, kebermanfaatan, dan keikhlasan amal.

3. Sukses Dunia: Jalan Menuju Akhirat

Islam tidak menolak sukses dunia. Justru, dunia adalah ladang amal. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dunia adalah ladang bagi akhirat.” Artinya, setiap kesuksesan duniawi, kekayaan, ilmu, jabatan, kekuasaan, menjadi bermakna hanya bila digunakan untuk menebar manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang kaya yang dermawan, pejabat yang adil, pengusaha yang amanah, guru yang ikhlas, mereka semua sedang menanam benih sukses akhirat melalui peran duniawi mereka.

Sebagaimana firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan keseimbangan: dunia bukan tujuan, tetapi kendaraan menuju surga.

4. Transformasi Konsep Sukses: Dari Ego ke Makna

Banyak orang sukses secara duniawi, namun hampa secara spiritual. Mereka memiliki segalanya, tapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, banyak orang sederhana yang hidupnya penuh kedamaian karena mereka menemukan makna hidup di jalan kebaikan.

Keberhasilan spiritual menuntut perubahan orientasi dari egoistik menjadi altruistik, dari memiliki menjadi memberi, dan dari menonjolkan diri menjadi menundukkan hati. Di sinilah letak kebijaksanaan sejati seorang pemimpin, seperti pesan Purbaya: “Berbuat baik ke sesama adalah bagian dari sukses itu sendiri.”

5. Kesimpulan: Sukses Sejati Adalah Keselamatan

Definisi sukses versi Purbaya, “mati masuk surga”, seolah mengembalikan kesadaran manusia kepada fitrah penciptaannya: “hidup bukan sekadar untuk berkompetisi, tetapi untuk berkontribusi; bukan sekadar untuk berkuasa, tetapi untuk berbakti.”

Sukses dunia memang sangat penting, tapi ia hanya akan sangat berarti bila menjadi jembatan menuju sukses akhirat. Karena pada akhirnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Maka, definisi sukses sejati bukan sekadar meninggalkan jejak di bumi, tetapi meninggalkan cahaya di langit. Pesan MUN-Solutions:

“Sukses sejati bukan diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari berapa banyak hati yang kita sentuh dan amal yang kita bawa pulang menuju keabadian.”

Fungsi Wartawan Secara Umum Mengumpulkan Data dan Menginformasikan Melalui Media

0

MEDIANAD.COM, SABANG – Fungsi wartawan secara umum adalah untuk mengumpulkan, menulis, dan menyampaikan informasi kepada publik melalui berbagai media seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, dan platform digital. Beberapa fungsi penting wartawan antara lain:

1. Menyampaikan Informasi: Wartawan bertugas untuk menginformasikan peristiwa, kejadian, dan isu yang terjadi di masyarakat kepada publik. Informasi yang disampaikan bisa berupa berita lokal, nasional, maupun internasional.

2. Penyiaran Fakta dan Kebenaran: Wartawan harus memastikan bahwa informasi yang disampaikan akurat dan berdasarkan fakta. Mereka harus memverifikasi sumber informasi dan melakukan riset untuk menghindari penyebaran hoaks atau informasi yang salah.

3. Kontrol Sosial: Wartawan berfungsi sebagai pengawas terhadap berbagai lembaga, termasuk pemerintah, korporasi, dan organisasi lain. Mereka berperan dalam menyoroti ketidakadilan, menyelidiki kasus-kasus korupsi, serta mendesak perubahan melalui pemberitaan.

4. Edukasi Masyarakat: Selain menyampaikan berita, wartawan juga mengedukasi masyarakat dengan memberikan informasi yang bermanfaat, yang dapat membantu pembaca atau pendengar untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

5. Meningkatkan Kesadaran Publik: Wartawan membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu penting, baik itu di bidang politik, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain. Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat lebih paham dan peduli terhadap kondisi di sekitar mereka.

6. Membangun Opini Publik: Melalui analisis, opini, dan artikel mendalam, wartawan juga berperan dalam membentuk dan memengaruhi opini publik tentang suatu isu. Mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda agar masyarakat bisa berpikir kritis.

7. Menjaga Demokrasi: Dalam konteks negara demokratis, wartawan memainkan peran penting dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pemerintah. Mereka bertugas memastikan bahwa masyarakat mendapat akses informasi yang cukup untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan politik.(man).

