Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat: Biaya Perang Itu Mahal. Biaya Merawat Perdamaian Lebih Mahal

MEDIANAD.COM, BANDA ACEH – Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Mengecam pernyataan anggota DPR RI Benny K. Harman yang kembali menyeret-nyeret isu Aceh dan MoU Helsinki dalam rapat Badan Legislasi DPR RI.
Menurut Bang Jack, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Benny tidak memahami sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh dan konteks lahirnya perjanjian damai Memorandum of Understanding (MOU) Helsinki tersebut.
Bang Jack menjelaskan bahwa MoU Helsinki bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari peperangan dan konflik bersenjata lebih dari tiga puluh tahun atau tiga dekade lebih yang lahir akibat tuntutan keadilan rakyat Aceh kepada Republik Indonesia.
Kalau hari ini ada yang berbicara seakan-akan MoU Helsinki itu hal remeh dan tidak penting, itu artinya ia tidak memahami penderitaan dan sejarah panjang Bangsa Aceh,” tegas Bang Jack Libya dengan nada tinggi.
Kami memahami kritik-kritik terhadap efektifitas atau akuntabilitas implementasi dana Otonomi Khusus (Otsus) yg belum maksimal.
“Tetapi politisi di senayan juga harus paham bahwa kepemimpinan di Aceh juga dari Partai Nasional (Parnas). Bahkan dipuncak terbanyak dana otsus Gubernurnya dari Partai yg sama dengan Benny K Harman.”
Mantan Ajudan Pribadi Tgk Hasan Muhammad di Tiro (Hasan Tiro) mengingatkan bahwa perjanjian damai itu tersusun dengan penuh pengorbanan dan menjadi titik balik bagi stabilitas nasional saat ini.
Lebih khusus, Bang Jack menyinggung posisi Benny K Harman yang merupakan Kader Partai Demokrat, partai yang didirikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tokoh penting di balik lahirnya Memorandum of Understanding ( MoU ) Helsinki bersama Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla.
Seharusnya sebagai politisi senior partai Demokrat, beliau lebih memahami makna dan sejarah lahirnya MoU Helsinki. Itu era presiden Pak SBY yang juga pimpinan beliau sendiri di partai berlambang Mercy tersebut. Jangan sampai ketidaktahuan ini melukai hati seluruh Bangsa dan rakyat Aceh,” ujar Bang Jack Libya.
Bang Jack mengungkapkan, siapapun yang berbicara tentang Aceh harus memahami history dan fakta sejarah Aceh, bukan hanya sekedar berkomentar tanpa pengetahuan Yang mendalam “MoU Helsinki adalah fondasi kestabilan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Itu harga diri rakyat Aceh. Pernyataan yang meremehkan MoU Helsinki tidak hanya keliru, tetapi berpotensi membuka kembali luka lama. Kami meminta semua pihak menjaga sensitivitas dan menghargai sejarah penjang perjuangan Bangsa Aceh,” tutup Bang Jack Libya.(*)






