Dosen Ibarat Lari Maraton

0

Tawakal

MEDIANAD.COM : Dalam dunia akademik, karir seorang dosen adalah perjalanan panjang hingga usia 70 tahun atau lebih, ibarat lari maraton.

Sepanjang perjalanan dalam dunia dosen ini, tantangan tidak hanya datang dari tugas-tugas akademik, tri dharma, tetapi juga dari lingkungan kerja yang bisa dipenuhi dinamika sosial, politik, dan birokrasi yang kadang sangat toksik.

Salah satu ancaman terbesar terhadap produktivitas dan integritas akademik adalah kehadiran dosen dengan sifat Dark Triad (machiavellianism, narsisme, dan psikopatik).

Sifat super toksik ini dapat muncul baik pada dosen baru yang sedang beradaptasi maupun dosen senior, terutama mereka yang menduduki jabatan struktural dan mengalami power syndrome (kondisi ketika seseorang masih membayangkan pencapaiannya pada masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini).

Bila itu dibiarkan, perilaku semacam ini dapat menciptakan lingkungan akademik yang suram, menghambat inovasi, dan merusak nilai-nilai keilmuan.

Machiavellianism
Niccolo Machiavelli dalam bukunya The Prince menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa dipertahankan dengan manipulasi dan penuh intrik. Namun, dalam dunia akademik, sikap ini bisa menghancurkan kolaborasi dan kepercayaan antar-rekan sejawat.

Dosen dengan sifat machiavellianism cenderung memanipulasi keadaan demi kepentingannya sendiri. Mereka mungkin menggunakan cara-cara licik untuk mendapatkan proyek penelitian, hibah, atau pun jabatan akademik.

Narsisme
Narsisme membuat seseorang merasa lebih superior dari orang lain, menganggap dirinya berhak atas perlakuan istimewa, dan sulit menerima kritik. Seorang dosen yang narsistik mungkin enggan berbagi ilmu, merasa paling tahu dalam diskusi akademik dan kebijakan kampus, atau menolak menerima masukan meskipun keliru.

Dalam sejarah, banyak pemimpin besar dengan sifat narsistik seperti Napoleon Bonaparte yang akhirnya gagal karena keangkuhannya. Dalam akademik, narsisme bisa menciptakan lingkungan kerja yang hierarkis dan tidak kondusif bagi inovasi akademik.

Dosen dengan kecenderungan psikopatik tidak peduli pada aturan atau dampak dari tindakan mereka terhadap orang lain. Mereka bisa mengambil keputusan yang merugikan kolega atau mahasiswa tanpa rasa bersalah, bahkan mungkin melakukan tindakan koruptif tanpa takut ketahuan.

Dalam sejarah, beberapa pemimpin tirani seperti Stalin dikenal memiliki karakteristik psikopatik yang membuat mereka kejam dan tidak berperasaan. Dalam dunia akademik, sikap ini bisa menghancurkan solidaritas dan etika keilmuan.

Lalu bagaimana seorang dosen dapat bertahan dalam dunia akademik yang penuh tantangan tanpa harus memiliki sifat Dark Triad?
Seorang dosen harus menjunjung tinggi kejujuran dalam penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Integritas adalah modal utama dalam membangun reputasi akademik yang baik. Jangan tergoda melakukan manipulasi data atau plagiarisme hanya demi produktivitas instan.

Selain itu, dunia akademik bukan kompetisi individu, melainkan perjalanan kolektif. Berkolaborasilah dengan rekan sejawat dan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan kerja yang penuh suportifitas tanpa menyikut teman sejawat demi isi dapur sendiri. Hindari sikap eksklusif dan elitis yang bisa merugikan hubungan profesional.

Jabatan struktural sering kali menjadi medan pertempuran bagi mereka yang memiliki ambisi besar. Sebaiknya, fokuslah pada kontribusi nyata bagi institusi daripada sekadar mengejar kekuasaan atau jabatan. Jika diberikan amanah sebagai pejabat akademik, jalankan dengan tanggung jawab dan harus penuh transparansi.

Di sisi lain, dunia akademik selalu berkembang sesuai era, dan seorang dosen harus terbuka terhadap perubahan serta kritik yang membangun. Jangan merasa diri paling benar atau paling berpengaruh besar.

Sejarah membuktikan bahwa ilmuwan besar seperti Galileo Galilei justru menemukan kebenaran dengan berani mengakui kesalahan dan belajar dari kritik.

Karir akademik adalah maraton, bukan sprint. Keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai jabatan tertentu, melainkan dari dampak jangka panjang yang diberikan kepada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Seorang dosen yang bijak akan lebih fokus pada membangun generasi penerus yang lebih baik daripada sekadar mengejar pengakuan pribadi.

Karena dosen bukan nabi, ia juga bisa punya sifat super toksik. Sifat Dark Triad adalah ancaman nyata dalam dunia akademik, baik bagi individu maupun institusi. Dosen, baik yang baru maupun senior, harus waspada agar tidak terjerumus dalam pola pikir manipulatif, narsistik, atau psikopatik.

Dengan menjaga integritas, membangun hubungan yang sehat, dan fokus pada keberlanjutan, seorang dosen bisa menjalani karir akademik yang panjang, bermakna, dan penuh kontribusi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai moral.

Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value (Janganlah berusaha menjadi orang yang sukses, tetapi berusahalah menjadi orang yang bernilai bagi khalayak ramai)”.

GERHANA BULAN 7–8 SEPTEMBER 2025, “ANTARA FISIKA dan PESAN ILAAHI”

0

Oleh: Khawaled, S.Pd.I

(Pendidik dan pemerhati integrasi sains dan agama)

RAKYAT Indonesia akan disuguhkan fenomena langit yang menakjubkan pada malam Sabtu hingga dini hari Minggu, 7–8 September 2025: Gerhana Bulan Total, atau yang sering disebut Blood Moon. Fenomena ini tidak hanya menggugah dari sisi ilmiah, tetapi juga sarat dengan makna spiritual yang mendalam dalam ajaran Islam.

🌌 Pengantar Fenomena Gerhana
Menurut informasi dari para astronom, gerhana ini akan terlihat jelas dari sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Fase awal penumbra akan dimulai pada pukul 22.26 WIB, dan puncak gerhana total terjadi sekitar pukul 01.11 WIB. Pada puncaknya, Bulan akan tampak berwarna merah gelap akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi.

⚙️ Gerhana Bulan dalam Perspektif Fisika
🔭 Bagaimana Gerhana Terjadi?

Gerhana bulan terjadi saat posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya matahari yang seharusnya menyinari Bulan terhalang oleh Bumi. Ketika Bulan sepenuhnya memasuki bayangan inti (umbra) Bumi, terjadilah gerhana total.

📘 Hukum Fisika yang Relevan:

1. Hukum Gerak Newton (Hukum I, II, III)
Gerhana bulan hanya mungkin terjadi karena posisi Bumi dan Bulan bergerak dalam orbit tertentu secara periodik dan stabil. Hukum Newton menjelaskan bagaimana gravitasi menjaga Bulan tetap mengorbit Bumi dan Bumi mengorbit Matahari.

2. Hukum Gravitasi Universal (Newton)
Gaya tarik-menarik antara Bumi, Bulan, dan Matahari menciptakan sistem keseimbangan yang memungkinkan fenomena seperti gerhana bisa terjadi secara teratur.

3. Hukum Pembiasan dan Hamburan Cahaya (Optika)
Warna merah pada Bulan saat gerhana terjadi karena hamburan Rayleigh: cahaya biru tersebar oleh atmosfer Bumi, sementara cahaya merah diteruskan dan membelok menuju Bulan.

Ini mirip dengan mengapa langit tampak biru di siang hari dan merah saat matahari terbenam.

4. Hukum Kepler tentang Gerak Planet

Gerhana hanya terjadi saat Bulan berada di simpul orbit (node)—titik di mana orbit Bulan memotong ekliptika Bumi. Kepler menjelaskan mengapa hanya pada titik tertentu gerhana bisa terjadi.

Dengan demikian, gerhana adalah bukti nyata bahwa alam semesta tunduk pada hukum fisika yang sangat teratur dan presisi, jauh dari kebetulan.

📖 Makna Gerhana dalam Perspektif Islam

Islam memandang gerhana bukan sebagai pertanda bencana, melainkan sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan.”
(QS. Al-Qiyamah: 8–9)

Ayat ini mengisyaratkan kekuasaan Allah atas peredaran benda langit, dan mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta. Gerhana adalah saat yang tepat untuk memperbanyak zikir, doa, dan muhasabah.

🕌 Shalat Gerhana: Tanda Ketaatan Umat
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa saat terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan). Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah.”

(HR. Bukhari dan Muslim) Shalat gerhana bukan sekadar ibadah sunnah, tapi juga bentuk refleksi ketaatan, menyadari bahwa di balik segala keteraturan alam, ada kehendak Tuhan yang mengatur segalanya.

🧠 Integrasi Sains dan Iman

Gerhana bulan 7–8 September 2025 adalah momentum berharga untuk merefleksikan hubungan antara ilmu pengetahuan dan keimanan. Fisika menjelaskan bagaimana gerhana terjadi—dengan angka, hukum, dan teori. Sementara Al-Qur’an dan hadits mengajarkan mengapa manusia harus merenungi dan mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya.

Di sinilah letak keindahan integrasi antara sains dan agama: keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi dalam memandang semesta.

🎓 Pesan untuk Dunia Pendidikan

Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pada generasi muda bahwa belajar sains bukanlah menjauh dari agama, melainkan bentuk rasa syukur atas kebesaran ciptaan Allah. Pembelajaran tentang gerhana bisa menjadi sarana mengenalkan tata surya, hukum fisika, serta nilai spiritual sekaligus.

🌠 Penutup: Gerhana sebagai Cermin Kehidupan
Gerhana adalah saat di mana terang tertutup sementara, namun bukan hilang. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kegelapan memiliki ujung, dan setiap keteraturan alam adalah tanda cinta Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya.

Mari kita manfaatkan gerhana bulan ini bukan hanya sebagai tontonan langit, tetapi juga sebagai ladang tadabbur, ilmu, dan amal. Karena di balik gelapnya langit malam, tersimpan cahaya ilmu dan hidayah bagi yang mau merenung.

Gerhana Bulan Total – 7–8 September 2025 (malam hari yaitu malam minggu menuju malam senin)

Tanggal: Malam 7 September 2025, berlanjut ke dini hari 8 September 2025 .

Waktu pengamatan di Indonesia (WIB)
Mulai penumbra: sekitar pukul 22.28 WIB .
Mulai sebagian: sekitar 23.27 WIB
Mulai totalitas (gerhana penuh): sekitar 01.11–01.12 WIB
Puncak gerhana: sekitar 01.53 WIB
Akhir totalitas: sekitar 02.33 WIB
Akhir penumbra: sekitar 03.55 WIB .
Durasi totalitas: Sekitar 82 menit (1 jam 22 menit) .
Lokasi pengamatan: Seluruh Indonesia (termasuk Aceh), juga Asia, Australia, Afrika, dan Eropa .
Fenomena terlihat: Di tengah malam, Bulan akan tampak berwarna merah darah (Blood Moon) selama fase totalitas.

Ringkasan Waktu Gerhana Bulan Total 2025 (untuk Indonesia)

Peristiwa Tanggal & Waktu (WIB)
Gerhana Bulan Total Malam 7 September → dini hari 8 September 2025
Mulai penumbra Sekitar 22.28 WIB
Mulai sebagian Sekitar 23.27 WIB
Mulai totalitas Sekitar 01.11 WIB
Puncak gerhana Sekitar 01.53 WIB
Akhir totalitas Sekitar 02.33 WIB
Akhir penumbra Sekitar 03.55 WIB.
(Khawaled, S.Pd.I Pendidik dan pemerhati integrasi sains dan agama)

Gelisah Hati Guru

0

Tawakal

MEDIANAD.COM – Hari ini banyak guru di negeri ini yang tampak hadir di ruang kelas. Tetapi sejatinya mereka sedang jauh dari kelas, jauh dari muridnya, jauh dari makna mengajar itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru, saya melihat ada paradoks besar yang terjadi pada guru saat ini. Guru adalah ujung tombak pendidikan, namun justru disibukkan dalam rutinitas administrasi.

Setiap minggu pelatihan, setiap bulan laporan, setiap semester pembaruan sistem. Mereka hadir, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya hadir. Menurut Karl Max ini adalah bentuk nyata alienasi, guru terpisah dari esensi pekerjaannya.

Mereka tidak lagi merasa memiliki apa yang mereka kerjakan dan hanya sebagian guru saja yang betul totalitas mengajar, mulai menyiapkan perangkat sekolah hingga memberikan nilai kepada siswa setelah proses pembelajaran berakhir di akhir semester.

Belajar menjadi proses mekanisme, hasilnya pun tidak membahagiakan. Apakah guru merasa bangga muridnya tumbuh atau sertifikat pelatihannya yang berhasil di unduh kedalam aplikasi elektronik kinerja.

Lebih jauh lagi, ini juga menyesakkan disonansi kognitif. Guru percaya bahwa mendidik adalah membentuk manusia seutuhnya, namun sistem memaksa mereka menjadi seperti layaknya operator data.

Akhirnya terjadi konflik batin akibat terus-menerus ditekan, hingga kelelahan menjadi hal yang biasa dirasakan. Kita mungkin menyalahkan guru karena kurang kreatif, kurang inovatif, padahal mungkin mereka hanya sedang kehilangan kendali atas profesi yang dulunya penuh dengan makna.

Ini bukan sekedar soal kurikulum atau pelatihan, ini tentang bagaimana kita memanusiakan guru kembali sebagai pendidik, bukan sebagai form-form dalam aplikasi isian laporan.

Namun, perlu diingat bahwa peran guru sebagai pendidik tetaplah penting dan harus dijaga agar tidak tergerus oleh beban administrasi yang berlebihan.

Dugaan Pemalsuan dokumen Akademik Jokowi Presiden ke-7, Rismon Sianipar siap Berhadapan Dengan Hukum

0

MEDIANAD.COM – Rismon Sianipar, ahli forensik digital, menegaskan kesiapannya berhadapan dengan hukum setelah melaporkan dugaan pemalsuan dokumen akademik Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dalam diskusi di kanal YouTube Marilok, ia menantang Jokowi membuktikan keaslian ijazah secara terbuka dan siap membawa pertarungan ini ke pengadilan.

Rismon menyoroti laporan laboratorium forensik Bareskrim Polri yang menyimpulkan ijazah Jokowi asli sebagai “prematur dan tidak ilmiah”. Menurutnya, metode yang digunakan—seperti mengandalkan “perabaan tekstur kertas”—tidak memenuhi standar keilmiahan.

“Kalau bicara keaslian, harusnya ada uji paper dating, kromatografi tinta, atau analisis mikroskopis. Ini dokumen 40 tahun, tapi kertasnya masih putih bersih seperti baru. Mana logikanya?” tegas Rismon, merujuk pada lembar pengesahan skripsi Jokowi di UGM.

Ia juga membeberkan kecurigaan manipulasi dalam kasus lain, seperti Jessica Wongso dan Vina Cirebon, di mana ia menduga ada rekayasa bukti digital oleh oknum kepolisian.***

Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, ini Jawabnya

0

Femi Otedola

“Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?”

Femi berkata:

“Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati”.

Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana.  Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.

Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.

Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.

Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak. Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.

Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya.

Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang. “Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot”, ujarnya.

“Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya.  Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.

“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: “Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?”

“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya.  Anak ini berkata: “Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’

Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta.***

Inilah Profil M Hendra Supardi, Plt Dirut Bank Aceh Syariah yang Baru, Ini Background-nya

0
Hendra Supardi Plt Dirut BAS

MEDIANAD.COM – M Hendra Supardi resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Bank Aceh Syariah.

Penunjukan tersebut berdasarkan Keputusan Dewan Komisaris yang telah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Dengan penunjukan ini, M Hendra Supardi menggantikan Fadhil Ilyas yang sebelumnya menjabat sebagai Plt Direktur Utama sekaligus Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah.

Sekretariat Perusahaan Bank Aceh Syariah, Iskandar, mengatakan, penggantian Plt Dirut ini dilakukan dalam rangka mempertimbangkan agar pelaksanaan tanggung jawab mitigasi risiko dalam pengelolaan bank tidak bertumpu pada satu orang.

Selain itu, untuk memastikan tata kelola sesuai dengan Peraturaan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17 Tahun 2023 dan AD/ART Bank Aceh, serta sudah mendapatkan pencatatan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 14 Februari 2025.

“Dengan pengalaman dan kepemimpinan yang dimiliki, beliau diharapkan mampu membawa Bank Aceh Syariah semakin maju dan terus meningkatkan kualitas layanan perbankan syariah bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya,” ujar Iskandar, dikutip dari Prohaba.

Lantas, seperti apa profil M Hendra Supardi ini?

Profil M Hendra Supardi

M Hendra Supardi merupakan pria yang berpengalaman di bidang perbankan.

Nama lengkapnya adalah Muhammad Hendra Supardi.

Ia lahir di Lamno, Aceh, 10 Agustus 1982.

Saat ini, M Hendra Supardi menjabat sebagai Plt Dirut Bank Aceh Syariah.

Diketahui, M Hendra Supardi sempat menempuh pendidikan di jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi UIN Ar Raniry.

Setelah meraih gelar S1 dan lulus pada tahun 2004, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh.

Tahun 2016, M Hendra Supardi lulus dan meraih gelar Magister (S2).

Sebelum menjabat sebagai Plt Direktur Utama Bank Aceh Syariah, M Hendra Supardi menjabat sebagai Direktur Dana dan Jasa di Bank Aceh Pusat.

Penunjukan Hendra sebagai Plt Direktur Utama dilakukan pada 18 Februari 2025, menggantikan posisi Faadhil Ilyas setelah melalui proses review.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang kuat, Hendra Supardi diharapkan mampu memimpin Bank Aceh Syariah menuju keberhasilan yang lebih besar di masa depan.(*)

 

 

Tawakal berprofesi sebagai Dosen hingga Pelatih futsal berlisensi

0

BIREUEN, MEDIANAD.COM : Tawakal SPd MPd nama lengkap pemuda yang berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (FKIP PENJAS UNIKI) Bireuen merupakan Pemuda Kelahiran Bireuen, 20 November 1992.

Pada masa bangku sekolah, Tawakal sempat menekuni olahraga Sepakbola, namun saat sudah duduk di bangku perguruan tinggi, Tawakal mulai beralih menekuni futsal di kampusnya, di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Tawakal menjadi salah satu pemain utama di tim binaan perguruan tersebut yaitu Himadirga (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Olahraga) FKIP Unsyiah dan Unsyiah FC. Pemuda yang kerap di sapa TW ini sempat membawa timnya Juara POMDA (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah)Hinga pernah mewakili Aceh pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa (POMNAS) di Batam-Kepulauan Riau, Juara Piala Menpora antar mahasiswa Se Sumatera, dan juara Piala Piala Nol Kilometer di kota paling barat Indonesia yaitu Sabang. Itu adalah bukti andil service Tawakal ketika menggocek sikulit bundar.

Pada akhir tahun 2017 Tawakal yang notabenenya masih aktif bermain futsal dan sepakbola, mendapat kesempatan menarik Dari hasil kinerjanya, yaitu ditawari untuk mengambil lisensi ilmu kepelatihan futsal di kota penghasil empek-empek Palembang (Sumatra Selatan) oleh tim futsal amatir di Kota Banda Aceh Fair Play FC dan langsung mendapat rekomendasi dari Asosiasi Futsal Kabupaten Bireuen yang mana Kota Juang itu adalah tanah kelahiran pria 32 tahun ini.
Selepas dari mengikuti ilmu kepelatihan di Palembang, Tawakal langsung ditawari oleh dua tim di Aceh dengan event yang berbeda yaitu yang pertama Genksi Fc Pidie (ajang Liga Futsal Nusantara regional Aceh) saat itu berhasil mencapai semifinalis,dan juga Untuk PORA Futsal Bireuen (ajang pesta olaharaga 4 tahunan di Aceh yang bernama Pekan Olahraga Aceh) pada tahun 2018 silam. pada debutnya masa itu, tawakal bisa disebut masih belia dalam ilmu kepelatihan perfutsalannya.

Selanjutnya tahun 2019 tawakal sempat melatih di Akademi Futsal Aceh (AFA) dan berhasil Merebut piala Asosiasi Akademi Futsal Indonesia (AAFI) regional Aceh dikelompok umur 12 tahun yaitu Juara 2 piala AAFI regional Banda Aceh dan juara 1 regional Aceh sebelum mewakili Aceh di pentas piala AAFI nasional.
2020 sampai tahun 2022 dia menjabat sebagai pelatih futsal klub amatir Rumoh Futsal Club yang berdomisili di Kutaraja (Banda Aceh). Lalu ditahun 2021 Tawakal kembali ditinjuk untuk menahkodai tim Futsal Kabupaten Bireuen untuk persiapan ajang kualifikasi Pora atau sering disebut Pra-Pora usia dibawah 23 tahun.

Baru-baru ini Tawakal Dipercayai sebagai pelatih kepala tim Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Aceh pada ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (PORWANAS) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagai seorang yang dipercaya menjadi pelatih menurutnya banyak tantangan yang ia harus hadapi. “Karena ternyata jadi pelatih itu hal yang lumayan sulit. Pertama kita harus bisa melakukan pendekatan emosional dengan atletnya, kemudian membuat program yang sesuai untuk latihan, dan saat pertandingan setiap atlet membuat saya merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kemenangan atlet,” Tambah Tawakal.

Sedangkan tantangan yang dihadapi Tawakal dalam menjadi dosen Penjas adalah bagaimana dalam mengembangkan potensi mahasiswa Penjas untuk bisa berprestasi serta berkontribusi bagi kemajuan universitas, lingkup nasional hingga kancah internasional.

“Suka duka saya menjadi dosen adalah yang pertama suka dulu ya, saya senang bisa berinterkasi kepada mahasiswa dari berbagai macam daerah. Saya bisa mengaplikasi keilmuan yang saya miliki. Sedangkan menurut saya duka menjadi dosen itu tidak ada, karena saya sudah menyukai profesi saya secara keseluruhan,” ungkapnya.

Tawakal berharap kepada sesama dosen muda, untuk selalu semangat dalam menjadi tenaga pendidik untuk memajukan anak bangsa, demi tujuan bersama dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berintelektual tinggi di bidangnya masing-masing.

“Menurut saya mengembangkan keilmuan kita dalam bidang ilmu masing-masing, dan harus fokus pada bidang ilmu yang ditekuni, serta jangan pernah berpatokan pada materi yang kita raih ketika menjadi dosen,” ujarnya.

Tawakal melanjutkan sebagai dosen jangan pernah bernah berpikir untuk dilayani, karena seharusya kitalah yang melayani mahasiswa serta memberikan contoh teladan yang bagi semua. Intinya harus menjadi panutan bagi mahasiswa, teman bagi mahasiswa, teman sejawat, dan lingkungan masyarakat.

“Harapan saya Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireuen ini bisa menjadi Universitas yang besar dan berkembang, menjadi salah satu universitas ternama di Indonesia. Perlu adanya perbaikan serta peningkatan fasilitas-fasilitas yang masih kurang di Unived, termasuk peningkatan SDM, dengan cara memberikan dan membiayai pelatihan, seminar bagi dosen baik sebagai pembicara ataupun peserta di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

Ia juga menambahkan, semoga mahasiswa Penjas Uniki bisa bersaing serta menjadi pendidik maupun pelatih yang berkualitas nantinya. Sehingga bisa memberikan dampak positif terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia terutama di Provinsi Aceh khususnya di Kabupaten Bireuen ini, tutup Pria yang kerap disapa Coach Tawakal.

Kematian Paling Romantis Dalam Perang Aceh

0

Dari sekian banyak pasangan suami istri pemimpin pejuang Aceh, syahidnya Teungku Di Barat dan istrinya merupakan kematian paling romantis, melebihi cerita roman manapun.

Seperti halnya kisah Teungku Di Barat, ia dan istrinya sama-sama menghadapi gempuran dan desingan peluru marsose Belanda. Keduanya bahu membahu dan sama-sama tewas dalam pertempuran, tidak sendiri-sendiri.

Dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh diceritakan, Teungku Di Barat bersama mertuanya Teungku Di Mata le alias Teungku Di Paya Bakong, merupakan ulama pemimpin pejuang Aceh di wilayah Keureuto (Aceh Utara) dan sekitarnya. Keduanya sangat disegani, sering memimpin serangkaian serangan ke bivak dan patroli Belanda.

Untuk menghadapi pasukan teungku di Barat ini, Pemerintah Kolonial Belanda mengerahkan 12 brigade pasukan marsose dari “kolone macan” yang terkenal beringas bin sadis yang dipimpin Kapten W.B.J.A Scheepens dan Kapten H. Christoffel. Teungku Di Barat dan istrinya tewas dalam pertempuran setelah terkena peluru pasukan Letnan Behrens pada tahun 1912.

Tentang bagaimana romantisnya kematian Teungku Di Barat dan istrinya itu, itu juga ditulis HC Zentgraaff dalam buku Atjeh seperti kutipan di bawah ini.

Pantas bagi kalian pujangga agung, salah seorang ulama paling terkenal di daerah Aceh bagian timur laut. Dia dan suaminya, bersama beberapa orang pengikutnya, telah diburu dengan ketat oleh pasukan kita, dalam rangka pengejaran yang tak kenal ampun, di mana para marsose dalam zaman itu mengerti akan rahasianya. Kemudian tibalah adegan terakhir dalam rangkaian tragedi itu. Teungku dan istrinya beserta beberapa orang pengikutnya, terkepung di antara tebing-tebing batu cadas.

Dalam detik saat di mana semua mereka memiliki semangat juang, berdirilah sang istri di samping suaminya. Sebuah peluru mengenai tangan kanan Teungku, ia mencabut rencong di pinggang dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya yang tertembak mengoper senapan yang dipegangnya itu kepada istrinya, yang kini merupakan pelindung, sekaligus berikan pengorbanan terhadap sang suami, berdiri tepat di depan suaminya; suatu ungkapan tauladan nan agung serta cinta bakti yang tinggi.

Demikianlah, wanita itu tegak berdiri di depan suaminya, dan sebuah peluru bersuratan nasib kini meluncur, menembus tubuh wanita itu, kemudian menembus pula tubuh suaminya. Kedua mereka rebahlah dengan seketika, dan tidak lama setelah suaminya tewas, gugur pulalah wanita itu. Akhir hayat yang bagi kedua mereka berarti “syahid”, kiranya telah memberikan rasa kebahagiaan yang tak dapat diduga oleh siapa pun betapa besar artinya.

HC Zentrgraaff seorang wartawan perang Belanda yang pernah terlibat dalam perang Aceh itu, sangat mengagumi kiprah perempuan Aceh dalam peperangan. Orang-orang Aceh, tulis Zentgraaff, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali, untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara para pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa. wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati.

Bahkan, mereka pun melampaui kaum lelaki Aceh yang sudah dikenal bukan sebagai lelaki yang lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka. Mereka memerima hak azasinya di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka di antara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama – sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya, dan dalam tangannya yang mungil itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di Jalan Allah mereka menolak segala macam kompromi …. ”

Kemudian Zentgraaff menulis, “dan adakah bangsa di muka bumi ini yang tidak akan menuliskan kejatuhan tokoh-tokoh heroik tersebut dengan rasa apresiasi yang begitu tinggi dalam buku sejarahnya?”

ujian yang sama juga disampaikan A. Doup dalam buku besar sejarah marsose di Aceh, Gedenkboek van het Korp Marechaussee 1890-1940. Dalam versi bahasa Inggris tertulis:

“Kepahlawaan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya seperti yang diperagakan selama perang Aceh, menimbulkan rasa hormat di pihak marsose, serta kekaguman akan keberanian, kerelaan gugur di medan tempur, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat yang sejati, sementara daya pengamatanya sangat tajam. la mengamat-amati setiap gerak pemimpin brigade dan ia tahu benar yang mana melakukan patroli dengan ceroboh, serta yang mana pula yang siap siaga dan berbaris teratur.”

 

Copy & edited dari @Aris faisal djamil

Popular Posts

My Favorites

Babinsa Kuta Timu Dampingi Petani Siapkan Lahan Demplot Padi Gogo, Dorong...

0
MEDIANAD.COM, SABANG  – Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional, Babinsa Gampong Kuta Timu Koramil 02/Sukakarya Kodim 0112/Sabang, Serma Sutrisno, terjun langsung mendampingi kelompok...